Rabu, 07 Desember 2022

Begini Permainan Sensorial Mengembangkan Kemampuan Berbahasa Anak

 

Assalamu’alaikum, Parent! Semoga dalam keadaan sehat ya ๐Ÿ˜Š

Pada rabu yang cerah ini, sesi #ParentHarusTahu akan mengulik topik tentang bagaimana permainan sensorial pada sekolah montessori membangun kemampuan berbahasa pada anak-anak. Langsung di simak, Parent!

Salah satu manfaat permainan sensorial pada anak-anak adalah mampu mengasah kemampuan bahasa. Ketika anak-anak aktif berpartisipasi dalam permainan sensori, maka secara alami akan ‘memancing’ kemampuan berbahasa anak untuk memberi respon selama mereka bermain. Idealnya, peristiwa ini membutuhkan dukungan dari orang-orang dewasa –jika permainan sensori dilakukan di sekolah, maka perlu ada partisipasi dari tenaga pendidik dan jika dilakukan di rumah, maka tentu itu adalah kedua orang tua ataupun kerabat lainnya.

Bagaimana jenis partisipasi orang dewasa yang dimaksud?

Pada sekolah montessori, pada umumnya terdapat sebuah kurikulum yang memuat target capaian selama mengikuti kelas, termasuk dalam hal ini adalah keahlian dalam bidang bahasa. Tenaga pendidik ataupun orang tua bisa memutuskan jenis keahlian mana yang ingin dicapai sebelum memulai kelas. Karena permainan sensorial melibatkan seluruh sistem indera yang dimiliki anak-anak maka sebenarnya tidak terdapat jenis ‘permainan khusus’ berkaitan dengan kemampuan bahasa. Selama anak-anak aktif dalam jenis permainan sensorial yang dimainkan dan didukung oleh pendamping maka semua jenis permainan sensorial dapat bermanfaat untuk mengembangkan kemampuan berbahasa anak-anak.

Misalnya pada jenis permainan sensorial yang melibatkan aktivitas menyentuh, memegang, menggenggam dan penyelesaian masalah. Jenis permainan sensorial yang dimaksud bisa berupa bermain dengan beberapa benda seperti, pasir, lumpur atau squishy atau slime. Selama proses bermain ini, orang dewasa selaku pendamping diharapkan agar turut berpartisipasi dengan cara membangun komunikasi dua arah.

Sebut saja jika target keahlian yang ingin dicapai adalah mengenalkan anak-anak kepada beberapa kosakata baru dan membangun kalimat sederhana dengan menggunakan kosakata tersebut. Selama anak-anak menikmati proses observasi mereka terhadap benda-benda yang telah disebutkan di atas, biasanya anak-anak akan terpancing untuk memberitahu orang dewasa disekitarnya tentang benda apa yang sedang mereka mainkan, misalnya seperti nama benda tersebut.

Dari sini pendamping dianjurkan untuk memberi umpan balik. Ketika anak-anak mengatakan nama benda tertentu, misalnya slime, maka pendamping dapat memberi umpan balik dengan memberitahukan ciri-ciri dari benda tersebut, seperti “benar ini dinamakan, slime yang memiliki sifat lentur dan mudah dibentuk”. Selanjutnya, jika fokus capaian keahlian yang ditargetkan adalah berupa respon bahasa, pendamping bisa mengajukan pertanyaan dalam konteks ‘mengapa’. Misalnya “Bagaimana rasanya memegang (nama benda)?” atau “warna apa yang dimiliki oleh (nama benda)?”. Pendamping juga bisa menggunakan kosakata yang mengacu pada ‘target atau arah’ seperti “pasir diletakkan di bagian atas, pasir disimpan di dalam keranjang.”. Selanjutnya jika target keahlian yang ingin dicapai adalah bahasa yang terkait dengan penyelesaian masalah, pertanyaan yang dapat diberikan kepada anak-anak dapat berupa, “apa yang dibutuhkan untuk membangun sebuah istana pasir?”

Hal yang patut diperhatikan adalah bagaimana menentukan target keahlian yang ingin dicapai. Tentunya target tersebut tetap harus disesuaikan dengan tahapan perkembangan dan umur anak-anak. Hal ini bertujuan agar anak-anak tidak merasa terbebani selama mereka dalam proses bermain.

Itulah tadi Parent pembahasan kita hari ini ๐Ÿ˜Š. Jangan bosan-bosan mampir ya ke blog AdamHawa, karena disini, Parent bisa mendapatkan berbagai tips terkait dunia anak dan parenting.

Sampai jumpa di sesi selanjutnya!

Wassalam!

Adam&Hawa

Author & Editor

0 comments:

Posting Komentar