Senin, 12 Desember 2022

Anak dan Gula 101: Bagaimana Anak 'Ketergantungan' Terhadap Gula? (Bagian 2)


Photo by Markus Spiske on Unsplash

Assalamu’alaikum! Selamat hari senin, Parent!

Pada sesi #ParentHarusTahu hari ini, AdamHawa akan membahas bagian selanjutnya dari pembahasan kemarin mengenai kebiasaan makan anak terhadap gula. Oke langsung saja ya Parent!

Pada pembahasan sebelumnya sudah dijelaskan jika diduga salah satu alasan mengapa anak begitu tertarik dengan panganan manis karena mereka sedang dalam masa pertumbuhan. Namun ternyata perilaku ketertarikan ini bisa ditelaah lebih jauh lagi melalui kaitannya dengan pelepasan satu hormon –yang faktanya tidak hanya terjadi pada anak-anak namun juga pada orang dewasa.

Jika konsumsi gula harian tidak dibatasi, hal ini dapat memicu ‘ketergantungan’. Efek ketergantungan yang dimaksud disini mungkin tidak sama dan separah dengan zat adiktif berbahaya seperti alkohol namun memiliki efek yang hampir serupa.

Konsumsi gula yang berlebihan dapat memengaruhi kinerja neurotransmitter tertentu. Sederhananya, neurotransmitter adalah senyawa kimia dalam tubuh yang berfungsi untuk membawa dan mengirimkan pesan antar neuron (sel saraf) atau dari neuron ke berbagai jaringan. Dalam kasus mengonsumsi gula, neurotransmitter yang terpengaruh adalah dopamine (dopamin) yang berada pada otak manusia. Dopamin ini berkerja pada satu sistem pada otak yang dinamakan reward system. Reward system adalah sistem yang akan 'aktif' setiap kali kita memberi 'penghargaan' terhadap diri sendiri setelah kita menyelesaikan sesuatu yang dianggap sulit, termasuk ketika anak-anak mengonsumsi gula. Ketika sistem ini aktif, dopamin akan keluar dan akan memberikan sensasi berupa rasa nyaman, senang, bangga, dan bahagia.

https://www.simplypsychology.org/Dopamine-Pathway.jpg?ezimgfmt=rs:553x458/rscb36/ng:webp/ngcb36

Dopamin yang keluar memlaui jalur yang dinamakan mesolimbik selanjutnya akan menuju ke bagian otak yang disebut nucleus accumbens, yang merupakan 'sistem penghargaan' yang dimaksud sebelumnya. Sekali area ini teraktivasi, dia akan memberi arahan kepada tubuh kita untuk mengulang kembali hal yang mampu membangkitkan kembali sensasi 'pemberian penghargaan' tersebut.

Jadi, sebenarnya, dopamin tidak hanya terangsang oleh gula tapi juga akan keluar ketika mendeteksi sesuatu, baik itu kebiasaan atau kondisi yang memicu perasaan senang karena menerima suatu 'penghargaan'. 

Hal ini seharusnya sudah cukup menjadi pertimbangan yang kuat bagi orangtua untuk mulai memperhatikan jumlah gula yang dikonsumsi oleh anak-anak dalam aktivitas makan setiap harinya. Bukan hanya untuk menghindari efek ketergantungan tadi namun untuk menghindari dampak buruk yang signifikan terhadap kesehatan anak jika konsumsi gula berlebih ini berlangsung dalam jangka waktu yang lama.

Secara umum beberapa jenis makanan yang menjadi sumber gula utama pada anak-anak berasal dari makanan pokok yaitu nasi serta sayur, buah-buahan dan susu. Namun yang perlu menjadi perhatian ekstra disini adalah jumlah total gula tambahan yang dikonsumsi anak-anak. Tambahan konsumsi gula yang dimaksud bisa bersumber dari beberapa jenis panganan namun umumnya dan kebanyakan berasal dari makanan ringan seperti cake, permen, cokelat, minuman ringan, es krim dan minuman kemasan. Jumlah gula tambahan pada jenis makanan ini tentu berbeda-beda. Biasanya informasi ini bisa ditemukan pada bagian kemasan dan Parent sangat dianjurkan untuk jeli membaca informasi ini sebelum memutuskan untuk membeli.

Photo by Markus Spiske on Unsplash

Kementerian Kesehatan Indonesia berdasarkan Permenkes Nomor 30 Tahun 2013, menjelaskan tentang anjuran konsumsi gula per orang per hari adalah 10% dari total energi (200kkal). Konsumsi ini setara dengan 4 sendok makan per orang per hari atau 50 gram per orang per hari. Sedangkan untuk anak-anak, pada rentang usia 2-18 tahun, hanya diperbolehkan mendapat asupan kurang dari 25 gram atau 6 sendok teh tambahan gula per harinya. Konsumsi gula seharusnya tidak lebih dari 10% total kalori setiap hari.

Namun membatasi konsumsi gula pada anak-anak juga bisa menjadi tantangan tersendiri khususnya bagi Parent yang berkarir di luar rumah. Karena padatnya aktivitas, tidak sedikit orang tua yang sangat bergantung dengan panganan instan untuk memenuhi kebutuhan makanan untuk anak. Hal ini dapat diperburuk dengan kondisi pasar yang memang menyajikan makanan dengan tambahan gula ehingga kondisi panganan dengan tambahan gula sudah dianggapasesuatu yang normal. Pada akhirnya, rrang tua yang tidak terlalu menyadari kondisi ini dan anak pun akan menganggap jika konsumsi panganan manis adalah sesuatu yang biasa bahkan lambat laun akan terbiasa dan merasa asing ketika panganan yang mereka konsumsi memiliki rasa yang berbeda. 

Hmm, bahaya juga ya Parent jika sampai anak memiliki ketergantungan terhadap panganan manis, belum lagi dengan efek buruk lainnya. Semoga dengan informasi ini, Parent bisa lebih mawas diri untuk menjaga pola makan anak terutama dengan makanan manis ya. Pembahasan terkait kebiasaan makan anak terhadap gula masih akan berlanjut di beberapa bagian ya Parent mengingat ini adalah informasi yang sangat penting untuk Parent ketahui, so, stay tune ya๐Ÿ˜Š

Sampai jumpa di bagian selanjutnya!

Wassalam!

Adam&Hawa

Author & Editor

0 comments:

Posting Komentar