Senin, 26 Desember 2022

Parent Wajib Tahu! Tips Membentuk Akhlak dan Kebiasaan Baik Pada Anak (Bagian 2)

Adam&Hawa

 Assalamu’alaikum, Parent! Selamat pagi~๐Ÿ˜Š

Artikel untuk sesi #ParenTips hari ini, AdamHawa akan melanjutkan kembali tips tentang bagaimana membantu anak agar memiliki perikaku dan sikap berbudi luhur. Oke, langsung cekidot Parent!

Salah satu tips yang diberikan oleh Dr. Feyrad dalam rangka membentuk kepribadian anak yang berbudi luhur salah satunya adalah dengan membuat ‘kesepakatan’. Namun, adalakanya ketika anak menolak untuk bekerjasama. Walaupun di awal mereka menyetujui aturan-aturan yang telah disepakati, ada saat ketika mereka mungkin akan menolak untuk mematuhi kesepakatan bersama yang telah Parent buat. Lantas, apa yang bisa Parent lakukan?

Masih menyambung dari saran yang diberikan oleh Dr. Feyrad, hal penting yang harus Parent lakukan adalah tetap konsisten memegang apa yang telah disepakati, termasuk dalam hal pemberian reward (penghargaan atau hadiah) dan punishment (hukuman). Ketika anak-anak melanggar aturan dan kesepakatan yang telah dibuat, ayah dan ibu sebaiknya tetap memberikan respon yang konsisten terhadap perilaku yang dilakukan anak-anak. Salah satu cara yang bisa dilakukan ketika anak-anak mengulangi perbuatan buruknya –yang dengan lantang menunjukkan sikap yang tidak lagi menyukai kesepakatan yang kita buat, Parent bisa mencoba menyediakan satu ruangan atau sudut rumah yang bisa digunakan sebagai tempat anak melakukan refleksi atas perbuatan yang mereka lakukan. Ketika anak mulai ‘bertingkah’ Parent membawa anak masuk ke dalam ruangan tersebut tanpa disertai komunikasi. Biarkan anak menghabiskan waktu selama 10 – 15 menit sendirian untuk merenungi perbuatan mereka. Perlahan anak akan membangun kesadaran jika mereka melakukan perbuatan yang tidak baik itu berarti akan ada sebuah ‘akibat’ yang akan mereka dapatkan.

Pada awalnya, anak mungkin –sekali lagi akan menolak, memberontak, menunjukkan sikap tidak ramah, dan merasa sedih. Namun, sebenarnya ini adalah sikap yang wajar ditunjukkan oleh anak-anak ketika mereka dihadapkan pada sesuatu yang tidak nyaman –yang salah satu tujuannya adalah membuat Parent merasa tidak nyaman dan merasa bersalah. Namun, sepanjang mereka tidak berada dalam kondisi yang membahayakan mereka secara fisik, maka Parent harus tetap teguh dan konsisten.

Jika Parent berusaha untuk menjelaskan dengan hubungan bahwa tidak seharusnya seorang anak muslim berkelakuan buruk, alasan tersebut mungkin terlalu rumit untuk bisa mereka pahami. Oleh karenanya hal yang bisa Parent lakukan selanjutnya adalah menunjukkan manfaat –hubungan antara menjadi seorang muslim dan berkelakukan baik dan bagaimana hal tersebut berkaitan dengan diri mereka. Untuk melakukan hal ini, Parent perlu menjelaskannya dengan jelas. Parent bisa menjelaskan hal ini dengan menghubungkan langsung dengan diri anak-anak dengan menggunakan beberapa alternatif pilihan kalimat dibawah ini:

Satu lagi tips yang Parent bisa coba adalah meminta anak untuk mengulang apa yang mereka pahami dari percakapan yang Parent lakukan dengan mereka. Hal ini memberi penegasan dan membantu anak bahwa mereka mengingat apa yang mereka janjikan dan memberikan validasi ke Parent sendiri bahwa anak-anak paham dan mengerti apa yang Parent inginkan dari mereka.

Ada banyak anak-anak diluar sana, khususnya mereka yang berada di wilayah konflik seperti Palestina, Suriah, dan negara lainnya yang tidak bisa menikmati masa kecil mereka dengan bebas. Mereka terpaksa harus tumbuh lebih cepat dan menanggung tanggung jawab sebagai orang dewasa sebelum waktunya. Oleh karenanya, walaupun Parent memiliki tujuan baik untuk membentuk anak tumbuh menjadi pribadi yang berbudi pekerti luhur, Parent juga tidak boleh terlalu membebani anak. Penting untuk Parent perhatikan jika anak-anak juga memerlukan waktu untuk istirahat dan bermain dengan teman sebayanya. Akan ada waktu yang tepat ketika mereka belajar dan memahami dengan baik tentang bagaimana seharusnya bersikap sebagai seorang muslim dan muslimah. Jangan mendorong mereka terlalu cepat dan melupakan fakta bahwa di umur mereka saat ini –mereka membutuhkan cinta, kasih sayang, dan rasa peduli. Jadi Parent harus pastikan ya, selain membantu anak untuk tumbuh menjadi versi terbaik dari diri mereka, pastikan juga mereka memiliki waktu untuk menikmati masa kecil mereka dengan suka cita ๐Ÿ˜Š

Menutup tips yang dibagikan oleh Dr. Feyrad, menjadi orangtua adalah peran yang sesungguhnya tidak mudah. Parent akan melewati berbagai macam trial and error dalam prosesnya, namun jangan pernah dianggap sebagai beban ya Parent! Hal yang senantiasa diingat bahwa Parentlah yang telah memilih dan dengan berani mengambil amanah yang diberikan oleh Allah untuk melahirkan dan membesarkan anak. Jalani setiap prsoes membersamai anak dengan sabar, penuh sukacita, tekad dan konsistensi. Insyaallah, Allah sebaik-baik pemberi balasan atas setiap kerja keras yang telah Parent curahkan dalam merawat anak.

Alhamdulillah, that’s the wrap! Terimkasih ya Parent sudah mampir di blog AdamHawa, blog dengan segudang informasi dan tips seputar anak dan parenting.

Sampai jumpa di artikel selanjutnya ๐Ÿ˜Š

Wassalam!

Kamis, 22 Desember 2022

Parent Wajib Tahu! Tips Membentuk Akhlak dan Kebiasaan Baik Pada Anak (Bagian 1)

Adam&Hawa

 Assalamu’alaikum, Parent! ๐Ÿ˜Š

Di sesi #ParenTips kali ini, AdamHawa akan membagikan tips tentang bagaimana membantu anak agar memiliki perikaku dan sikap berbudi luhur. Langsung di simak ya Parent!

Setiap orangtua menginginkan anaknya untuk memiliki perilaku yang baik, sopan dan santun. Setiap orangtua pasti ingin memiliki anak dengan sikap yang baik –yang mengatakan ‘tolong’ dan ‘terima kasih’—ketika diberitahu demikian, tidak membuat masalah di sekolah ataupun mengganggu teman-temannya. Namun faktanya, banyak orangtua yang beranggapan jika membesarkan anak untuk memiliki perilaku yang baik dan santun adalah sesuatu yang sulit.

Penyebabnya sebenarnya sangat sederhana lho Parent, itu karena kita melihat segala sesuatunya dari sudut pandang dan prioritas kita sebagai orang tua –yang pastinya untuk saat ini belum dipahami oleh anak-anak. Pada dasarnya ketika orang dewasa menegur anak-anak, orangtua seakan-akan ingin ‘menyadarkan’ anak-anak bahwa perilaku mereka tidak sesuai dengan standar dan kebutuhan kita sebagai orang dewasa. Namun bukan berarti itu karena mereka tidak ingin atau tidak menghargai apa yang Parent lakukan tetapi sesederhana karena mereka hanya seorang anak-anak yang belum mampu berbagi prinsip, nilai, tanggung jawab dan kekhawatiran yang sama dengan Parent sebagai orangtua.

Secara psikologis, anak-anak melewati berbagai tahap dalam perkembangannya. Ini terjadi terutama selama 12 tahun pertama kehidupan mereka (setelah itu perkembangan didasarkan pada pengalaman hidup dan kemampuan pribadi). Mengetahui apa arti tahapan-tahapan ini sangat membantu karena mengajarkan Parent tidak hanya apa yang harus diajarkan kepada anak-anak pada usia tertentu, tetapi juga bagaimana mengajari mereka apa yang kita ingin mereka ketahui demi kepentingan kebaikan mereka.

Namun semua anak berbeda dan beberapa anak mungkin lebih dewasa dalam hal pemikiran dan perilaku. Beberapa anak adalah tipe yang ‘taat kepada aturan’ –ketika dikatakan tidak, mereka akan menurut—namun ada juga dari mereka yang tidak. Hal utama yang menjadikan –bagaimana membimbing anak untuk berperilaku baik—sulit adalah karena prosesnya merupakan proses yang berkelanjutan dan membutuhkan usaha ekstra. Yang paling penting untuk Parent perhatikan adalah fokus terhadap tujuan utama, yaitu membentuk anak dengan perilaku yang baik daripada fokus terhadap tujuan jangka pendek, seperti berusaha menenangkan seorang anak yang sedang mengalami tantrum.

Kita coba ambil contoh ya Parent, untuk anak usia 8 tahun. Anak dengan usia antara 7 – 12 tahun akan mengalami masa perkembangan ketika mereka mulai menerapkan logika dan bukti untuk memvalidasi sesuatu. Ini berarti bahwa jika Parent menjelaskan sesuatu kepada mereka dengan cara yang logis dan jelas dengan beberapa contoh konkret mereka akan dengan mudah memahaminya.

Parent akan menemukan bahwa setelah usia 12 tahun, anak akan dapat memikirkan kehidupan dengan lebih mendalam, dengan pemahaman yang lebih spiritual dan mempertimbangkan pendapat yang berbeda dan memungkinkan mereka untuk mengubah pemikirannya. Walaupun demikian, anak mungkin masih belum mampu memahami betul apa yang Parent maksudkan.

Itulah mengapa Parent harus memahami setiap tahapan perkembangan anak-anak, karena seringkali orangtua meminta anak untuk melakukan atau mengerti sesuatu dengan menggunakan bahasa yang ‘terlalu dewasa’ untuk mereka pahami. Masayaallah, disinilah kita perlu menggunakan ajaran sunnah Rasulullah SAW yang memberitahu kita untuk menjelaskan sesuatu kepada anak-anak sesuai dengan usia mereka dan dengan cara yang dapat mereka pahami.

Selain itu, Dr. Feyrad Hussain, yang merupakan seorang doktor di bidang psikologi klinis juga menjelaskan

“Sebagai psikolog, kami menyarankan bahwa hal termudah untuk membantu anak-anak mengubah perilaku mereka adalah apa yang kami sebut 'bagan bintang'. Prinsip dasarnya adalah menunjukkan kepada anak bahwa Anda memperhatikan mereka berbuat baik dan bahwa setiap orang melihat perilaku baik mereka dan bahwa mereka akan mendapat ‘penghargaan’ untuk itu. Hal ini akan menyebabkan anak ‘ketagihan’ dengan sensasi ‘penghargaan’ yang mereka terima sehingga mereka akan mengulang perilaku baik mereka. Ini sederhana untuk diterapkan.”

Dr Feyrad menyarankan untuk memulainya dengan berbicara kepada anak tentang kita yang akan lebih memperhatikan setiap tingkah laku baik mereka –apakah itu berperilaku yang sopan dan santun, membantu membereskan rumah atau menurut terhadap apa yang kita katakan. Fokus pada satu jenis kebiassan positif untuk diubah terlebih dahulu. Setelah anak menunjukkan perubahan, Parent boleh pindah ke satu perilaku lainnya. Parent dapat mengukur pencapaian anak dengan bagan bintang yang disebutkan tadi.

Setiap kali anak-anak melakukan perbuatan baik yang telah disepakati maka berikan tanda bintang. Buatlah bagan yang dibagi dalam tujuh hari. Letakkan di dinding atau tempat yang mudah mereka lihat sehingga anak-anak bisa menyaksikan sendiri bagaimana mereka berproses membentuk satu perilaku yang positif. Buat kesepakatan bagaimana ‘bagan bintang’ ini bekerja. MIsalnya, Parent bisa membuat kesepakatan seperti jika anak melakukan tiga perbuatan baik dalam sehari selama tiga hari berturut-turut –selain memberikan bintang—Parent juga bisa memberi penghargaan lain, misalnya menambah durasi waktu main mereka, memasak masakan favorit anak dan lain-lain.

Selain itu, Dr Feyrad juga menambahkan untuk memberi penghargaan dalam bentuk ‘bahasa tubuh’ orangtua kepada anak, misalnya, memeluk, memberinya ucapan terimakasih, mengusap kepala dengan lembut, mengajaknya bermain keluar –intinya menghabiskan waktu bersama anak. Yang perlu dicatat agar anak merasa benar-benar diberi penghargaan karena telah berkelakuan baik, pastikan ketika memberi ‘penghargaan’ apapun anak hadir saat itu juga dan benar-benar merasakan momen tersebut. Selain itu, sebaiknya peristiwa ini juga disaksikan langusng oleh kedua orangtua –ibu dan ayah—lebih bagus lagi jika diketahui oleh saudara-saudaranya.

Dalam memberikan ‘penghargaan’ hal lain yang perlu diperhatikan adalah tidak memberi penghargaan dalam bentuk materi. Umumnya anak belum memiliki ketertarikan khusus terhadap hal-hal yang berbau materi, oleh karenanya hal ini menjadi sesuatu yang perlu dimanfaatkan oleh orangtua untuk membentuk pola pikir anak tentang bagaimana seharusnya mereka memaknai dan bersikap terhadap seusatu yang bersifat material.

Jadi, Parent usahakan untuk memberi penghargaan dengan beberapa cara yang telah disebutkan diatas ya! Membentuk seorang anak dengan akhlak yang berbudi pekerti luhur memang tidak bisa dilakukan secara instan, tapi juga bukan berarti sesuatu yang mustahil untuk bisa dilakukan. Kalau kata motivator jaman now, kesabaran dan konsistensi adalah koentji ๐Ÿ˜Š. Parent sebagai manusia biasa tugasnya untuk memberi ikhtiar terbaik yang bisa Parent berikan. Selanjutnya adalah senantiasa bertawakkal dan memohon kepada Allah SWT, zat yang menggenggam hati manusia –agar hati anak-anak dilembutkan dan mudah untuk memahami bahwa apa yang Parent lakukan hanya untuk kebaikan mereka.

Anyway, pembahasan artikel ini masih ada bagian duanya ya Parent biar tidak mumet-mumet amatlah untuk mencerna informasi yang terlalu banyak :D

So, stay tune di blog AdamHawa terus ya Parent. Sampai jumpa di bagian dua ๐Ÿ˜Š

Wassalam!

Jumat, 16 Desember 2022

Step by Step Mempersiapkan Anak Sebelum Masuk Sekolah (Bagian 2)

Adam&Hawa

Assalamu’alaikum, Parent! Happy Friday ๐Ÿ˜Š. Yuk semangat yuk, besok sudah masuk akhir pekan kan ya :D

Hari ini kita akan bahas lagi bagian kedua dari artikel kita pekan lalu, yaitu bagaimana melakukan persiapan yang matang sebelum anak-anak masuk sekolah. Oke, langusng disimak ya Parent.

Mempersiapkan keahlian terkait dengan kemampuan belajar

Photo by Element5 Digital on Unsplash

Pada tahun pertaman, anak-anak akan menghabiskan banyak waktu dalam aktivitas bermain sambal belajar. Mereka akan diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam aktivitas belajar yang lebih kompleks ketika mereka sudah berada pada tahapan pertumbuhan yang memang sudah sesuai. Namun bukan berarti Parent tidak bisa membantu mereka untuk mempersiapkan kemampuan akademik in. hal yang bisa Parent lakukan adalah:

  • Membaca bersama anak. Kemampuan ini mungkin akan menjadi hal pertama yang akan mereka pelajari di sekolah –bagaimana caranya membaca kata dan kalimat sederhana. Namun, Parent bisa memulainya melalui kebiasaan membaca bersama anak. Hal ini mampu membuat beberapa keahlian terkait membaca, seperti mendengar dan fokus terhadap sesuatu bisa lebih ‘siap’.
  • Cara menulis nama. Parent bisa memulainya dengan memperkenalkan anak dengan pola dan bentuk huruf pada nama anak-anak. Hal ini dapat memudahkan anak untuk mengenali barang-barang mereka ketika berada di sekolah. Ketika anak-anak siap, Parent bisa mengajarkan anak-anak menuliskan nama mereka.
  • Perhitungan sederhana. Kemampuan berhitung biasanya sudah dimulai ketika anak-anak mengikuti PAUD atau day care. Parent bisa kembali mengakrabkan anak-anak dengan angka sehingga ketika masuk sekolah mereka akan mengenali angka-angka secara alami dan semakin terbiasa.
  •  Atur jadwal istirahat. Awal memasuki sekolah anak-anak akan merasa kelelahan karena untuk pertama kali dalam hidup mereka, mereka akan berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan belajar dalam lingkungan akademis yang resmi, sehingga, di awal, anak-anak mungkin akan merasa ‘terkejut’ dengan sistem yang baru mereka kenali. Berikan waktu istirahat yang memadai untuk anak-anak ketika mereka pulang sekolah. Sebisa mungkin, Parent tidak memberikan kegiatan-kegiatan yang sifatnya terlalu berat. Anak-anak akan membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan rutinitas baru mereka di sekolah.

6.              Persiapkan diri sebagai orang tua

https://unsplash.com/@rocknwool

Walaupun anak adalah pihak yang akan bersekolah, bukan berarti Parent tidak mempersiapkan apapun ya. Hal ini karena Parent merupakan orang pertama yang harus mengetahui hal apapun yang terjadi dalam perjalanan pendidikan anak-anak. Berikut adalah beberapa hal yang Parent bisa persiapkan untuk mendukung anak-anak saat akan memulai masa sekolah mereka.

  • Beri label pada semua barang-barang anak. Hal ini untuk kemudahan Parent sendiri ya. Usahakan untuk memberi tanda pengenal pada setiap barang bawaan yang akan dibawa anak-anak ke sekolah; botol air dan kotak makan, tas, buku, pakaian olahrga dan perlengkapan lainnya.perlengkapan seperti pakaian olahraga hamper tidak memiliki perbedaan antara milik anak yang satu dan lainnya. Ketika anak-anak tidak mampu mengidentifikasi mana pakaian yang merupakan milik mereka, mereka akan kembali bergantung kepada orang dewasa sekitar mereka untuk menemukan barang-barang mereka. Oleh karenanya, disamping untuk kemudahan Parent hal ini juga akan memudahkan anak-anak untuk mengenali segala sesuatu yang menjadi milik mereka. Hal ini juga akan memudahkan tenaga pendidik ketika ada barang-barang anak yang hilang. Parent bisa menjahit atau menempel label berisi identitas anak berupa nama mereka.
  • Persiapkan diri secara emosional. Momen ketika anak mulai menginjakkan kaki untuk kali pertama ke sekolah bisa menjadi momen yang sangat emosional. Parent akan merasakan banyak emosi secara bersamaan –rasa bengga, sedih, rindu, takut, bahagia bahkan perasaan bersalah—ketika mengantarkan anak-anak pada hari pertama mereka sekolah. Karena Parent mulai menyadari bahwa sedikit demi sedikit anak akan mulai mandiri dan bisa melewati satu hari penuh di sekolah tanpa dibersamai oleh Parent lagi. Namun jangan khawatir ya Parent dan jangan merasa sendiri, karena hamper setiap orangtua merasakn hal yang sama. Yang perlu Parent perhatikan, jangan terlalu lama merasa terpuruk dengan emosi-emosi tersebut. Hal yang bisa Parent lakukan adalah menjalin komunikasi yang baik dengan para orangtua lainnya dan saling terbuka satu sama lain. Parent juga bisa melakukan hobi Parent sembari menunggu waktu untuk menjemput anak-anak. Jangan pernah lupa untuk memelihara Kesehatan mental Parent ya. Anak-anak akan sangat senang mendapati orangtua mereka juga dalam keadaan senang sepulangnya dari sekolah.

Momen kali pertama anak masuk sekolah adalah momen sekali seumur hidup yang akan diingat oleh kedua belah pihak –anak dan orangtua. Dengan melakukan persiapan yang matang, momen ini akan selalu diingat sebagai momen yang bermakna dan membahagiakan –dan yang terpenting sebagai wujud ikhtiar kita untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Untuk Parent yang saat ini sedang melakukan persiapan untuk anak-anak masuk sekolah, semangat ya ๐Ÿ˜Š  

Sampai jumpa di sesi #ParenTips lainnya

Wassalam!

 

Rabu, 14 Desember 2022

Bagaimana Sekolah Montessori Mengajarkan Kebudayaan Kepada Anak

Adam&Hawa

Assalamu’alaikum, Parent! Semoga dalam keadaan sehat ya ๐Ÿ˜Š

Sesi #ParentHarusTahu hari ini akan membahas salah satu manfaat yang akan didapatkan oleh anak-anak ketika mengikuti kelas montesosri, yaitu bagaimana kelas montessori mengajarkan kebudayaan kepada anak-anak.

Pencetus metode montessori, Dr. Maria Montessori mengatakan jika anak adalah harapan sekaligus janji bagi umat manusia. Memasukkan kurikulum kebudayaan ke dalam pengalaman pendidikan siswa memungkinkan mereka untuk memperkaya pemahaman mereka tentang dunia dan menyadari peran serta tempat mereka di dalamnya. Hal ini dapat terbentuk melalui kurikulum budaya pada sekolah montessori yang mencakup beberapa hal yaitu sejarah, biologi, geografi, olahraga hingga kesenian.

Melalui pelajaran geografi dan biologi, anak-anak akan membangun pemahaman mengenai posisi mereka sebagai satu kesatuan makhluk hidup. Melalui sesi ini, anak-anak akan mempelajari bahwa tempat yang mereka tinggali saat ini bukan satu-satunya tempat yang ada di bumi. Perlahan mereka akan diperkenalkan dengan kota lain, negara, hingga benua. Dari sini mereka perlahan menumbuhkan kesadaran lainnya –yaitu selain diri mereka, tempat-tempat lain di luar sana juga dihuni oleh orang lain. Lebih lanjut, dari pengetahuan ini anak-anak akan berkesempatan untuk mengetahui berbagai karakteristik, sifat dan budaya yang berbeda yang ada di suatu tempat dan masyarakat. Beragam hal menarik lainnya yang bisa mereka pelajari adalah mencakup iklim, rumah adat, pakaian, makanan tradisional hingga suku.

Photo by Amy Humphries on Unsplash

Memberikan pelajaran, pemahaman dan keterampilan terkait kebudaayan kepada anak-anak sejak usia dini akan membantu ‘memuaskan’ aspek penasaran dalam diri anak-anak. Dalam kesehariannya, anak-anak bisa jadi mempunyai banyak pertanyaan ketika mereka melihat orang dengan bahasa, karakter, dan warna kulit yang berbeda dengan mereka. Mereka mungkin memiliki pertanyaan tentang bagaimana makhluk hidup lain seperti tumbuhan bisa bertahan hidup. Melalui kurikulum budaya pada kelas montessori, anak-anak akan dibimbing secara perlahan untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Biasanya untuk sesi kurikulum kebudayaan ini, tenaga pendidik kelas montessori akan mengenalkan kebudayaan mellaui beberapa alat peraga seperti globe dan atlas. Media lainnya dapat berupa buku yang menggambarkan kehidupan seorang anak yang tinggal di kota atau negara yang berbeda sehingga anak memiliki gambaran kehidupan tentang teman sebaya yang hidup di sisi bagian bumi lainnya yang belum pernah mereka temui sebelumnya. Dengan anak-anak memahami perbedaan ini, mereka tidak menganggap diri mereka lebih baik dibandingkan anak yang lain, namun justru dapat membangun rasa kepercayaan diri mereka terhadap potensi dan karakter yang mereka miliki.

Photo by Taufiq.jpg on Unsplash

Selain wawasan melalui aktivitas luar ruangan, beberapa karakter yang dapat tumbuh di dalam diri anak-anak adalah bagaimana menghormati dan toleran terhadap orang-orang yang memiliki kebudayaan berbeda dengan mereka. Apalagi di negara mereka hidup seperti Indonesia yang kaya akan beragam budaya, nilai-nilai seperti menghormati dan toleransi sangat penting dimiliki sejak usia dini. Beberapa kemampuan terkait komunikasi –seperti mendengar, berempati, dan penyelesaian masalah juga ikut terasah melalui proses pembelajaran kurikulum kebudayaan.

Bagaimana Parent seru kan kurikulum-kurikulum di sekolah montessori? DI sekolah montessori, sebisa mungkin anak-anak akan dibimbing untuk mengembangkan secara maksimal setiap kemampuan, bakat dan potensi yang mereka miliki. Paket komplit pokonya ๐Ÿ˜Š

Sampai jumpa di sesi #ParentHarusTahu selanjutnya!

Wassalam!


Senin, 12 Desember 2022

Anak dan Gula 101: Bagaimana Anak 'Ketergantungan' Terhadap Gula? (Bagian 2)

Adam&Hawa


Photo by Markus Spiske on Unsplash

Assalamu’alaikum! Selamat hari senin, Parent!

Pada sesi #ParentHarusTahu hari ini, AdamHawa akan membahas bagian selanjutnya dari pembahasan kemarin mengenai kebiasaan makan anak terhadap gula. Oke langsung saja ya Parent!

Pada pembahasan sebelumnya sudah dijelaskan jika diduga salah satu alasan mengapa anak begitu tertarik dengan panganan manis karena mereka sedang dalam masa pertumbuhan. Namun ternyata perilaku ketertarikan ini bisa ditelaah lebih jauh lagi melalui kaitannya dengan pelepasan satu hormon –yang faktanya tidak hanya terjadi pada anak-anak namun juga pada orang dewasa.

Jika konsumsi gula harian tidak dibatasi, hal ini dapat memicu ‘ketergantungan’. Efek ketergantungan yang dimaksud disini mungkin tidak sama dan separah dengan zat adiktif berbahaya seperti alkohol namun memiliki efek yang hampir serupa.

Konsumsi gula yang berlebihan dapat memengaruhi kinerja neurotransmitter tertentu. Sederhananya, neurotransmitter adalah senyawa kimia dalam tubuh yang berfungsi untuk membawa dan mengirimkan pesan antar neuron (sel saraf) atau dari neuron ke berbagai jaringan. Dalam kasus mengonsumsi gula, neurotransmitter yang terpengaruh adalah dopamine (dopamin) yang berada pada otak manusia. Dopamin ini berkerja pada satu sistem pada otak yang dinamakan reward system. Reward system adalah sistem yang akan 'aktif' setiap kali kita memberi 'penghargaan' terhadap diri sendiri setelah kita menyelesaikan sesuatu yang dianggap sulit, termasuk ketika anak-anak mengonsumsi gula. Ketika sistem ini aktif, dopamin akan keluar dan akan memberikan sensasi berupa rasa nyaman, senang, bangga, dan bahagia.

https://www.simplypsychology.org/Dopamine-Pathway.jpg?ezimgfmt=rs:553x458/rscb36/ng:webp/ngcb36

Dopamin yang keluar memlaui jalur yang dinamakan mesolimbik selanjutnya akan menuju ke bagian otak yang disebut nucleus accumbens, yang merupakan 'sistem penghargaan' yang dimaksud sebelumnya. Sekali area ini teraktivasi, dia akan memberi arahan kepada tubuh kita untuk mengulang kembali hal yang mampu membangkitkan kembali sensasi 'pemberian penghargaan' tersebut.

Jadi, sebenarnya, dopamin tidak hanya terangsang oleh gula tapi juga akan keluar ketika mendeteksi sesuatu, baik itu kebiasaan atau kondisi yang memicu perasaan senang karena menerima suatu 'penghargaan'. 

Hal ini seharusnya sudah cukup menjadi pertimbangan yang kuat bagi orangtua untuk mulai memperhatikan jumlah gula yang dikonsumsi oleh anak-anak dalam aktivitas makan setiap harinya. Bukan hanya untuk menghindari efek ketergantungan tadi namun untuk menghindari dampak buruk yang signifikan terhadap kesehatan anak jika konsumsi gula berlebih ini berlangsung dalam jangka waktu yang lama.

Secara umum beberapa jenis makanan yang menjadi sumber gula utama pada anak-anak berasal dari makanan pokok yaitu nasi serta sayur, buah-buahan dan susu. Namun yang perlu menjadi perhatian ekstra disini adalah jumlah total gula tambahan yang dikonsumsi anak-anak. Tambahan konsumsi gula yang dimaksud bisa bersumber dari beberapa jenis panganan namun umumnya dan kebanyakan berasal dari makanan ringan seperti cake, permen, cokelat, minuman ringan, es krim dan minuman kemasan. Jumlah gula tambahan pada jenis makanan ini tentu berbeda-beda. Biasanya informasi ini bisa ditemukan pada bagian kemasan dan Parent sangat dianjurkan untuk jeli membaca informasi ini sebelum memutuskan untuk membeli.

Photo by Markus Spiske on Unsplash

Kementerian Kesehatan Indonesia berdasarkan Permenkes Nomor 30 Tahun 2013, menjelaskan tentang anjuran konsumsi gula per orang per hari adalah 10% dari total energi (200kkal). Konsumsi ini setara dengan 4 sendok makan per orang per hari atau 50 gram per orang per hari. Sedangkan untuk anak-anak, pada rentang usia 2-18 tahun, hanya diperbolehkan mendapat asupan kurang dari 25 gram atau 6 sendok teh tambahan gula per harinya. Konsumsi gula seharusnya tidak lebih dari 10% total kalori setiap hari.

Namun membatasi konsumsi gula pada anak-anak juga bisa menjadi tantangan tersendiri khususnya bagi Parent yang berkarir di luar rumah. Karena padatnya aktivitas, tidak sedikit orang tua yang sangat bergantung dengan panganan instan untuk memenuhi kebutuhan makanan untuk anak. Hal ini dapat diperburuk dengan kondisi pasar yang memang menyajikan makanan dengan tambahan gula ehingga kondisi panganan dengan tambahan gula sudah dianggapasesuatu yang normal. Pada akhirnya, rrang tua yang tidak terlalu menyadari kondisi ini dan anak pun akan menganggap jika konsumsi panganan manis adalah sesuatu yang biasa bahkan lambat laun akan terbiasa dan merasa asing ketika panganan yang mereka konsumsi memiliki rasa yang berbeda. 

Hmm, bahaya juga ya Parent jika sampai anak memiliki ketergantungan terhadap panganan manis, belum lagi dengan efek buruk lainnya. Semoga dengan informasi ini, Parent bisa lebih mawas diri untuk menjaga pola makan anak terutama dengan makanan manis ya. Pembahasan terkait kebiasaan makan anak terhadap gula masih akan berlanjut di beberapa bagian ya Parent mengingat ini adalah informasi yang sangat penting untuk Parent ketahui, so, stay tune ya๐Ÿ˜Š

Sampai jumpa di bagian selanjutnya!

Wassalam!

Jumat, 09 Desember 2022

Step by Step Mempersiapkan Anak Sebelum Masuk Sekolah (Bagian 1)

Adam&Hawa

Assalamu’alaikum Parent!

Alhamdulillah, sudah hari jumat, Parent! Harusnya makin semangat ya menyambut akhir pekan yang bisa digunakan untuk quality time bareng anak-anak ๐Ÿ˜Š

Oke, kali ini pada sesi #ParensTips, AdamHawa akan berbagi tips lainnya –yang pastinya tidak kalah bermanfaatnya dengan tips-tips sebelumnya. Kali ini kita akan bahas tips untuk mempersiapkan anak-anak sebelum masuk sekolah. Parent yang punya bocah-bocah usi sekolah merapat yak!

Memasuki dunia akademik formal atau sekolah merupakan salah satu tahapan yang sangat penting dalam tahap perkembangan seorang anak. Setiap anak akan masuk sekolah pada tahap perkembangan yang bisa jadi berbeda dan ini adalah sesuatu yang tidak perlu Parent khawatirkan. Memberikan pengalaman terbaik tepat di awal anak bersekolah mampu memberikan dampak yang positif terhadap keseluruhan perjalanan pendidikan mereka.

Beberapa hal yang Parent bisa lakukan untuk memberi dukungan kepada anak adalah:

1.          Mempersiapkan anak secara emosional.

Bersamai anak untuk familiar dengan lingkungan sekolah. Berkenalan dengan tempat dan orang baru terkadang bisa menjadi hal yang sangat ‘menakutkan’ bagi mereka. Membuat mereka familiar dengan lingkungan sekitar yang baru, mengajaknya bertemu dengan guru dan pendamping yang akan membersamai mereka di kelas akan memberi ‘jaminan’ pada anak bahwa mereka akan menghabiskan waktu di sekolah yang akrab dan menerima mereka dengan ramah dan hangat. Parent bisa mencoba Langkah-langkah di bawah:

  • Atur waktu untuk datang ke skolah bersama anak sebelum kelas pertama dimulai sehingga anak bisa memiliki waktu untuk ‘berkenalan’ dengan sekolah baru mereka.
  • Hadir pada pertemuan orang tua yang biasanya diadakan oleh sekolah sebelum memulai kelas dan tanyakan beberapa informasi penting seperti apa yang menjadi ekspektasi sekolah terhadap anak-anak.
  • Jika Parent sudah memiliki anak yang lebih tua –yang sudah mulai bersekolah di sekolah yang sama, minta bantuan mereka untuk memberi tambahan penjelasan kepada anak yang lebih mudah. Penjelasan dari saudara mampu membuat mereka lebih rilleks karena seperti bercakap-cakap secara natural dengan teman sebaya.

2.          Bantu anak bersosialisasi

Hal ini penting dilakukan untukanak-anak yang sebelumnya tidak mengikuti kelas taman kanak – kanak sehingga benar-benar harus mulai menjalin pertemanan untuk kali pertama di sekolah baru mereka. Hal yang bisa dilakukan adalah, para orang tua bisa mengatur waktu diluar jadwal sekolah –dan tentunya sebelum kelas dimulai, untuk memberi anak kesempatan bertemu dengan teman-teman baru mereka. Hal ini bisa menjadi kesempatan yang baik bagi anak untuk mulai membangun komuniskasi dengan sebaya yang akan banyak menghabiskan waktu bersama mereka di kelas.

3.           Bangun suasana yang menyenangkan

Hal ini dimaksudkan untuk membiarkan anak ‘menikmati’ momen-momen menyambut hari pertama di sekolah, Parent bisa melakukan semacam roleplay atau bermain peran tentang sekolah di rumah atau Bersama-sama membaca buku tentang sekolah. Dorong anak untuk bertanya dan jawab mereka dengan jujur. Hal ini akan membantu anak untuk semakin familiar terhadap aktivitas yang akan mereka lakukan di sekolah nantinya.

Photo by Iulia Mihailov on Unsplash

4.          Persiapkan anak untuk lebih mandiri

Kemampuan untuk mandiri baik dari segi akademik maupun secara personal penting bagi anak ketika mereka mulai sekolah untuk meningkatkan rasa percaya diri. Di sekolah, tentunya hal ini akan banyak dibantu oleh tenaga pendidik, namun Parent juga bisa membantu anak-anak dirumah, dengan cara:

  • Ajari mereka untuk menggunakan toilet. Hal ini mencakup melepas dan memakai kembali pakaian mereka, membersihkan diri dan mencusi tangan.
  • Ajari mereka untuk menjaga kebersihan. Dapat dimulai dari hal yang paling sederhana yaitu mencuci tangan dengan benar setelah bermain hingga dilanjutkan dengan bagaimana menjaga pakaian mereka tetap bersih selama bermain.
  • Ajari mereka untuk bisa berpakaian secara mandiri. Pada umunya, akan ada mata pelajaran olahraga yang mengharuskan anak untuk menggunakan baju tertentu oleh karenanya sangat penting untuk mengajarkan anak bagaimana cara melepas dan mengganti pakaian sebelum masuk sekolah.
  • Ajarkan bagaimana menggunakan peralatan makan dan minum dengan benar. Di sekolah mereka akan melewati waktu makan bersama dengan sebayanya. Awalnya anak mungkin akan merasa ‘kaku’ menggunakan beberapa peralatan makan namun kebiassan mandiri ini akan terus membaik seiring mereka semakin sering menggunakannya ketika di sekolah.

Masih ada dua bagian lagi ya Parent yaitu bagaimana mempersiapkan anak dari segi kemampuan akademik dan yang tidak kalah penting adalah hal-hal yang Parent juga harus persiapkan selaku support system utama anak yang akan membersamai perjalanan anak selama usia sekolah mereka. Masyallah, semangat ya Parent ๐Ÿ˜Š

Sampai jumpa di bagian dua!

Wassalam!

 


Rabu, 07 Desember 2022

Begini Permainan Sensorial Mengembangkan Kemampuan Berbahasa Anak

Adam&Hawa

 

Assalamu’alaikum, Parent! Semoga dalam keadaan sehat ya ๐Ÿ˜Š

Pada rabu yang cerah ini, sesi #ParentHarusTahu akan mengulik topik tentang bagaimana permainan sensorial pada sekolah montessori membangun kemampuan berbahasa pada anak-anak. Langsung di simak, Parent!

Salah satu manfaat permainan sensorial pada anak-anak adalah mampu mengasah kemampuan bahasa. Ketika anak-anak aktif berpartisipasi dalam permainan sensori, maka secara alami akan ‘memancing’ kemampuan berbahasa anak untuk memberi respon selama mereka bermain. Idealnya, peristiwa ini membutuhkan dukungan dari orang-orang dewasa –jika permainan sensori dilakukan di sekolah, maka perlu ada partisipasi dari tenaga pendidik dan jika dilakukan di rumah, maka tentu itu adalah kedua orang tua ataupun kerabat lainnya.

Bagaimana jenis partisipasi orang dewasa yang dimaksud?

Pada sekolah montessori, pada umumnya terdapat sebuah kurikulum yang memuat target capaian selama mengikuti kelas, termasuk dalam hal ini adalah keahlian dalam bidang bahasa. Tenaga pendidik ataupun orang tua bisa memutuskan jenis keahlian mana yang ingin dicapai sebelum memulai kelas. Karena permainan sensorial melibatkan seluruh sistem indera yang dimiliki anak-anak maka sebenarnya tidak terdapat jenis ‘permainan khusus’ berkaitan dengan kemampuan bahasa. Selama anak-anak aktif dalam jenis permainan sensorial yang dimainkan dan didukung oleh pendamping maka semua jenis permainan sensorial dapat bermanfaat untuk mengembangkan kemampuan berbahasa anak-anak.

Misalnya pada jenis permainan sensorial yang melibatkan aktivitas menyentuh, memegang, menggenggam dan penyelesaian masalah. Jenis permainan sensorial yang dimaksud bisa berupa bermain dengan beberapa benda seperti, pasir, lumpur atau squishy atau slime. Selama proses bermain ini, orang dewasa selaku pendamping diharapkan agar turut berpartisipasi dengan cara membangun komunikasi dua arah.

Sebut saja jika target keahlian yang ingin dicapai adalah mengenalkan anak-anak kepada beberapa kosakata baru dan membangun kalimat sederhana dengan menggunakan kosakata tersebut. Selama anak-anak menikmati proses observasi mereka terhadap benda-benda yang telah disebutkan di atas, biasanya anak-anak akan terpancing untuk memberitahu orang dewasa disekitarnya tentang benda apa yang sedang mereka mainkan, misalnya seperti nama benda tersebut.

Dari sini pendamping dianjurkan untuk memberi umpan balik. Ketika anak-anak mengatakan nama benda tertentu, misalnya slime, maka pendamping dapat memberi umpan balik dengan memberitahukan ciri-ciri dari benda tersebut, seperti “benar ini dinamakan, slime yang memiliki sifat lentur dan mudah dibentuk”. Selanjutnya, jika fokus capaian keahlian yang ditargetkan adalah berupa respon bahasa, pendamping bisa mengajukan pertanyaan dalam konteks ‘mengapa’. Misalnya “Bagaimana rasanya memegang (nama benda)?” atau “warna apa yang dimiliki oleh (nama benda)?”. Pendamping juga bisa menggunakan kosakata yang mengacu pada ‘target atau arah’ seperti “pasir diletakkan di bagian atas, pasir disimpan di dalam keranjang.”. Selanjutnya jika target keahlian yang ingin dicapai adalah bahasa yang terkait dengan penyelesaian masalah, pertanyaan yang dapat diberikan kepada anak-anak dapat berupa, “apa yang dibutuhkan untuk membangun sebuah istana pasir?”

Hal yang patut diperhatikan adalah bagaimana menentukan target keahlian yang ingin dicapai. Tentunya target tersebut tetap harus disesuaikan dengan tahapan perkembangan dan umur anak-anak. Hal ini bertujuan agar anak-anak tidak merasa terbebani selama mereka dalam proses bermain.

Itulah tadi Parent pembahasan kita hari ini ๐Ÿ˜Š. Jangan bosan-bosan mampir ya ke blog AdamHawa, karena disini, Parent bisa mendapatkan berbagai tips terkait dunia anak dan parenting.

Sampai jumpa di sesi selanjutnya!

Wassalam!

Senin, 05 Desember 2022

Anak dan Gula 101: Mengapa Anak Menyukai Gula? (Bagian 1)

Adam&Hawa

Photo by Patrick Fore on Unsplash

Assalamu’alaikum! Selamat pagi, Parent! Semoga dalam keadaan sehat ya ๐Ÿ˜Š

Pada sesi #ParentHarusTahu hari ini, AdamHawa akan membahas terkait kebiasaan makan pada anak nih Parent, yaitu kebiasaan favorit anak untuk mengonsumsi makanan manis atau gula. Di simak baik-baik ya, Parent!

Sebelum mamsuk ke inti pembahasan, mari kita berkenalan dulu dengan ‘gula’. Sebenarnya gula itu apa sih, Parent?

Gula merupakan salah satu jenis karbohidrat terlarut yang memiliki rasa manis. Karbohidrat sendiri merupakan salah satu zat gizi makro yang diperlukan oleh tubuh. Dalam dunia kimia, gula dinamakan sukrosa. Gula atau sukrosa ini dihasilkan oleh tumbuhan melalui proses fotosintesis. Sama halnya lemak yang berfungsi sebagai sumber energi, gula yang merupakan salah satu jenis karbohidrat juga berperan sebagai salah satu sumber alternatif energi bagi tubuh.

https://i0.wp.com/www.sugar.org/wp-content/uploads/TSA18-004-Creative-Photosynthesis-Graphic_wLogo.png?w=2000&ssl=1

Mayoritas anak-anak menyukai makanan karena rasa ‘enak’ yang ditawarkan oleh makanan manis, entah itu cokelat, permen, cake, cookies, dan lainnya. Tidak jarang ketika orang tua yang mengajak anak-anak saat melakukan kegiatan belanja bulanan –selain meminta untuk dibelikan mainan, anak-anak juga tidak akan lupa untuk meminta jajanan manis yang mereka jumpai.

Walaupun masih berupa opini berdasarkan hasil penelitian, ternyata ada alasan ilmiah dibalik ketertarikan anak terhadap –bukan hanya panganan manis, namun juga yang asin.

Julie Mennella, seorang biopsikologi dan ketua penelitian Monell Chemical Senses Center di Philadelphia, mengungkapkan:

“Para peneliti sudah mengetahui jika anak-anak lebih menyukai makanan dengan rasa yang manis dan asin dibandingkan orang dewasa dan anak tidak perlu belajar untuk melakukannya. Namun belum ada yang mampu mengungkap alasan pasti dibalik hal tersebut.”.

Hasil penelitian ini juga menduga jika hal ini terjadi karena anak sedang berada pada masa pertumbuhan mereka. Anak-anak menyukai makanan manis karena membutuhkan kalori sebagai sumber energi untuk bertumbuh. Julie menambahkan jika hal ini dilihat dari sudut pandang evolusi hal ini cukup masuk akal karena anak-anak yang lebih banyak mengonsumsi kalori memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk bertahan hidup.

Photo by Kelly Sikkema on Unsplash

Lantas kenapa sih konsumsi gula selalu dikaitkan dengan berbagai permasalahan kesehatan jika gula ternyata merupakan sumber energi yang artinya bermanfaat bagi tubuh? Jawaban paling sederhananya adalah karena dikonsumsi dalam jumlah yang berlebihan dan tidak disertai dengan konsumsi zat gizi lainnya.

Bagi beberapa orang tua, konsumsi gula yang berlebihan bisa menjadi kekhawatiran tersendiri terlebih jika terdapat riwayat penyakit diabetes dalam garis keturunan. Selain itu, ketika anak-anak tidak memiliki kebiasaan makan yang ‘terjadwal’ terhadap gula –misalnya keinginan untuk makan makanan manis tiap kali berkunjung ke minimarket hal lain yang dapat terjadi adalah membuat anak-anak akan semakin bergantung terhadap gula.

Hmm … maksudnya 'ketergantungan' gimana nih? Parent, penasaran? Tunggu kelanjutannya di sesi #ParentHarusTahu selanjutnya ya. Sampai jumpa dan selamat beristirahat!

Wassalam!