Selasa, 29 November 2022

Manfaat Permainan Sensorial untuk Pertumbuhan yang Merata dan Menyeluruh Pada Anak

Adam&Hawa

Assalamu’alaikum Parent, selamat pagi!

Alhamdulillah pada pagi hari ini, pemabahasan kita akan masih seputar tentang bagaimana permainan sensorial pada sekolah montessori bisa memberi pengaruh yang sangat signifikan terhadap perkembangan anak-anak. Selamat membaca ๐Ÿ˜Š

Secara umum, manfaat sistem bermain sensorial membangun hubungan antar saraf di otak yang selanjutnya akan bermanfaat bagi anak ketika mereka berusaha menyelesaikan aktivitas yang kompleks. Dua orang terapis –Leah Young, CTSR dan Suzanne Messer, MS, OTR/L, menguraikan bagaimana permainan sensorial dapat membantu perkembangan anak.

Mengembangkan kemampuan berbahasa

Ketika anak-anak melakukan permainan sensorial bersama dengan sebayanya, mereka memiliki kesempatan yang tidak terbatas untuk berlatih berkomunikasi secara verbal. Kemampuan berbahasa ini berkembang secara alami selama proses bermain sensori. Messer mengungkapkan ketika seorang anak berpartisipasi dalam permainan yang melibatkan sistem sensori, mereka belajar melalui pengalaman di lingkungan mereka dan belajar macam-macam cara untuk mengomunikasikan perasaan, pendapat, ide, apa yang mereka inginkan dan butuhkan. Dengan pelibatan sistem sensori, anak akan belajar bagaimana mendeskripsikan apa yang mereka lakukan, perasaan yang dialami dan mulai berkomunikasi untuk mendeskripsikan sesuatu.

Saat kemampuan berbahasa secara verbal mereka terbentuk, ini akan menjadi fondasi yang kuat untuk bekal belajar membaca. Di satu sisi, ketika mereka aktif menggerakkan jari-jari dan tangan, ini menjadi dasar yang penting untuk mengmbangkan kemampuan berbahasa melalui tulisan.

Mengembangkan keterampilan motorik halus, kemampuan ini mencakup kemampuan-kemampuan sederhana seperti mengikat tali sepatu, menulis dan mengancingkan jaket. Jika dikaitkan dengan jenis-jenis permainan sensorial pada artikel sebelumnya, keterampilan motoric halus bisa dikembangkan melalui permainan taktil. Melalui permainan taktil yang berfokus pada membangun, menuang dan mencampur –akan membantu anak untuk menggunakan beberapa kelompok otot kecil dan mengoordinasi beberapa gerakan.

Mengembangkan keterampilan motorik kasar.

Ketika anak-anak bermain, mereka akan menyentuh dan menggerakkan sebagai bentuk aktivitas eksplorasi terhadap bentuk dan tekstur benda-benda di sekitar mereka. Ketika melakukan aktivitas memutar, menuang, dan menjepit, mereka berlatih dan menyempurnakan kerja otot-oto kecil –terutama jari-jari dan tangan. Ketika melakukan aktivitas-aktivitas yang cenderung melibatkan banyak gerakan kompleks seperti merangkak, melompat, menendang, memanjat, dan berlari –di saat yang bersamaan berinteraksi dengan benda-benda seperti tangga, bola, dan properti bermain lainnya, mereka mengembangkan kemampuan otot besar di bagian lengan, kaki, betis, dan otot inti di bagian perut.

Mengembangkan kemampuan kognitif,

Aktivitas-aktivitas seperti, mengamati, bertanya, memikirkan bagaimana sesuatu berkerja, bereksperimen dan menganalisa hasil merupakan tanda-tanda yang menunjukkan pertumbuhan kognitif yang sehat pada anak. Ini berkaitan dengan mempelajari, mencari tahu hal-hal baru dan menyelesaikan masalah yang kedepannya akan membantu mengembangkan proses berpikir anak-anak.

“Melalui permainan sensori, anak-anak akan merasakan pengalaman yang berbeda dan bagaimana mencari jalan keluar dan tantangan dan masalah yang mereka temukan, seperti, bagaimana cara mengambil sesuatu dalam sebuah container atau bagaimana cara menjaga keseimbangan ketika berayun. Ungkap Messer.

Memberikan efek ‘ketenangan’

Yes, jadi jika sistem sensori digunakan dengan efektif efek positif lain yang bisa didapatkan adalah memberi suasana yang lebih tenang. Lebih lanjut, Messer menjelaskan jika permainan sensorial dapat membantu untuk mengendalikan gejolak emosi pada diri anak. Permainan sensorial dapat membantu anak yang sangat aktif dan sulit untuk memusatkan perhatian pada suatu hal. Tekanan pada sebuah pelukan, bantalan pangkuan dan kursi sensorik dapat membantu menenangkan dan memberi sinyal bahwa sudah waktunya untuk fokus.

Memacu perkembangan interaksi sosial dan emosi

Dengan melakukan permainan sensorial dengan teman atau saudara, anak-anak terbiasa untuk mulai membangun kemampuan bersosialisasi dan berbagi. Mereka akan belajar bagaimana cara berkomunikasi, menyelesaikan masalah dan berdaptasi dengan cara bermain yang berbeda yang dimiliki oleh sebaya mereka. Selain itu, mereka juga mampu membangun perasaan empati, belajar untuk melihat situasi dari sudut pandang temannya yang lain –yang dapat bermanfaat untuk menumbuhkan mindfulness atau perhatian.

Selain karena manfaatnya, permainan sensorial pada masa-masa awal perkembangan anak sangat penting karena mendorong pendidikan yang inklusif dan penerimaan. Orang dewasa memberikan panduan bermain yang aman dan baik (sesuai dengan tahapan perkembangan anak), akan memberi kebermanfaatn yang merata untuk anak-anak, walaupun mereka memiliki perbedaan kondisi, seperti perbedaan bahas atau berkebutuhan khusus.

Lumayan panjang juga ya pembahasan kali ini, tapi Insyaallah esensinya dapat ya Parent. Jangan bosa-bosan mampir ke blog AdamHawa, karena di sini Parent akan mendapat banyak informasi bermanfaat tentang dunia anak-anak.

See you on other sections –sampai jumpa di sesi selanjutnya!

Wassalam!


Rabu, 23 November 2022

Permainan Sensorial pada Sekolah Montessori

Adam&Hawa

 Assalamu’alaikum Parent!

Di rabu sore ceria kali ini pembahasan sesi ParentHarusTahu masih berkaitan dengan sistem sensori pada anak. Kali ini AdamHawa akan coba bahas lebih mendalam lagi tentang manfaat mengenalkan aktivitas bermain yang dapat merangsang sensorial bermain pada anak. Langsung di simak ya.

Apakah semua aktivitas bermain yang dilakukan anak dapat merangsang sistem sensori mereka? Jawabannya iya jika aktivitas tersebut melibatkan kelima sistem sensori anak. Memang apa sih manfaatnya aktivitas bermain yang melibatkan sistem sensori dengan yang cuma main ala kadarnya?

Jadi begini ya Parent, permainan sensori memiliki fokus utama untuk melibatkan setiap sistem sensori pada anak dan disaat yang bersamaan membantu mengembangkan kinerja sistem sensori tersebut. Lebih lanjut, permainan sensorial dapat membantu perkembangan kemampuan kognitif, kemampuan bahasa dan juga skill motorik –yang nantinya dapat membantu proses belajar mereka di masa depan dan membangun karakter personal dan interpersonal Permainan sensorial juga meningkatkan kemampuan berinteraksi dan menumbuhkan ketertarikan anak-anak terhadap hal-hal baru di sekitarnya.

Dan, dibalik itu permainan sensorial ternyata juga mampu megembangkan dua sistem sensori yang sepertinya kurang mendapat perhatian, yaitu proprioseptif dan vestibular. Nah lho apa lagi dah ini.

Pada artikel sebelumnya sempat dibahas bahwa ada yang namanya sensori integrasi yang merupakan proses mengenal, mengubah dan membedakan sensasi dari sistem sensori untuk menghasilkan suatu respon berupa ‘perilaku adaptif bertujuan’. Peristiwa sensori integrasi menggabungkan berbagai informasi dari gabungan indera-indera manusia menjadi sebuah informasi yang utuh. Nah, informasi inilah yang lebih lanjut akan dibantu ‘diterjemahkan’ oleh sensori proprioseptif (gerakan) dan vestibular (keseimbangan) dalam bentuk respon yang paling sesuai.

Indera proprioseptif terkait dengan respon berupa gerakan.  Indera ini akan membangun kesadaran di dalam tubuh anak dan membentu mereka untuk mengetahui bagian-bagian tubuh yang saling berkaitan satu sama lain dan memberi informasi tentang seberapa besar ‘kekuatan’ yang dikerahkan untuk melakukan respon memegang, mendorong, menarik dan mengangkat. Sedangkan indera vestibular berkaitan dengan keseimbangan yang akan membantu anak menjaga keseimbangan ketika mulai berkesplorasi dengan berbagai aktivitas. 

Berikut adalah penjelasan singkat dari beberapa tipe permainan sensorial pada sebuah kurikulum sekolah montessori.

Visual, anak belajar hal baru melalui penglihatan mereka. Pada sekolah montessori, benda-benda yang dilihat oleh anak lebih lanjut didasarkan pada beberapa hal seperti berdasarkan dimensi (ukuran, panjang, lebar dan kedalaman) dari suatu objek, warma dan juga bentuk.

Taktil, area permainan ini berkaitan dengan seluruh kegiatan yang melibatkan indera peraba. Melalui sentuhan, anak-anak akan belajar perbedaan tekstur dari setiap benda, mempertajam kepekaan dan pemahaman mereka terhadap lingkungan sekitar. Pada satu kesempatan anak-anak akan bermain untuk mengelompokkan benda-benda yang berbahan sama dengan mata tertutup. Dalam permainan sejenis ini, anak-anak akan mengandalkan indera peraba mereka dan ketika berhasil menyelesaikannya maka tumbuh perasaan bangga terhadap suatu pencapaian.

Baric work, permainan yang berkaitan dengan tekanan dan berat untuk pengembangan kemampuan berpikir kritis dan pemahaman terhadap objek di sekitar mereka.

Thermic work, permainan yang berhubungan dengan suhu, membantu anak agar mampu membedakan suhu benda.

Auditory work, permainan yang berkaitan dengan bagaimana anak membangun persepsi dan membedakan satu suara dengan suara lainnya

Olfactory work, berfokus pada indera pencium yang membantu anak untuk membedakan bebauan.

Gustatory work, jenis permainan yang dapat membantu anak untuk membedakan dan mengetahui bagaimana sesuatu dapat memiliki rasa yang berbeda.

Practical life, permainan yang membantu anak untuk menjadi lebih mandiri untuk menyelesaikan tugas rumah yang sederhana.

Sensorial, permainan untuk melatih kelima sistem indera anak, yaitu pendengaran, penglihatan, peraba, penciuman, dan pengecap.


Maths, permainan yang secara umum membantu kemampuan matematika anak, mengenalkan matematika dengan cara yang menarik dan menjadi seusatu yang ingin mereka pelajari.


Language, adalah kemampuan yang ternyata perkembangannya sudah dimulai sejak lahir. Dr. Maria Montessori menjelaskan jika pada usia enam tahun, anak-anak berada pada tahap ‘penyerap’. Mereka akan menyerap berbagai bahasa yang mereka dengan di lingkungannya.

Cultural, pada umumnya pelajarn kultural pada sekolah montesori terdiri atas lima yaitu bertanam, beternak, geografi, sejarah, musik, seni dan ilmu umum.

Semoga dengan pembahasan kali ini, bisa menjawab pertanyaan Parent terkait dengan bagaimana anak-anak di sekolah montesori bisa mengembangkan kemampuan yang mereka miliki secara maksimal dan efektif, AdamHawa akan kembali lagi dengan pembahasan yang masih terkait dengan permainan sensorial di sesi ParentHarusTahu selanjutnya.

Sampai jumpa.

Wassalam!

Selasa, 22 November 2022

Kemampuan Sensori Anak. Maksudnya Apa sih?

Adam&Hawa

Assalamu’alaikum Parent!

Artikel untuk sesi ParentHarusTahu kali ini benar-benar akan memberi informasi yang tentunya tidak kalah bermanfaatnya dengan artikel0artikel sebelumnya :D

Untuk Parent yang sudah mendaftarkan anaknya di Sekolah Montessori Islam Adam Hawa pasti sudah tidak asing lagi nih dengan istilah sensori. Bagi yang belum paham, disimak baik-baik ya artikel di bawah.

Happy reading!

Momen ketika anak dilahirkan, mereka secara konsisten akan menggunakan sistem sensori yang mereka miliki untuk mengeksplor dan mengetahui hal-hal yang terjadi di sekitar mereka. Mereka akan menyerap informasi di sekitar melalui organ-organ sensori mereka, seperti mata dan telinga. Yups, jadi sebenarnya yang di maksud dengan sistem sensori disini adalah kelima panca indera yang dimiliki manusia pada umumnya, yaitu sistem visual (penglihatan), sistem auditory (pendengaran), sistem somatosensory (perabaan), dan sistem gustatory (pengecapan).

Perkembangan sistem sensori pada anak sangatlah penting, secara keseluruhan proses perkembangan ini akan menunjang proses belajar anak untuk mengenal lingkungan sekitarnya. Berdasarkan pengarang buku “The Young Child in Context: A Psycho-Social-Perspective” –Marike de Witt, bayi mulai memberi respon terhadap rangsangan sejak mereka lahir. Walaupun tahap perkembangannya belum sempurna, bayi akan memberikan respon seperti memutar kepala mereka kepada sumber suara, menatap benda-benda sekitar mereka dan merasakan tangan dan kaki mereka dengan sentuhan.

Di awal perkembangan sistem sensori ini, anak akan mulai mengakrabkan diri dengan Interaksi yang umumnya terjadi di lingkungan sekitar mereka, seperti suara bercakap-cakap anggota keluarga. Selanjutnya mereka akan mulai membangun koordinasi antara mata dan tangan dan menggunakan tangan mereka untuk menyentuh apa yang mereka lihat. Selanjutnya mereka akan melakukan eksplorasi menggunakan mata-tangan-mulut dengan meletakkan benda-benda ke mulut mereka –yang keseluruhan proses ini akan merangsang perkembangan sistem pengecapan.

Setelah melalui beberapa saat, ketajaman penglihatan mereka mulai terbangun, membuat mereka mampu untuk bergerak tanpa terjatuh ketika menaiki tangga atau berjalan di antara barang-barang. De Witt menambahkan bahwa walaupun sistem sensori ini berkembangan secara terpisah, namun di akhir tahun pertama anak akan memasuki proses integrasi sensori yang artinya mereka akan mampu memproses beberapa tipe informasi sekaligus, terutama penglihatan dan pendengaran.

Anak yang memiliki perkembangan sistem sensori yang sehat akan memberikan pengaruh yang signifikan ketika mereka mulai masuk usia sekolah. Perkembangan sensori anak dijadikan acuan untuk memonitor keseluruhan tahap perkembangan anak. Misalnya, ketika anak tidak memperlihatkan progress yang baik dalam hal kebiasaan dan perkembangan fisik yang seharusnya terjadi di usia mereka, bisa jadi merupakan indikasi bahwa anak memiliki masalah dalam memproses dan mengerti lingkungan yang baru mereka temui. Itulah mengapa penting untuk memperhatikan kurikulum yang dimiliki sekolah, karena perkembangan sistem sensori anak ‘seharusnya’ akan semakin terangsang ketika mulai bersekolah karena jangkauan eksplorasi yang semakin luas.

Berikut adalah beberapa aktifitas yang dapat memacu perkembangan sensori bergantung umur anak

Bayi, memperlihatkan gelembung yang ditiup ke udara dan membuat kontak langsung, misalnya menyentuh, meremas kertas untuk merangsang sistem peraba dan suara.

Photo by Kai Dahms on Unsplash

Balita, memperlihatkan bayangan di dinding yang dibuat melalui senter, observasi warna dan pola melalui aktivitas melukis dengan langsung dengan tangan.

Photo by Ana Klipper on Unsplash

Pre-school, bermain dengan pasir atau tanah untuk membuat bentuk dan merasakan beragam tekstur, bermain alat musik untuk membedakan suara dan nada dan berekplorasi dengan bangun ruang.

kelas Sensorial di Sekolah Montessori Islam Adam Hawa

Perkembangan sistem sensori akan membantu anak untuk membedakan warna, tekstur, bunyi dan rangsangan lainnya yang nantinya akan membantu mereka ketika mulai memasuki masa usia sekolah tingkat lanjut. Keseluruhan proses belajar melalui perkembangan sistem sensori ini lebih lanjut akan membantu mereka untuk bermain dengan aman dan berinteraksi dengan sekitar dan juga membantu perkembangan otak mereka.

Masyaallah, lumayan panjang juga ya bahasan kali ini Parent. Semoga tidak jadi penyebab untuk berhenti main ke blog Adam Hawa ๐Ÿ˜Š karena disini Parent akan menemukan banyak tips dan informasi mengenai tumbuh kembang anak.

Sampai jumpa di sesi ParentHarusTahu lainnya ya Parent

Wassalam!

 


Rabu, 16 November 2022

Empat Tips untuk Mengetahui Minat dan Ketertarikan Anak (part 2)

Adam&Hawa

 Assalamu’alaikum, Parent!

#ParentTips kali ini masih merupakan kelanjutan dari pembahasan artikel sebelumnya terkait bagaimana mengetahui minat anak. Langsung saja ya Parent.

3.    Sabar dan Dengarkan Pendapat Anak

Setelah mengamati dan mengumpulkan informasi, hal selanjutnya yang bisa Parent lakukan adalah mendengarkan pendapat mereka. Dalam melakukan ini, Parent sebaiknya lebih bersabar karena setiap anak memiliki cara yang berbeda dalam menyampaikan pendapat, biasanya hal ini ditentukan juga dengan kepribadian anak.

Ada tipe anak yang nyaman mengutarakan pendapat mereka secara langsung dan blak-blakan namun ada juga anak yang mungkin sedikit lebih pemalu dan berhati-hati dalam mengungkapkan apa yang menjadi ketertarikannya. Disinilah peran Parent untuk berinisiatif bertanya lebih dulu. Lebih tepatnya, Parent akan memvalidasi dan memastikan bahwa informasi yang telah dikumpulkan sepanjang pengamatan sudah benar adanya merupakan ketertarikan betul yang dimiliki oleh anak. Bangun komunikasi yang baik dan tanyakan pendapat mereka apa benar mereka menyukai kegiatan tersebut?

4.    Menyediakan media dan kesempatan

Sampai pada tahap ini, diharapkan Parent telah mengetahui secara jelas ketertarikan dan minat anak terhadap apa dan berusaha memberikan mereka ruang dan kesempatan untuk semakin mengeksplor ketertarikan tersebut. Hal ini bisa dilakukan dengan beberapa cara seperti mendaftarkan mereka pada kelas sesuai dengan minat mereka. Jika mereka punya minat dan ketertarikan untuk menggambar maka Parent bisa coba untuk mendaftarkan mereka pada kelas khusus menggambar. Namun, sebelum mendaftarkan, ada baiknya jika Parent sekali lagi melakukan konfirmasi langsung ke anak ya. Tanyakan apakah mereka benar-benar menginginkan hal tersebut.


Ada kalanya anak merasa ragu untuk menunjukkan ketertarikan mereka terhadap sesuatu di depan orang banyak. Jika seperti ini, Parent tetap bisa kok memfasilitasi minat mereka selain mengikutkan mereka di kelas belajar secara langsung. Misalnya dengan menyediakan medianya langsung di rumah sendiri. Jika dirasa sudah cukup lama, Parent boleh bertanya kembali ke anak apakah mereka tertarik untuk bertemu dengan teman-teman lainnya yang memiliki ketertarikan yang sama. Bertemu dengan kawan dengan minat yang sama bisa membantu anak untuk lebih percaya diri dalam melakukan hal yang menjadi ketertarikan mereka.

Point penting lainnya adalah jangan mendesak anak. Ketika mereka ragu dan merasa tidak nyaman untuk menunjukkan ketertarikan mereka terhadap sesuatu, peran Parent adalah memberikan afirmasi positif untuk berani mencoba agar perlahan perasaan ragu yang mereka miliki perlahan bisa mereka atasi.

Okay, that’s a wrap!

Sampai jumpa di sesi #ParentTips lainnya ya Parent.

Wassalam!  

Senin, 14 November 2022

Empat Tips untuk Mengetahui Minat dan Ketertarikan Anak (part 1)

Adam&Hawa

Assalamu'alaikum Parent!

Alhamdulillah, semoga dalam keadaan sehat ya semua๐Ÿ˜Š

Pada sesi #ParentTips hari senin ini, AdamHawa akan membagikan tips seputar bagaimana mencari tahu minat yang dimiliki anak-anak. Disimak ya!

Mengetahui minat anak sejak dini penting dilakukan oleh orang tua agar kita bisa mengenali letak kekuatan dan kelebihan mereka. Selanjutnya, dengan mengetahui hal ini kita bisa membantu mereka untuk membangun kesadaran dan kepercayaan diri atas potensi dan kelebihan yang mereka miliki. Selain itu, dengan mengetahui minat anak sejak dini, mereka bisa mempersiapkan diri mereka sendiri ketika memasuki masa usia sekolah dengan memilih aktivitas yang sesuai dengan minat mereka.

Langsung saja ya Parent, berikut adalah tips bagaimana mengetahui minat anak-anak.

1.          Amati bagaimana mereka bermain

Photo by Sigmund on Unsplash

Anak terlahir secara alamiah dengan memiliki jiwa bertualang dan imajinatif. Permainan yang biasa mereka mainkan yang kita saksikan setiap hari merupakan cara mereka bercerita dan memyalurkan imajjinasi tak terbatas yang mereka miliki. Melalui pengamatan dan beberapa perlakuan yang dilakukan secara tepat dapat membantu orang tua untuk jeli dalam menemukan minat dan ketertarikan anak-anak terhadap suatu hal.

Cooking class di Adam Hawa

Ada banyak macam cara yang bisa dilakukan untuk mengamati anak-anak ketika mereka bermain. Pointnya adalah untuk mengumpulkan informasi yang lengkap agar perlakukan yang diberikan juga tepat. Berikut beberapa cara yang bisa dicoba.

-  Daftar aktivitas ketertarikan (Interest activity checklist), buatlah semacam daftar kegiatan kegiatan yang pada umumnya diminati dan disukai anak-anak. Ini berguna untuk mengetahui kekuatan dan skill yang mereka miliki. Cobalah untuk memasukkan informasi yang detail. Semakin detail akan semakin baik.

-   Dokumentasi kegiatan harian (Documenting), ini bisa dibilang sebagai portofolio anak-anak. Bisa berupa foto dan video yang merekam momen anak ketika mereka bermain.

-  Catatan peristiwa (Anecdotal Records), atau catatan yang merangkum berbagai peristiwa (event) yang telah dilewati anak-anak dimasa lampau. Dengan menggunakan teknik ini dapat diketahui kebiasaan dan bagaimana anak merespon peristiwa atau pengalaman belajar yang mereka lewati.

-   Catatan belajar (Learning stories), atau menuangkan pengalaman, keputusan yang dibuat oleh anak, juga dampak dari keputusan tersebut selama proses bermain mereka dalam sebuah cerita pendek.

2.          Catat!

Selain melakukan observasi, hal yang tidak kalah penting adalah mencatat. Yups, jadi bukan cuma anak sekolah ya yang punya kewajiban mencatat Parent, orang tua pun sebaiknya tidak meninggalkan kebiasaan ini walaupun sudah berganti peran sebagai orang tua.

Photo by Green Chameleon on Unsplash

Orang tua memiliki banyak kesibukan, apalagi mereka yang tetap memilih berkarir setelah memiliki anak. Oleh karenanya, untuk menghindari ‘lupa’ penting sekali untuk menyiapkan satu buku catatan atau bisa juga memanfaatkan fitur catatan pada gawai untuk menulis hasil pengamatan dan juga minat yang ditunjukkan oleh anak-anak. Parent bisa memulai dengan membuat daftar pertanyaan sederhana seperti tentang apa yang disukai dan yang tidak disukai oleh anak-anak. Beberapa contoh pertanyaannya adalah:

-       Apa yang membuat anak-anak tertawa atau tersenyum?

-       Apa hal yang menyita perhatian mereka?

-       Apa yang membuat mereka merasa senang?

-       Apa yang membuat mereka mau mencoba hal baru?

-       Apa kegiatan yang paling sering mereka lakukan?

-       Apa kegiatan yang bisa memicu kerja keras mereka?

Setelah mengumpulkan informasi yang cukup lengkap, Parent akan memperhatikan jika minat anak bisa dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu yang sifatnya personal dan situational. Ketertarikan yang sifatnya personal mencakup hal-hal umum seperti, hal dan aktifitas yang mereka sukai. Sedangkan situational interest lebih kepada sebuah peristiwa, event atau aktivitas yang menarik minat mereka secara alami untuk turut berpartisipasi. Dengan mencatat hal detail terkait kedua hal ini, Parent akan lebih mudah dalam memberikan respon dan perlakuan yang sesuai terhadap apa yang disukai dan yang tidak disukai oleh anak-anak.

Sekian dulu ya Parent untuk tipsnya, bagian kedua akan berlanjut pada sesi #ParenTips selanjutnya. Sampai jumpa!

Wassalam

Rabu, 09 November 2022

Tiga Cara Efektif dan Mudah untuk Mengimbangi 'Keaktifan' Si Kecil

Adam&Hawa

Assalamu'alaikum Parent! Semoga dalam keadaan sehat ya ๐Ÿ˜‡

Di sesi ParentHarusTahu kemarin sempat di bahas kan kalau gerakan aktif pada anak-anak adalah manifestasi dari sikap keingintahuan mereka terhadap sesuatu yang ada di sekililing mereka dan sebaiknya, peran orangtua tidak lantas membatasi keingintahuan tersebut. 

Tapi kadang-kadang (sering) kita sebagai orang tua tidak bisa mengimbangi keaktifan mereka. Anaknya seperti tidak ada capeknya, maunya main terus, eksplor ini itu, berantakin rumah *ups. Tapi kalau dilarang kasihan juga, apalagi kemarin sudah baca blog AdamHawa kan ya, kalau membatasi ruang gerak anak dalam bermain bisa menghambat proses tumbuh kembang mereka.

Hmm, jadi serba salah nih.  

Alhamdulillah, cheer up, Parent! pada sesi ParentTips kali ini, AdamHawa ingin membagikan tips bagaimana cara sederhana untuk 'berdamai' dengan keaktifan si kecil. Berikut tips-tipsnya, disimak ya!

1. Sediakan jadwal dan tempat

Atur jadwal khusus agar anak dapat menyalurkan keaktifan mereka secara efektif. Idealnya untuk melakukan aktivitas di luar ruangan, bisa di halaman rumah atau taman perumahan atau kota yang memiliki fasilitas bermain untuk anak. Jadwal yang paling bagus biasanya pada pagi hari atau sore hari. Dilansir dari laman theeducatorsspinonit.com salah seorang orangtua mengaku bahwa anak-anak mereka bisa menghabiskan waktu di luar rumah selama 4-6 jam sehari jika cuaca sedang tidak hujan.  Jika di musim hujan, Parent tetap bisa mendukung keaktifan mereka di dalam rumah dengan menyiapkan satu ruangan yang difungsikan khusus untuk ruang bermain.

2. Eksplor minat anak

Ketika sedang menemani mereka bermain, Parent jangan sibuk bermain hp ya, tapi perhatikan dan amati aktifitas yang dipilih oleh anak untuk menyalurkan energi mereka. Walaupun mungkin sama-sama aktif tapi mereka memiliki cara masing-masing untuk mengekspresikan keaktifan mereka. Dari sini, Parent selanjutnya bisa menyediakan jenis aktifitas yang sesuai dengan minat anak. Jadi kesannya tidak asal 'aktif' bergerak kesana kemari, tapi juga membantu membangun fokus mereka terhadap aktifitas yang mereka pilih.

Ada kalanya kalau Parent tidak mampu membersamai anak karena satu dan lain hal. Jadi alternatifnya, menjelang waktu tidur, Parent bisa nih bertanya, mengajak anak bercerita mengenai kegiatan apa saja yang dilakukan mereka selama seharian ini, terutama bagi anak-anak yang terdaftar di daycare atau sudah masuk usia sekolah taman kanak-kanak maupun sekolah dasar.  

3. Salurkan keaktifan

Ajari anak untuk menyalurkan keaktifan mereka selain melalui bermain, misalnya dengan cara memberinya kesempatan untuk membereskan kembali mainan yang telah dipakainya bermain ke tempatnya semula. Selain itu bisa juga dengan mengajak anak-anak untuk membantu membuat cemilan sederhana dan membagikannya untuk orang-orang di rumah. Parent bisa menggunakan peralatan makan yang tidak berbahaya apabila tanpa disengaja dijatuhkan oleh anak.

Alternatif lainnya adalah ketika Parent sudah bisa menebak potensi 'keaktifan' anak biasanya disalurkan pada kegiatan apa, Parent bisa mendaftarkan anak-anak pada satu kelas. Misal, si kecil punya hobi corat coret dinding, Parent bisa mendaftarkan si kecil pada kelas menggambar dan mewarnai. Pastinya, sebelum memutuskan untuk mendaftarkan, pastikan Parent tanyakan dulu kesediaan anak ya, apakah memang tertarik untuk mengikuti kelas tersebut. 

Tentunya ketiga tips di atas bisa disesuaikan dengan kondisi Parent dan anak-anak di rumah ya dan juga untuk bagian eksplorasi minat anak dibutuhkan kesabaran karena umumnya tidak bisa langsung ditemukan dalam jangka waktu sehari dua hari.

Bagaimana mudah bukan, Parent? Selamat mencoba ya ๐Ÿ’ช

Sampai jumpa di sesi selanjutnya.

Wassalam!

  


 

Senin, 07 November 2022

Sekolah Montessori? Apa sih bedanya dengan Sekolah Umum?

Adam&Hawa

Assalamu’alaikum Parent!

Ayah Bunda sudah tahu belum sih apa itu sekolah Montessori? Apa sih bedanya dengan sekolah pada umumnya? Pada edisi ParentHarusTau kali ini, kita akan bahas secara umum perbedaan antara sekolah montessori dengan sekolah konvensional. Di simak ya, Parent.

Jadi Montessori sendiri sebenarnya adalah nama seorang dokter dan antropolog asal Italia, lebih lengkapnya beliau adalah Maria Montessori. Berdasarkan pengamatan seksama terhadap perilaku anak-anak didiknya, Montessori berkesimpulan bahwa di dalam tubuh anak pada dasarnya tersimpan semangat belajar yang luar biasa.

Nah, Parent pernah tidak bertanya kenapa sih anak usia dini cenderung sangat aktif, banyak gerak kesana-kemari, menyentuh ini itu, atau kalau kata Bunda di rumah kerjaannya bikin rumah berantakan melulu? ๐Ÿ˜‚

Menurut Montessori, perilaku anak yang berlarian kesana kemari, menyentuh, memegang, mengamati, bahkan merusak benda-benda yang menarik baginya, sebenarnya merupakan gaya belajar mereka yang khas. Selain itu, menurut Montessori, anak mendapatkan kepuasan dalam proses pencariannya bila mereka diberi kebebasan untuk memilih aktivitasnya sendiri dan melakukan sesuatunya sendiri.

Jadi ini nih Parent perbedaan yang paling mendasar antara sekolah yang biasa kita kenal sehari-hari dengan sekolah montessori. Jika pada sistem pendidikan di sekolah konvensional, segala sesuatunya seakan berpusat pada tenaga pendidik dan metode pengajaran yang digunakan, namun pada sekolah montessori yang menjadi pusat dari pendidikan adalah ‘peserta didik’ itu sendiri. Kurikulum yang digunakan pada sekolah montessori berorientasi pada siswa. Siswa diberikan kebebasan untuk tumbuh, berkembang dan belajar sesuai dengan tahap perkembangannya. Kebebasan diartikan sebagai pemberian ruang kepada anak untuk dapat memilih aktivitas belajar yang mereka inginkan tanpa adanya tekanan dan paksaan dari siapapun.

Gbr 1. Kegiatan outing - Market Day


Gbr 2. Aktivitas pembelajaran Montessori

Perbedaan yang juga terlihat mencolok adalah jika pada sekolah konvensional untuk tingkat PAUD, anak-anak akan belajar dengan duduk rapi dan teratur dalam sebuah kelas, maka Parent akan menemukan kalau anak-anak pada sekolah montessori pada umumnya belajar dengan gaya ‘lesehan’ disertai berbagai material montessori di dalam ruangan lengkap dengan alam terbuka seperti taman bermain dan green house.


Gbr 3. Kegiatan memanen sayuran di greenhouse


Gbr 4.  Kegiatan memanen sayuran di greenhouse


Gbr 5. Alat belajar dan bermain ala montessori
di Sekolah Islam Montessori Adam Hawa

Metode pendidikan Montessori yang menekankan akan pentingnya kebebasan inilah yang merupakan kunci dari optimalnya perkembangan anak dengan memberikan ruang yang bebas dan terbuka bagi anak untuk mengembangkan diri dan bereksplorasi. Jika anak di hadapkan pada lingkungan yang tepat, dan memberikan peluang kepada mereka unuk secara bebas merespon secara individual terhadap lingkungan tersebut, maka pertumbuhan alami anak terbuka dalam kehidupan mereka.

Jadi gimana Parent sudah paham perbedaannya? Kalau masih bingung, Parent jangan ragu ya untuk bertanya di kolom komentar!

Sampai jumpa di sesi ParentHarusTau!

Wassalam!