Kamis, 22 Desember 2022

Parent Wajib Tahu! Tips Membentuk Akhlak dan Kebiasaan Baik Pada Anak (Bagian 1)

 Assalamu’alaikum, Parent! ๐Ÿ˜Š

Di sesi #ParenTips kali ini, AdamHawa akan membagikan tips tentang bagaimana membantu anak agar memiliki perikaku dan sikap berbudi luhur. Langsung di simak ya Parent!

Setiap orangtua menginginkan anaknya untuk memiliki perilaku yang baik, sopan dan santun. Setiap orangtua pasti ingin memiliki anak dengan sikap yang baik –yang mengatakan ‘tolong’ dan ‘terima kasih’—ketika diberitahu demikian, tidak membuat masalah di sekolah ataupun mengganggu teman-temannya. Namun faktanya, banyak orangtua yang beranggapan jika membesarkan anak untuk memiliki perilaku yang baik dan santun adalah sesuatu yang sulit.

Penyebabnya sebenarnya sangat sederhana lho Parent, itu karena kita melihat segala sesuatunya dari sudut pandang dan prioritas kita sebagai orang tua –yang pastinya untuk saat ini belum dipahami oleh anak-anak. Pada dasarnya ketika orang dewasa menegur anak-anak, orangtua seakan-akan ingin ‘menyadarkan’ anak-anak bahwa perilaku mereka tidak sesuai dengan standar dan kebutuhan kita sebagai orang dewasa. Namun bukan berarti itu karena mereka tidak ingin atau tidak menghargai apa yang Parent lakukan tetapi sesederhana karena mereka hanya seorang anak-anak yang belum mampu berbagi prinsip, nilai, tanggung jawab dan kekhawatiran yang sama dengan Parent sebagai orangtua.

Secara psikologis, anak-anak melewati berbagai tahap dalam perkembangannya. Ini terjadi terutama selama 12 tahun pertama kehidupan mereka (setelah itu perkembangan didasarkan pada pengalaman hidup dan kemampuan pribadi). Mengetahui apa arti tahapan-tahapan ini sangat membantu karena mengajarkan Parent tidak hanya apa yang harus diajarkan kepada anak-anak pada usia tertentu, tetapi juga bagaimana mengajari mereka apa yang kita ingin mereka ketahui demi kepentingan kebaikan mereka.

Namun semua anak berbeda dan beberapa anak mungkin lebih dewasa dalam hal pemikiran dan perilaku. Beberapa anak adalah tipe yang ‘taat kepada aturan’ –ketika dikatakan tidak, mereka akan menurut—namun ada juga dari mereka yang tidak. Hal utama yang menjadikan –bagaimana membimbing anak untuk berperilaku baik—sulit adalah karena prosesnya merupakan proses yang berkelanjutan dan membutuhkan usaha ekstra. Yang paling penting untuk Parent perhatikan adalah fokus terhadap tujuan utama, yaitu membentuk anak dengan perilaku yang baik daripada fokus terhadap tujuan jangka pendek, seperti berusaha menenangkan seorang anak yang sedang mengalami tantrum.

Kita coba ambil contoh ya Parent, untuk anak usia 8 tahun. Anak dengan usia antara 7 – 12 tahun akan mengalami masa perkembangan ketika mereka mulai menerapkan logika dan bukti untuk memvalidasi sesuatu. Ini berarti bahwa jika Parent menjelaskan sesuatu kepada mereka dengan cara yang logis dan jelas dengan beberapa contoh konkret mereka akan dengan mudah memahaminya.

Parent akan menemukan bahwa setelah usia 12 tahun, anak akan dapat memikirkan kehidupan dengan lebih mendalam, dengan pemahaman yang lebih spiritual dan mempertimbangkan pendapat yang berbeda dan memungkinkan mereka untuk mengubah pemikirannya. Walaupun demikian, anak mungkin masih belum mampu memahami betul apa yang Parent maksudkan.

Itulah mengapa Parent harus memahami setiap tahapan perkembangan anak-anak, karena seringkali orangtua meminta anak untuk melakukan atau mengerti sesuatu dengan menggunakan bahasa yang ‘terlalu dewasa’ untuk mereka pahami. Masayaallah, disinilah kita perlu menggunakan ajaran sunnah Rasulullah SAW yang memberitahu kita untuk menjelaskan sesuatu kepada anak-anak sesuai dengan usia mereka dan dengan cara yang dapat mereka pahami.

Selain itu, Dr. Feyrad Hussain, yang merupakan seorang doktor di bidang psikologi klinis juga menjelaskan

“Sebagai psikolog, kami menyarankan bahwa hal termudah untuk membantu anak-anak mengubah perilaku mereka adalah apa yang kami sebut 'bagan bintang'. Prinsip dasarnya adalah menunjukkan kepada anak bahwa Anda memperhatikan mereka berbuat baik dan bahwa setiap orang melihat perilaku baik mereka dan bahwa mereka akan mendapat ‘penghargaan’ untuk itu. Hal ini akan menyebabkan anak ‘ketagihan’ dengan sensasi ‘penghargaan’ yang mereka terima sehingga mereka akan mengulang perilaku baik mereka. Ini sederhana untuk diterapkan.”

Dr Feyrad menyarankan untuk memulainya dengan berbicara kepada anak tentang kita yang akan lebih memperhatikan setiap tingkah laku baik mereka –apakah itu berperilaku yang sopan dan santun, membantu membereskan rumah atau menurut terhadap apa yang kita katakan. Fokus pada satu jenis kebiassan positif untuk diubah terlebih dahulu. Setelah anak menunjukkan perubahan, Parent boleh pindah ke satu perilaku lainnya. Parent dapat mengukur pencapaian anak dengan bagan bintang yang disebutkan tadi.

Setiap kali anak-anak melakukan perbuatan baik yang telah disepakati maka berikan tanda bintang. Buatlah bagan yang dibagi dalam tujuh hari. Letakkan di dinding atau tempat yang mudah mereka lihat sehingga anak-anak bisa menyaksikan sendiri bagaimana mereka berproses membentuk satu perilaku yang positif. Buat kesepakatan bagaimana ‘bagan bintang’ ini bekerja. MIsalnya, Parent bisa membuat kesepakatan seperti jika anak melakukan tiga perbuatan baik dalam sehari selama tiga hari berturut-turut –selain memberikan bintang—Parent juga bisa memberi penghargaan lain, misalnya menambah durasi waktu main mereka, memasak masakan favorit anak dan lain-lain.

Selain itu, Dr Feyrad juga menambahkan untuk memberi penghargaan dalam bentuk ‘bahasa tubuh’ orangtua kepada anak, misalnya, memeluk, memberinya ucapan terimakasih, mengusap kepala dengan lembut, mengajaknya bermain keluar –intinya menghabiskan waktu bersama anak. Yang perlu dicatat agar anak merasa benar-benar diberi penghargaan karena telah berkelakuan baik, pastikan ketika memberi ‘penghargaan’ apapun anak hadir saat itu juga dan benar-benar merasakan momen tersebut. Selain itu, sebaiknya peristiwa ini juga disaksikan langusng oleh kedua orangtua –ibu dan ayah—lebih bagus lagi jika diketahui oleh saudara-saudaranya.

Dalam memberikan ‘penghargaan’ hal lain yang perlu diperhatikan adalah tidak memberi penghargaan dalam bentuk materi. Umumnya anak belum memiliki ketertarikan khusus terhadap hal-hal yang berbau materi, oleh karenanya hal ini menjadi sesuatu yang perlu dimanfaatkan oleh orangtua untuk membentuk pola pikir anak tentang bagaimana seharusnya mereka memaknai dan bersikap terhadap seusatu yang bersifat material.

Jadi, Parent usahakan untuk memberi penghargaan dengan beberapa cara yang telah disebutkan diatas ya! Membentuk seorang anak dengan akhlak yang berbudi pekerti luhur memang tidak bisa dilakukan secara instan, tapi juga bukan berarti sesuatu yang mustahil untuk bisa dilakukan. Kalau kata motivator jaman now, kesabaran dan konsistensi adalah koentji ๐Ÿ˜Š. Parent sebagai manusia biasa tugasnya untuk memberi ikhtiar terbaik yang bisa Parent berikan. Selanjutnya adalah senantiasa bertawakkal dan memohon kepada Allah SWT, zat yang menggenggam hati manusia –agar hati anak-anak dilembutkan dan mudah untuk memahami bahwa apa yang Parent lakukan hanya untuk kebaikan mereka.

Anyway, pembahasan artikel ini masih ada bagian duanya ya Parent biar tidak mumet-mumet amatlah untuk mencerna informasi yang terlalu banyak :D

So, stay tune di blog AdamHawa terus ya Parent. Sampai jumpa di bagian dua ๐Ÿ˜Š

Wassalam!

Adam&Hawa

Author & Editor

0 comments:

Posting Komentar