Senin, 30 Januari 2023

Tips dan Manfaat Mengenalkan Anak dengan Tanaman dan Hewan Sejak Usia Dini

Adam&Hawa

Assalamu’alaikum, Parent! Happy Monday~ Selamat hari senin๐Ÿ˜Š

Pada artikel hari ini, AdamaHawa akan mengulik topik seputar pentingnya mengenalkan makhluk hidup lain –yaitu tumbuhan dan hewan kepada anak. Disimak ya Parent!

Anak-anak cenderung bersikap inkuisitif atau ingin tahu terhadap hal-hal yang ada di sekitar mereka. Mereka akan bertanya murni karena mereka penasaran dan benar-benar ingin tahu. Parent mungkin akan menemukan bahwa anak akan mengajukan pertanyaan seperti kenapa langit berwarna biru? mengapa langit menurunkan hujan? Mengapa tumbuhan perlu air? Dari pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan, anak-anak menunjukkan keinginan untuk menyelidiki dan memahami hal-hal baru karena sifat ingin tahu dan reflektif yang mereka miliki. Oleh karenanya, orang-orang dewasa di sekitar mereka baik orang tua dan guru harus memberikan mereka ruang dan kesempatan untuk ‘memuaskan’ rasa ingin tahu mereka. Dalam hal ini Parent harus jeli untuk memanfaatkan rasa ingin tahu anak-anak yang menggebu-gebu untuk mengajarkan bagaimana mereka hidup berdampingan dengan makhluk hidup lain seperti tumbuhan dan hewan dan bagaimana pentingnya makhluk hidup lain dalam kehidupan mereka sebagai manusia.

Dalam sekolah montessori, keahlian yang akan diajarkan kepada anak tidak hanya mencakup keahlian matematika, practical life skills, culture, namun juga bagaimana anak-anak mengenal lingkungan dan dunia di sekitar mereka, termasuk makhluk hidup lain. Dengan  memperkenalkan hewan dan tumbuhan sejak usia dini, anak-anak dapat mulai memahami bagaimana kedua makhluk hidup tersebut tumbuh dan mengenal perannya terhadap kehidupan mereka. Pemahaman yang lebih luas terhadap dunia dan alam di sekitar mereka akan terbentuk dan mulai menghargai keberadaan makhluk hidup lain yang ada di sekitar mereka.

Mengajarkan tanggung jawab melalui tanaman juga bisa Parent ajarkan dengan cara mengajarkan anak untuk menumbuhkan dan merawat tanaman di rumah. Melalui kegiatan ini Parent membantu anak-anak mengenali satu potensi mereka, yaitu memiliki kemampuan untuk merawat sesuatu dan membantu makhluk lain untuk tumbuh dan berkembang. Ini merupakan bekal yang sangat baik untuk mengenali potensi mereka sebagai pemimpin yang bertanggung jawab terhadap sekitar.

Selain itu, ketika anak-anak memiliki pemahaman sejak dini tentang makhluk hidup yang ada di sekitar mereka, anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi dengan rasa keingintahuan yang tinggi, yang lebih lanjut dapat membantu mereka untuk melakukan eksplorasi yang lebih jauh lagi. Mereka akan belajar memahami apa yang perlu mereka lakukan untuk dapat bertahan hidup –yaitu dengan memanfaatkan lingkungan tempat mereka tinggal dengan cara yang beradab.

Beberapa cara yang Parent bisa coba untuk secara perlahan mengenalkan anak kepada tumbuhan dan hewan adalah yang pertama dengan mulai menjelaskannya perlahan secara langsung. Hal paling mendasar yang bisa Parent jelaskan dapat dimulai dari kebutuhan pokok mereka sebagai manusia yang membutuhkan makan dan minum –bahwa mereka sebagai manusia bergantung pada makhluk hidup lain dan benda tak hidup di sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan mereka. Bincang-bincang ini dapat Parent lakukan ketika mengajak anak keluar rumah, menikmmati udara sekitar di pekarangan rumah, di kebun, atau mungkin taman yang ada di kota untuk melihat langsung tumbuhan dan hewan secara langsung.

Sebelum itu, tentu Parent harus mengetahui fakta-fakta yang benar berdasarkan ilmu pengetahuan terkait tumbuhan dan hewan dan menjelaskannya dengan cara yang menarik kepada anak-anak. Hal ini cenderung mudah dilakukan karena anak-anak dengan sifat ingin tahunya akan mudah termotivasi untuk mendengar penjelasan dari Parent. Ketika mereka berjumpa dengan tanaman atau hewan yang belum pernah mereka jumpai, anak akan berinisiatif untuk menanyakan hal-hal berbeda yang mereka temukan. Setelah menjelaskan, Parent boleh menanyakan lebih lanjut tentang bagaimana pendapat dan gagasan yang mereka miliki terhadap tanaman atau hewan yang mereka temui tersebut. Selain wawasan yang bertambah, kemampuan komunikasi anak juga semakin terasah.

Photo by Daiga Ellaby on Unsplash

Hal kedua yang bisa Parent lakukan adalah melalui craft atau kerajinan. Dapat dimulai dengan menggambar pohon yang mereka jumpai di halaman rumah dan memberi warna yang sesuai. Sambil mengasah kreativitas, mereka juga dapat belajar tentang fungsi dari setiap bagian-bagian tanaman.

Dan saatnya untuk praktek lansgung! Parent bisa mengambil langkah selanjutnya dengan memperkenalkan cara tanaman atau hewan berkembang dengan mencoba merawat dan memelihara di rumah. Ajak anak untuk menanam beberapa tumbuhan sederhana seperti sayur dan buah. Melalui hal ini, mereka akan dapat mengetahui bahwa sama seperti seorang bayi manusia yang bisa tumbuh besar, maka biji-biji kecil yang mereka tanam juga bisa tumbuh besar menjadi pohon yang bisa menghasilkan buah. Begitupun dengan hewan peliharaan, mereka akan mengetahui bahwa anak kucing yang ukurannya dulu kecil dan tidak bisa bergerak dapat tumbuh menjadi kucing dewasa yang bisa bergerak dengan lincah.

Dan yang tidak kalah pentingnya adalah anak akan tumbuh menjadi sosok yang memiliki rasa pengertian dan kepedulian terhadap sekitar.  

Sampai jumpa di artikel selanjutnya ๐Ÿ˜Š

Wassalam!

Referensi:

Gibbs, A. Why You Should Teach Kids About Plans: The Benefits of Knowing About Plants at A Young Age. Montessorinature.com. Diakses pada 30 Januari 2023 dari https://www.montessorinature.com/why-you-should-teach-kids-benefits-of-knowing-plants/

Environmental Studies: How Important It is to Talk About Plants and Animals to Kids. PlanetSpark.in, https://www.planetspark.in/elements/environmental-studies-ndash-how-important-it-is-to-talk-about-plants-and-animals-to-kids. Diakses pada 30 Januari 2023

 

 

 

Senin, 23 Januari 2023

Pentingnya Meemperkenalkan Kebudayaan Lokal Sejak Usia Dini

Adam&Hawa

 Assalamu’alaikum, Parent!๐Ÿ˜Š

Artikel kita pada hari ini akan membahas seputar tips memperkenalkan budaya local kepada anak-anak. Salah satu keuntungan menjadi seseorang yang berkebangsaan Indonesia, kita dikelilingi oleh beragam jenis kebudayaan, mulai dari bahasa, pakaian, kesenian, kebiasaan, makanan, hingga nilai dan adat istiadat yang masih berlaku di tengah masyarakat. Bagi orang dewasa keberagaman ini tentu sudah dianggap wajar ya Parent tapi beda halnya dengan anak-anak. Ketika anak-anak berjumpa dengan kawan baru atau mungkin saudara jauh yang memiliki bahasa atau dialeg yang kedengarannya asing di telinga mereka, bisa menjadi sesuatu yang mungkin dipertanyakan anak-anak. Oleh karenanya, memperkenalkan anak-anak –setidaknya dengan budaya yang ada di wilayah tempat tinggal mereka adalah sesuatu yang perlu Parent lakukan.

Pengertian budaya

Kata ‘budaya’ berasal dari bahasa Sansekerta yaitu ‘Buddayah’ Buddhi yang artinya akal dan dayah adalah daya dari budi. Bentuk lain dari kata budaya adalah kultur atau yang biasa disebut dengan culture dalam bahasa inggris. Jadi budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang yang dimiliki oleh banyak orang yang bersangkutan dengan akal. Menurut KBBI budaya artinya pikiran, akal, budi, hasil, adat istiadat atau sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sukar diubah.

Budaya sendiri dapat terbentuk dari unsur dan sistem yang ada di kehidupan kita, termasuk agama, politik, ada istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunna dan karya seni. Ki Hadjar Dewantara mengemukakan bahwa kebudayaan berarti buah budi manusia adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni jaman dan alam yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran di dalam hidup dan penghidupan guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai.

Photo by Ed Us on Unsplash

Penitngnya memperkenalkan budaya kepada anak sejak dini

Beberapa tahun silam, sempat ramai diberitakan mengenai beberapa item kebudayaan asli Indonesia yang di klaim oleh negara tetangga kita. Hal tersebut menjadi sebuah PR besar bagi semua warga Indonesia, termasuk orang tua dan tenaga pendidik agar anak-anak dapat dibekali sedini mungki, bukan hanya pengetahuan praktikal tapi juga mengenai kebuadayaan negara sendiri. Oleh karenanya, bagaimana pun konsep yang dianut oleh sebuah sekolah –termasuk sekolah montessori sekalipun, tujuan pendidikan PAUD –sebagaimana tujuan satuan lembaga pendidikan lainnya, harus selalu mengacu pada tujuan pendidikan nasional sebagaimana yang ditetapkan dalam GBHN adalah

“… mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan nalar, keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta bertanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.”

Pada pembahasan di awal, kebudayaan menjadi salah satu area penting yang diajarkan di sekolah montessori baik yang umum maupun yang mengombinasikannya dengan Islam –termasuk Sekolah Montessori Islam Adam Hawa. Walaupun cakupan area belajar budaya dalam sekolah montessori cukup luas –bukan hanya dalam artian budaya yang berkaitan dengan seni, namun pelajaran terkait budaya Indonesia tetap menjadi salah satu kurikulum yang diajarkan di Sekolah Montessori Islam Adam Hawa.

Mengenalkan budaya bangsa kepada anak adalah salah satu cara untuk mengajarkan dan menumbuhkan kesadaran anak akan pentingnya mencintai kekayaan budaya bangsa. Anak merupakan pewaris yang akan mengambil banyak peran dalam membangun negara di masa depan. Tanggung jawab sebelum mengambil peran nyata mereka di masa depan dapat dimulai dengan menumbuhkan rasa cinta kepada tanah air melalui nilai, norma dan budaya asli negara sendiri –paling minimal adalah budaya lokal asal tempat tinggal mereka. Mereka akan memahami bahwa negara kita adalah negara yang sangat kaya akan kebudayaan dan keberagaman. Selanjutnya mereka akan belajar bagaimana saling menghargai dan toleran terhadap perbedaan tersebut.

Perkenalkan budaya, mulai dari wilayah setempat

Dalam usaha untuk memperkenalkan keberagaman budaya yang dimiliki negara kita, Parent bisa mencobanya dari kebudayaan wilayah setempat. Teknik memperkenalkannya tentu saja dengan cara yang menyenangkan, menyesuaikan dengan karakter anak yang suka bermain dan terkadang cepat bosan terhadap sesuatu. Beberapa media yang Parent bisa gunakan adalah, yang pertama buku. Parent bisa memilih cerita berupa dongeng nusantara yang saat ini masih bisa dijumpai di toko buku. Ceritakan dengan intonasi dan gerakan tubuh yang dapat menarik minat anak-anak. Akan lebih efektif jika Parent bisa melengkpainya dengan kostum ๐Ÿ˜Š. Parent juga bisa sesekali menyisipkan pantun atau peribahasa. Bagi anak-anak yang cenderung lebih aktif, Parent bisa mencoba untuk memperkenalkan kebudayaan melalui permainan tradisional. Untuk anak-anak yang memiliki jiwa seni yang tinggi, Parent boleh mencoba memperkenalkan anak-anak dengan alat musik tradisional khas provinsi di Indonesia. Beruntung kalau Parent memiliki satu alat musik tradisional sehingga anak-anak bisa sekalian belajar cara memainkannya. Jika pun tidak, Parent masih bisa kok memperlihatkannya melalui internet atau video yang menayangkan bagaimana orang memainkan alat musik tersebut.  Selain itu Parent juga dapat mengenalkan kebudayaan melalui tata-krama, kebiasaan dan nilai yang masih dijunjung tinggi di daerah setempat. Misalnya di Provinsi Sulawesi Selatan, ketika seseorang hendak kewat di hadapan orang yang sedang duduk (apalagi di hadapan orang yang lebih tua), mereka akan menundukkan badan dan berkata tabe’ atau dalam Bahasa Indonesianya berarti ‘permisi’.

Beberapa cara lain bisa Parent coba untuk mengakrabkan anak dengan kebudayaan lokal adalah dengan mengajaknya ke tempat-tempat yang sarat akan nilai sejarah dan kearifan lokal. Dalam hal ini Parent juga secara tidak langsung Parent telah menambah wawasan anak di bidang sejarah. Tempat yang dimaksud dapat berupa taman purbakala, taman wisata alam setempat, candi, keraton, museum dan situs bersejarah lainnya.

Melalui nilai-nilai kebudayaan yang telah anak-anak pelajari, Parent bukan hanya telah berkontribusi terhadap perkembangan anak namun ikut berpartisipasi menciptakan generasi yang cinta, peduli, punya empati untuk melestarikan warisan nilai luhur bangsa Indonesia.   

Sampai jumpa di artikel selanjutnya ๐Ÿ˜Š

Wassalam!

Referensi:

Kebudayaan, Ki Hajar Dewantara. 1994. Penerbit Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, 1994.

Mengenalkan Budaya Lokal Pada Anak Usia Dini. https://ayoguruberbagi.kemdikbud.go.id/artikel/mengenalkan-budaya-lokal-pada-anak-usia-dini/#:~:text=Memperkenalkan%20seni%20budaya%20pada%20anak,candi%20dan%20masih%20banyak%20lagi. Diakses pada Senin, 23 Januari 2023.

Mengenalkan Budaya Pada Anak Sebagai Generasi Penerus Bangsa Sejak Dini. https://blog.unnes.ac.id/hasannuriman/2015/11/25/mengenalkan-budaya-pada-anak-sebagai-generasi-penerus-bangsa-sejak-dini/. Diakses pada Senin, 23 Januari 2023.

 

 

Rabu, 18 Januari 2023

Ini 4 Alasan Mengapa Anak Tidak Menyukai Matematika. Parent Wajib Tahu!

Adam&Hawa

 Assalamu’alaikum, Parent! ๐Ÿ˜Š

Parent pasti sudah akrab dengan satu pelajaran ini. Yup it is math! –matematika. Di antara begitu beragamnya ilmu pengetahuan, matematika terkenal di kalangan anak-anak –bahkan orang dewasa sekalipun, sebagai subjek yang sulit untuk dipelajari. Dan, hari ini, kita akan bahas penyebab-penyebab mengapa anak tidak menyukai pelajaran matematika lengkap dengan tipsnya.

Matematika sebagai salah satu bidang ilmu sangat penting untuk perkembangan dan kemajuan peradaban umat manusia. Secara umu, matematika memainkan peranan penting agar orang-orang mampu memahami teori maupun prinsip dari bidang ilmu yang lebih spesifik dan bersifat praktikal seperti ilmu alam, teknik, studi sosial hingga musik dan seni. Manfaat bagi manusia itu sendiri ketika mereka mempelajari matematika adalah dapat meningkatkan kemampuan berpikir analitis dan penalaran yang baik. Berpikir analitis mengacu pada kemampuan untuk berpikir kritis tentang berbagai fenomena dunia di sekitar kita. Sedangkan penalaran adalah kemampuan kita untuk berpikir secara logis tentang suatu situasi. Di sekolah montessori secara umum maupun di Sekolah Montessori Islam Adam Hawa, matematika adalah salah satu dari lima area penting yang diajarkan.

Lantas dengan segudang manfaat yang dibawanya, tidak membuat matematika menjadi mata pelajaran favorit anak-anak. Mungkin ada, namun bisa dipastikan jumlahnya tidak akan sebanyak anak-anak yang menyukai pelajaran menggambar atau mewarnai.

Selain alasan karena ‘matematika itu sulit’ apa saja alasan yang menyebabkan begitu banyak anak-anak tidak menyukai matematika? Apa yang Parent dapat lakukan untuk membuat anak-anak bisa merasakan betapa menyenangkan dan ‘memuaskannya’ ketika mereka berhasil menyelesaikan soal matematika? Berikut ini AdamHawa akan coba paparkan alasan yang bisa saja menjadi penyebab anak-anak enggan menyukai matematika. Disimak ya Parent ๐Ÿ˜Š

Alasan 1: cara terbatas untuk mendapatkan nilai

Beberapa mata pelajaran seperti bahasa Inggris atau seni, nilai dapat berasal dari beberapa aspek penilaian seperti kreativitas, ejaan, tata bahasa, gaya, tanda baca, komposisi warna yang digunakan dan banyak lagi. Namun pada matematika, anak-anak akan menjumpai bahwa hanya ada sedikit peluang untuk mendapatkan nilai karena jawaban yang dihasilkan adalah jawaban pasti yang artinya hanya dua; jawaban benar atau salah.

Hal yang bisa Parent lakukan adalah membantu anak fokus untuk memahami materi. Point pentingnya adalah bagaimana Parent membantu anak untuk belajar melihat jawaban –baik itu jawaban yang benar atau salah sebagai sesuatu yang positif. Walaupun pelajaran seperti bahasa dan seni memiliki banyak aspek sebagai sumber nilai, di satu sisi hal ini malah bisa menjadi celah bagi anak-anak untuk kehilangan point dalam tugas mereka. Dalam matematika, jika Parent berupaya agar anak dapat memahami materi matematika yang akan diujikan –maka tidak seperti dua pelajaran lain yang telah disebutkan, anak-anak bisa dengan mudah mendapatkan nilai yang sempurna.

Alasan 2: pelajaran yang membosankan

Beberapa anak-anak tidak menyukai matematika karena menurut mereka matematika itu membosankan. Mereka tidak tertarik dengan angka dan rumus sebagaimana mereka tertarik dengan sejarah, sains, bahasa, atau mata pelajaran lain yang lebih mudah dikaitkan dengan kehidupan nyata dan pribadi mereka. Mereka melihat matematika sebagai sesuatu yang abstrak dan tidak relevan yang sulit dipahami.

Hal yang Parent bisa lakukan adalah sekreatif mungkin menghubungkan matematika ke skenario kehidupan nyata. Tunjukkan kepada anak bagaimana matematika berhubungan dengan hal-hal yang terjadi di dunia nyata untuk memicu minatnya pada mata pelajaran tersebut. Jika Parent memiliki kerabat atau teman yang bidang pekerjaannya erat dengan hitung-hitungan, ada baiknya Parent berinisiatif untuk mengajak anak untuk bertemu dan berbicara tentang pekerjaan mereka. Selain itu, Parent juga dapat menunjukkan bagaimana matematika berperan dalam kehidupan sehari-hari melalui contoh-contoh sederhana seperti saat mengajak mereka belanja bulanan di pasar, tunjukkan bagaimana matematika berperan dalam mengetahui jumlah belanjaan atau hal sederhana lainnya seperti memberi tahu tentang waktu.

Alasan 3: membutuhkan banyak hafalan

Banyak anak-anak yang berjuang untuk memahami matematika dengan menghafal semua teori, rumus dan persamaan yang ada. Namun pada kenyataannya, menghafal hanyalah salah satu bagian dari belajar matematika.

Tips untuk membantu anak keluar dari kesulitan ini adalah ajarkan mereka untuk berfokus pada pemecahan masalah. Alih-alih hanya menghafal, anak-anak seharusnya berkonsentrasi untuk memahami bagaimana dan mengapa suatu rumus dapat bekerja pada satu soal dan rumus lainnya tidak. Anak-anak yang mengandalkan hafalan saat belajar matematika tidak mampu menerapkan pengetahuannya dan cenderung berkecil hati atau tidak percaya diri saat diminta untuk berpikir out of the box atau berpikir kreatif.

Di waktu luang anak-anak, Parent bisa nih menawarkan permainan asah otak berbasis angka yang berfokus untuk membangun keterampilan memecahkan masalah daripada menghafal. Ini bisa menjadi cara yang menyenangkan untuk membuat anak-anak lebih bersemangat untuk memahami matematika.

Alasan 4: dibutuhkan banyak ‘kesalahan’

Untuk belajar dan memahami, matematika cenderung mensyaratkan banyak ‘kesalahan’ bagi yang mempelajarinya untuk bisa ‘berjumpa’ dengan jawaban yang benar. Siswa harus mengulangi jenis pertanyaan yang sama berulang kali sampai mereka mendapatkan jawaban yang benar—dan hal ini terkadang membuat anak lelah, frustrasi. Bukan hanya orang dewasa ya Parent tapi anak pun, ketika mereka mendapat jawaban yang salah secara berulang dapat berujung pada menurunnya kepercayaan diri, yang membuat mereka lebih memilih untuk menghindari subjek tersebut.

Cara membantu anak adalah dengan menunjukkan bahwa membuat kesalahan adalah bagian dari pembelajaran. Sejak dini, Parent perlu mengajari anak bagaimana pentingnya agar mereka tidak menghindari tugas yang menantang dan membutuhkan kerja keras. Bantu anak untuk memahami bahwa semakin sulit mendapatkan jawaban yang benar, semakin memuaskan saat dia akhirnya menyelesaikannya. Jika anak mulai putus asa saat belajar matematika, ingatkan dia bahwa membuat kesalahan hanyalah bagian dari proses belajar. Pelajaran berharga ini berlaku baik di dalam kelas maupun dalam kehidupan secara keseluruhan.

Matematika selalu menjadi mata pelajaran yang menakutkan di kalangan anak-anak. Namun diingat kembali ya Parent, bahwa matematika punya begitu banyak manfaat yang sangat penting –walaupun pada akhirnya anak tidak memilih jalan karir mereka di bidang matematika. Bukan hanya pada pelajaran matematika namun nilai ‘kesalahan adalah bagian dari proses belajar’ berlaku untuk pelajaran apapun.

Sampai jumpa di artikel selanjutnya ๐Ÿ˜Š

Wassalam!


Jumat, 13 Januari 2023

Anak dan Gula 101: Bahaya yang Mengintai Di balik Manisnya Gula (Bagian 3)

Adam&Hawa

Assalamu’alaikum Parent๐Ÿ˜Š

Hari ini AdamHawa akan membahas lagi bagian selanjutnya dari pembahasan kita mengenai ‘hubungan’ spesial antara anak dan gula. Dibagian ketiga ini, AdamHawa akan fokus untuk membahas dampak apa saja yang akan terjadi jika anak mengonsumsi gula di luar ambang batas yang telah dianjurkan. Disimak ya, Parent!

Pada pembahasan terakhir, kita sudah membahas mengapa anak-anak –jika dibandingkan dengan kelompuk umur lainnya, memiliki ketertarikan yang besar terhadap gula. Dari sana kita pahami bahwa alasannya bisa dilihat dari reaksi kimia yang terjadi di dalam otak manusia secara umum dan juga berdasarkan kebutuhan tubuh anak-anak akan energi.

Photo by Rod Long on Unsplash

Sebagai orang tua, memberikan panganan manis kepada anak adalah alternatif yang paling sering dilakukan sebagai bentuk apresiasi atau penghargaan kepada anak apabila mereka berhasil melakukan sesuatu. Meskipun, tentu saja anak akan dengan senang hati menikmatinya, namun hal yang Parent perlu perhatikan disini adalah bagaimana membatasi konsumsi gula agar tidak melewati ambang batas sesuai anjuran Kementrian Kesehatan Indonesia. Karena dibalik rasanya yang ‘menyenangkan’ konsumsi gula berlebih dapat berujung pada beberapa masalah kesehatan.

Membangun hubungan yang sehat dengan gula termasuk didalamnya adalah dengan memisahkan ‘perasaan’ dan pengaruh lingkungan dalam memutuskan jenis panganan yang ingin dikonsumsi. Berikut ini beberapa hal yang Parent perlu perhatikan dalam membantu anak ‘meredam’ keinginan terhadap panganan manis, menikmati makanan dengan nutrisi seimbang namun tetap bisa menikmati gula sebagai selingan.

Menghindari masalah kesehatan di masa depan

Walaupun mengonsumsi gula dalam jumlah yang banyak sepertinya tidak memberi masalah kesehatan dalam jangka waktu pendek, namun membangun kebiasaan makan sehat sejak kecil sangatlah penting. Asupan gula yang tinggi meningkatkan resiko obesitas, penyakit jantung dan kanker, terutama seiring bertambahnya usia. Sedangkan beberapa jenis penyakit seperti nyeri sendi, dan asam urat dapat timbul sebagai akibat lebih lanjut dari obesitas.

Membentuk kebiasaan makan bergizi sejak dini akan membimbing dan membuat anak terbiasa dengan gaya hidup sehat di masa depan. Di usia mereka yang sekarang, Parent mungkin harus melakukan usaha ekstra untuk membiasakan mereka mengonsumsi makanan bergizi, namun ketika mereka dewasa, mereka akan menganggap mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang sebagai suatu kebiasaan yang secara ‘otomatis’ akan  mereka lakukan. Saat ini, hal yang Parent perlu lakukan adalah, alih-alih fokus terhadap dampak negatif dari gula, berfokuslah ke manfaat makanan bergizi, untuk membangun pola dan sikap positif tentang pola makan yang baik dan seimbang.

Memastikan nutrisi yang cukup

Alih-alih mengisi sistem pencernaan anak dengan energi ‘kosong’ dari gula, berikan makanan dengan nutrisi seimbang untuk membantu mereka tumbuh dan berkembang. Orang dewasa disarankan untuk membatasi konsumsi gula dibawah 10% dalam jumlah kalori yang dibutuhkan setiap hari (lebih kurang sekitar 12 sendok teh atau 48 gram). Sedangkan untuk kasus anak-anak adalah sebanyak 25 gram atau 6 sendok teh per hari.

Panganan manis tidak hanya menggantikan makanan dengan zat gizi penting seperti, protein, buah-buahan, sayuran, susu, dan biji-bijian tetapi juga ‘menghabiskan’ vitamin dari tubuh selama proses pencernaan, seperti vitamin B yang berperan dalam proses metabolisme (penguraian) glukosa (gula).

Anak-anak yang sedang tumbuh membutuhkan protein untuk perkembangan otot dan lemak baik untuk mendukung otak dan sistem saraf mereka. Seorang anak yang minum soda atau jus kemasan daripada susu biasa kehilangan kalsium untuk pertumbuhan gigi dan tulang yang kuat. Melatih indera pengecap anak-anak terhadap rasa makanan alami tanpa gula tambahan membuat mereka memiliki kebiasaan makan yang lebih sehat dan sebagai langkah dini untuk mencegah munculnya penyakit kronis di masa dewasa.

Melindungi kesehatan gigi

Selain sebagai langkah untuk mencegah penyakit diabetes dan penyakit jantung –sebagai akibat jangka panjang mengonsumsi gula berlebih, menghindari gula tambahan dapat membuat anak-anak tidak perlu menjalani perawatan gigi yang menyakitkan dan mahal. Karena faktanya, kerusakan gigi diperparah dengan konsumsi makanan dan minuman manis secara ‘teratur’. Jika tidak diobati dengan benar, masalah gigi dapat menyebabkan infeksi serius (bahkan jika itu hanya gigi susu).

Bersamaan dengan menghindari cemilan dan minuman manis, mengajari anak-anak untuk rutin menyikat gigi pada usia muda, membantu menghilangkan sisa-sisa gula penyebab plak dan membantu menjaga gigi agar tetap kuat dan sehat. Tips sederhana yang bisa Parent coba untuk mengajarkan anak-anak membangun kebiasaan menyikat gigi dapat dimulai dengan menggosok gigi tanpa menggunakan pasta gigi. Perlahan beri penjelasan yang mudah dipahami oleh anak-anak tentang pentingnya menyikat gigi.

Ketahui kandungan gula ‘tersembunyi’ pada makanan

Makanan dengan target pasar anak-anak seringkali mengandung gula yang tinggi. Beberapa makanan yang sudah sangat jelas mengandung kadar gula tinggi adalah, soda, permen, sereal manis dan jus kemasan. Selain itu, Parent juga perlu tahu ya, kalau gula juga terdapat pada makanan yang diklaim sebagai ‘makanan sehat’ dan ‘bergizi’ seperti, snak granola, yoghurt berperisa, sereal ‘sehat’, saus pasta, saus tomat, hingga saus apel.

Keterampilan yang sangat perlu Parent pelajari adalah jeli membaca label makanan agar Parent dapat mengenali kandungan gula tambahan sebelum membeli. Kebiasaan sederhana seperti mengganti menu seperti saus apel alami tanpa pemanis dibandingkan yang berperisa dan buah ‘utuh’ dibandingkan jus buah kemasan atau sirup dapat membantu Parent mengurangi asupan gula tambahan yang dikonsumsi anak-anak.

Periksa daftar komposisi makanan untuk beberapa istilah seperti jus tebu, sirup jagung, dextrose (dekstrosa), brown rice syrup, raw sugar, dan crystal solids yang merupakan nama lain dari gula. Membangun kebiasaan minum air mineral dan susu tanpa perisa merupkan langkah yang sangat baik untuk mengurangi asupan gula.

Mendorong gaya hidup sehat dan seimbang

Ketika anak-anak berada pada lingkungan yang menerapkan kebiasaan makan sehat, sebagian besar dari mereka akan mengikuti atau mengatur aktivitas makan berdasarkan ‘sinyal lapar’ internal mereka. Untuk mengatasi hal ini, alih-alih memberi atau menawarkan panganan manis sebagai hadiah (atau menahannya sebagai bentuk hukuman), Parent sebaiknya mendorong anak-anak untuk memperhatikan bagaimana ‘perasaan tubuh’ anak-anak dan mulai membangun ‘hubungan yang baik’ dengan makanan. Ajarkan mereka tentang bagaimana membangun beberapa sikap positif terkait dengan makanan, seperti ‘makan perlahan’, ‘berhenti sebelum kenyang’, dan tidak memberi penilaian tentang makanan, bahwa ini makanan yang ‘baik’ atau ‘buruk’.

Beberapa perilaku lain yang bisa Parent coba praktikkan di rumah adalah dengan duduk makan bersama keluarga dan membiarkan anak-anak untuk membantu Ibu di dapur. Sebaiknya, Parent harus mulai mencoba berhenti menjadikan makanan sebagai hadiah atau hukuman. Jika Parent tetap ingin menjadikan makanan sebagai bentuk apresiasi, buatkan makanan dengan kandungan gizi seimbang ya Parent. Hadiah non-makanan melainkan berupa barang seperti stiker –yang biasanya disukai anak-anak atau jika disaat yang bersamaan anak-anak sedang membangun menabung untuk membeli barang impian mereka, Parent boleh memberikan reward ke dalam celengan mereka ๐Ÿ˜Š. Tapi tentunya pemberian apresiasi yang terbaik adalah dengan mengekspresikan secara langsung rasa sayang melalui tindakan, seperti pelukan.

Langkah selanjutnya yang Parent bisa coba adalah dengan tidak menyetok cemilan manis di rumah. Anak-anak akan cenderung memilih-milih makanan, namun jika semua pilihannya hanyalah makanan sehat, maka Parent tidak perlu khawatir. Jelaskan kepada anak-anak bahwa beberapa makanan adalah makanan sehari-hari, sementara yang lain adalah makanan yang hanya sesekali boleh di konsumsi. Hal ini selain menghindari pemberian ‘penghakiman’ moral kepada makanan, namun Parent tetap bisa menyampaikan bahwa panganan manis hanya boleh dikonsumsi sesekali. Ketika anak-anak mengonsumsi makanan manis di luar rumah, sebut saja ketika mereka menghadiri acara ulang tahun atau menikmati snak sore di rumah kakek neneknya, Parent tidak usah terlalu mempermasalahkan hal ini. Move on dan fokus membangun kebiasaan makan yang baik di rumah.

 

Oke, segitu dulu ya Parent. Alhamdulillah cukup panjang juga ya pembahasan kita. Hmm, apakah masih akan berlanjut ke bagian empat? Jawabannya, stay tune terus saja ya di blog AdamHawa ๐Ÿ˜Š

Sampai jumpa dan,

Wassalam!

Selasa, 10 Januari 2023

Parent, Yuk Bantu Anak Menentukan Tujuan Saat Tahun Ajaran Baru! (Bagian 2)

Adam&Hawa

Assalamu’alaikum Parent!

Alhamdulillah, sejak hari senin kemarin sudah masuk tahun ajaran baru ya. Semoga bisa menjadi permulaan yang baik dan berkah bagi anak-anak untuk memulai ‘kembali’ aktivitas akademik mereka ๐Ÿ˜Š

Berlanjut kepada pembahasan yang kemarin terkait bagaimana membantu anak untuk menetapkan target atau tujuan ketika mereka memulai tahun ajaran baru di sekolah. Telah dibahas sebelumnya ya Parent kalau manfaat yang didapatkan anak-anak ketika mereka telah terbiasa untuk menetapkan tujuan sejak dini, Insyaallah mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang ‘punya arah’tahu apa yang mereka inginkan dan bagaimana cara untuk mencapainya. Anak-anak juga perlahan akan tumbuh menjadi sosok yang mandiri dan mau bekerja keras untuk mencapai suatu tujuan.

Mengacu pada pembahasan kita yang terakhir tentang bagaimana peran Parent selaku orangtua dalam membimbing anak menetapkan dan mencapai tujuan mereka, berikut adalah kelanjutan tipsnya.

Brainstorming diskusikan bersama!

Ketika Parent menginginkan agar anak memegang kendali penuh atas tujuan yang hendak mereka capai, hal selanjutnya yang bisa Parent lakukan adalah mendiskusikan tujuan yang akan dicapai bersama dengan anak. Terkait hal ini, hal-hal yang bisa Parent praktekkan adalah dengan mengajukan pertanyan, seperti mata pelajaran apa yang anak tertarik untuk pelajari lebih dalam, kemampuan atau kekurangan dalam hal akademik yang ingin mereka tingkatkan atau perbaiki, pelajaran favorit atau kegiatan ekstrakurikuler favorit mereka di sekolah, dan pendapat dari orang-orang di sekolah anak terhadap kemampuan mereka dalam hal-hal spesifik.

Catat beberapa pertanyaan hingga terbentuk satu tujuan yang merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Untuk lebih memudahkan, Parent bisa membaginya menjadi dua, yaitu, tujuan jangka pendek dan tujuan jangka panjang..

Bantu anak memperbaiki tujuannya

Setelah anak mendapatkan ide umum untuk tujuan atau sasaran yang ingin mereka capai, langkah selanjutnya adalah mempersempit apa yang secara spesifik ingin mereka capai—dan memastikan tujuan tersebut layak. Inilah saat Parent dapat membantu anak dalam menyempurnakan tujuan mereka menjadi sesuatu yang dapat dilakukan dan dicapai oleh mereka, di tingkat kelas mereka saat ini di dalam satu tahun akademik.

Misalnya, jika mereka ingin membaca keseluruhan seri suatu buku, bantu mereka memilih buku yang sesuai dengan tingkat bacaan mereka. Jika mereka mengatakan ingin bergabung dengan lima klub atau kegiatan ekstrakurikuler baru, Parent dapat merekomendasikan agar mereka mempertimbangkan berapa banyak waktu luang yang mereka miliki dan sesuaikan kembali dengan tujuan mereka. Jika mereka memiliki banyak keterampilan baru yang ingin mereka kuasai, Parent boleh menyarankan agar mereka mahir dalam satu keterampilan dahulu sebelum beralih ke keterampilan berikutnya.

Ada saatnya, Parent akan mendapati anak memiliki tujuan yang ‘terlalu tinggi atau tidak realistis sehingga Anda tidak yakin akan tercapai. Alih-alih memberi tahu anak bahwa menurut Parent mereka tidak dapat melakukannya, Parent dapat membantu menyempurnakan tujuan ini dengan cara memecahnya menjadi tujuan-tujuan yang lebih kecil

Sebut saja, ketika anak ingin masuk klub olahraga yang mensyaratkan tinggi tertentu, namun sayangnya anak belum mencapai batas minimalnya. Tugas Parent adalah membuat target ‘tidak realistis’ ini menjadi tujuan yang dapat dicapai secara perlahan. Parent bisa menyarankan anak untuk melakukan aktivitas-aktivitas lain yang dapat membantu pertumbuhan tinggi anak atau mengonsumsi makanan bergizi. Mungkin tidak secara langsung membuat anak bisa mengikuti klub basket tetapi secara perlahan akan membawa anak menuju target tersebut. Melalui hal ini, anak dapat belajar kembali bagaimana menghargai suatu proses dalam mencapai tujuan.

Kembangkan rencana

Setelah anak menentukan tujuan mereka, bimbing mereka melalui proses perencanaan bagaimana mencapainya. Brainstorming seperti yang telah dijelaskan sebelumnya juga dapat Parent terapkan dalam tahap ini. Ketika Parent mendapati bahwa tujuan atau target yang ingin dicapai anak terlalu besar, maka bantu mereka untuk ‘merencanakan kembali’ tujuan tersebut dengan memecahnya menjadi langkah-langkah kecil atau menjadi sebuah keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk mencapai tujuan besar. Untuk lebih memudahkan, Parent bisa membuatkan jadwal khusus terkait hal ini dan pantau anak apakah mereka konsisten mengikutinya setiap hari.

Selain itu, bentuk dukungan lain yang bisa Parent berikan dapat berupa afirmasi positif. Memberi afirmasi positif tentang bagaimana anak-anak telah berniat untuk mencapat satu tujuan adalah sesuatu yang telah menempatkan mereka di jalan yang benar. Jika ingin membantu, Parent sebaiknya harus lebih peka untuk merpertimbangkan bantuan apa –jika ada, yang anak-anak butuhkan. Sekali lagi, beri mereka ruang untuk memikirkan dan melakukan langkah-langkah yang akan mereka lalui saat mereka berusaha mewujudkan tujuan mereka.

Buat pengingat visual

Pengingat visual dapat berbentuk apa saja. Untuk anak-anak memerlukan upaya yang lebih besar untuk bisa fokus pada langkah-langkah, akan sangat membantu jika Parent menggunakan berupa anak-anak tangga –yang mewakili langkah atau proses yang harus anak lewati yang akan membawa mereka pada puncaknya. Di bagian paling atas atau puncak anak tangga tuliskan tujuan sebagai pencapaian akhir.

Dengan menggunakan model visual seperti ini, anak akan lebih mudah membayangkan langkah-langkah kecil (atau keterampilan) yang diperlukan untuk mencapai tujuan mereka yang lebih besar. Parent juga bisa menggunakan cara yang lebih sederhana seperti meminta anak menuliskan tujuannya dan menempelnya pada dinding kamar atau tempat yang sering mereka lewati untuk semakin membulatkan tekad mereka untuk mencapainya. Intinya, dalam bentuk visualisasi apapun  yang dapat mereka lakukan untuk mendokumentasikan tujuan mereka dan proses yang akan mereka gunakan untuk mewujudkannya dapat menjadi langkah yang efektif.

Apresiasi kemajuan dan kesukesan anak

Setelah membuat visualisasi, Parent perlu memantau sudah sejauh mana anak berproses. Secara berkala, lihat tangga tujuan bersama mereka dan tandai setiap langkah yang telah mereka capai. Ajak anak untuk 'merayakan' setiap kesuksesan kecil yang berhasil mereka capai. Ketika anak berjumpa dengan kegagalan dalam tujuan-tujuan kecilnya, ingatkan anak bahwa hal bernama kegagalan bukanlah sesuatu yang perlu ditakutkan. Berikan anak apresiasi dan pujian atas usaha yang telah mereka lakukan. Berikan saran jika anak mengalami kemunduran atau merasa lelah atau bosan di sepanjang jalan menyelesaikan tujuan-tujuan kecil. Pemberian apresiasi dan semangat dapat membantu anak menjaga momentum dan memahami bahwa kemajuan maupun kegagalan sama pentingnya yang akan membawa mereka ke tujuan akhir atau tujuan besar.

Pengalaman dalam menetapkan target atau tujuan saat kembali ke sekolah dapat membantu anak untuk berpartisipasi aktif dalam lingkup organisasi yang lebih besar, dalam hal ini adalah di lingkungan sekolah. Dengan berproses untuk mencapai target dan tujuan yang mereka miliki Parent secara tidak langsung telah mengajari mereka bahwa mereka adalah ‘perancang utama’ perjalanan akademis mereka. Ingatkan anak bahwa meskipun mencapai tujuan adalah sesuatu yang bagus, mereka tidak perlu khawatir jika ada yang tidak terpenuhi. Katakan bahwa mereka selalu dapat menyesuaikan kembali atau menetapkan tujuan baru yang lebih baik lagi selanjutnya. Melalui pengalaman menetapkan tujuan ini, anak dapat belajar dari tujuan yang gagal sama banyaknya dengan tujuan yang berhasil. Tidak mencapai tujuan mengajarkan anak bagaimana menjadi fleksibel, berpikir kritis, memecahkan masalah, resiliensi dan bagaimana mengatasi kekecewaan dan bangkit setelahnya.  

Sampai jumpa di artikel selanjutnya, Parent ๐Ÿ˜Š

Wassalam!

Rabu, 04 Januari 2023

Parent harus tahu! Begini Cara Menjaga Daya Tahan Tubuh Anak Saat Musim Hujan

Adam&Hawa

 Assalamu’alaikum, Parent! ๐Ÿ˜Š

Hujan-hujan di sore ini, AdamHawa akan bagi tips seputar kesehatan nih Parent. Parent tahu kan kalau anak-anak tuh gampang terkena infeksi virus maupun bakteri apalagi di cuaca dingin seperti sekarang. Oleh karenanya, sangat penting bagi Parent untuk mengetahui cara menjaga daya tahan tubuh anak-anak apalagi selama musim penghujan seperti sekarang ini. Langsung disimak saja ya, Parent!  

Jika merujuk pada usia anak-anak, sistem imun atau sistem pertahanan tubuh mereka belum sepenuhnya terventuk hingga mereka berusia sekitar 8 tahun. Oleh karenanya mereka mudah terpapar oleh batuk, flu dan infkesi lainnya.

“Antara umur 6 – 18 bulan, anak secara khusus mudah terinfeksi karena antibodi yang diwariskan oleh ibu mereka melemah dan disaat yang bersamaan mereka belum membangun antibodi mereka sendiri.” Kata dr. Tommy Sรถdergren, Konsultan Pediatrik Livi

Jika dirata-ratakan, anak akan terjangkit 8 – 10 pilek dalam setahun sebelum mereka menginjak usia dua tahun. Ini bukan merupakan tanda dari lemahnya imun melainkan —ini berarti mereka bersentuhan dengan banyak virus flu untuk pertama kalinya.

Kekebalan bekerja dalam dua cara. Pertama, ada kekebalan bawaan, yang merupakan bawaan sejak lahir, yang akan memberikan pertahanan umum. Lalu ada kekebalan adaptif yang merespons ancaman atau antigen yang kita temui, dan membuat ‘perangkat pertahanan’ yang dibuat khusus, yang disebut antibodi. Ini juga yang terjadi ketika kita divaksinasi dengan versi virus atau bakteri yang dilemahkan. Oleh karena anak-anak menghadapi begitu banyak infeksi baru, sistem kekebalan mereka selalu waspada

Namun karena memang pilek dan batuk sesekali tidak bisa dihindari oleh anak-anak. Tetapi Parent dapat melakukan tujuh langkah ini untuk mendukung sistem kekebalan tubuh anak. Disimak ya Parent

Pastikan mereka banyak istirahat

Ada pepatah yang mengatakan bahwa tidur nyenyak adalah obat terbaik, dan kualitas tidur memiliki hubungan yang erat dengan kekebalan. Memiliki waktu tidur yang cukup dapat membantu mengurangi peradangan dan memberi tubuh kita waktu untuk memperbaiki sel-sel yang rusak dan disaat bersamaan dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh. Ketika tubuh dalam keadaan tidak sehat dan sistem kekebalan tubuh sedang melawan ancaman virus atau bakteri yang mulai menginfeksi, respons kekebalan kita membuat kita merasa mengantuk karena sumber daya tubuh difokuskan untuk melawan infeksi atau memperbaiki cedera.

Photo by zhenzhong liu on Unsplash

Bayi dan balita membutuhkan setidaknya 11 jam semalam ditambah tidur siang di siang hari. Dari usia 4 hingga 9 tahun, anak-anak membutuhkan 9,5 hingga 11,5 jam semalam dan anak-anak yang lebih tua serta remaja membutuhkan antara 9 dan 10 jam semalam.

Rutinitas menjelang tidur yang baik adalah kunci untuk menenangkan anak yang sedang sakit ketika sudah waktunya mereka harus tidur. Mandi air hangat, lampu yang redup, dan waktu tenang akan membantu mereka rileks dan lebih tenang. Selain itu, hal-hal lain yang perlu diperhatikan adalah membatasi penggunaan layar sebelum tidur dan menjaga sirkulasi udara pada kamar dengan baik.

Pilih makanan yang tepat

Sistem kekebalan tubuh kita membutuhkan bahan bakar atau sumber energi yang tepat untuk melawan infeksi, dan penelitian memastikan bahwa makan banyak buah dan sayuran meningkatkan fungsi kekebalan tubuh. Bahkan membuat vaksin yang telah diterima oleh anak menjadi lebih efektif.

Nutrisi lain yang penting adalah protein —khususnya asam amino yang disebut arginin, yang ditemukan dalam daging, kacang-kacangan, dan buncis. Makanan ini juga mengandung banyak zinc, yang mengurangi risiko infeksi saluran pernapasan dan diare pada anak. Yoghurt dan minuman probiotik meningkatkan kadar bakteri baik di usus, dan juga dapat membantu mengurangi risiko infeksi pernapasan.

Berolahraga

Menjaga agar anggota keluarga tetap aktif dapat membantu meminimalisir resiko pilek, khususnya pada anak-anak karena olahraga membantu sistem kekebalan ‘mencari’ dan menghancurkan infeksi, kata Dr Sรถdergren. 'Musim dingin adalah musim saat infeksi seperti flu memiliki kemungkinan yang tinggi untuk menginfeksi karena kita menghabiskan lebih banyak waktu di dalam ruangan, sehingga lebih mudah menularkan infeksi virus. Namun Parent tidak perlu khawatir jika anak-anak tidak bisa menghabiskan waktu di luar ruangan karena cuaca yang kurang mendukung. Parent bisa melakukan permainan yang cukup merangsang gerak anak atau mempraktekkan senam anak di dalam rumah.

Photo by Jakayla Toney on Unsplash

Hindari konsumsi antibiotik yang tidak perlu

Jangan meminta antibiotik kepada dokter saat anak sedang pilek, karena antibiotic tidak bekerja melawan virus yang menyebabkan pilek dan batuk, kata Dr Sรถdergren. 'Satu-satunya hal yang akan terjadi adalah Anda akan menambahkan diare pada gejalanya.' Antibiotik juga dapat membuat kita lebih rentan terhadap infeksi karena mengganggu bakteri menguntungkan di usus. Alih-alih memberi antibiotik, hal yang bisa Parent lakukan adalah karena sebagian besar batuk dan pilek dapat diobati di rumah, Parent harus memastikan anak mendapat waktu istirahat dan minum air yang cukup. Jika diperlukan obat, parasetamol atau ibuprofen bisa menjadi alternatif.

'Dalam kasus yang jarang terjadi, anak-anak mendapatkan infeksi bakteri –seperti tonsilitis streptokokus, infeksi telinga, pneumonia –yang merupakan "komplikasi" flu,’ tambah Dr Sรถdergren. 'Meski begitu, dalam banyak kasus antibiotik tidak diperlukan.'

Parent dianjurkan untuk meneemui dokter ketika gejala flu tidak kunjung membaik setelah satu pekan, jika semakin parah setelah tiga hari, atau jika suhu tubuh anak sangat tinggi. 'Pilek atau batuk adalah tanda bahwa sistem kekebalan bekerja untuk membersihkan tubuh dari antigen dan lendir dan gejala ini dapat bertahan beberapa saat setelah flu biasa,' Dr Sรถdergren menegaskan. 'Jika gejalanya menetap selama lebih dari 6 minggu, temui dokter.'

Jaga kebersihan!

Tips yang juga tidak boleh Parent sepelekan adalah bagaimana kualitas kebersihan anak tetap terjaga. Pastikan anak-anak mencuci tangan dengan sabun dan air setiap kali menggunakan toilet dan sebelum makan. Untuk menghindari infkesi dari anggota keluarga yang sedang sakit, jauhkan sikat gigi anggota keluarga yang lainnya dan gantilah segera setelah gejalanya hilang. Selain itu, jangan gunakan saputangan –melainkan tisu untuk menghindari penyebaran kuman. Kebiasaan lain yang Parent harus perhatikan adalah cegah anak untuk menggosok mata atau mengunyah kuku. Ketika berada di lingkungan sekolah pastikan sebelum berangkat, masukkan tisu atau pembersih tangan ke dalam tas sekolah untuk memastikan mereka selalu dapat membersihkan tangan.

Photo by Joshua Lanzarini on Unsplash

Tapi jangan khawatir jika mereka menjadi sedikit kotor saat anak-anak bermain. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa terpapar kuman dan infeksi sehari-hari dapat memperkuat kekebalan tubuh, sementara menjaga kebersihan secara berlebihan mungkin tidak memberi pengaruh yang terlalu signifikan terhadap sistem kekebalan tubuh anak.

Itulah tadi Parent, tips menjaga daya tahan tubuh anak saat musim penghujan seperti sekarang. Bukan hanya anak ya yang harus menjaga kesehatan, namun Parent juga sebagai orang yang paling banyak menghabiskan waktu bersama anak, juga harus sehat. Oleh karenanya, perkecil kemungkinan anak terinfeksi virus dan bakteri dari Parent, ya! Mencegah lebih baik daripada mengobati

Sampai jumpa di artikel selanjutnya! ๐Ÿ˜Š

Wassalam!

Senin, 02 Januari 2023

Parent, Yuk Bantu Anak Menentukan Tujuan Saat Tahun Ajaran Baru! (Bagian 1)

Adam&Hawa

Assalamu’alaikum, Parent! ๐Ÿ˜Š

Alhamdulillah, hari ini adalah hari senin pertama di tahun 2023 ya, Parent. Apapun tujuan, target, rencana yang Parent miliki di tahun ini, semoga diwujudkan dan diridhai oleh Allah SWT ๐Ÿ˜Š

Artikel pertama di awal tahun 2023 hari ini akan kembali pada sesi #ParentHarusTahu yang khusus akan membahas bagaimana –Parent sebagai orang dewasa membantu anak-anak untuk menyusun target yang ingin mereka capai di tahun ajaran baru sekolah.  

Istilah back to school ataupun new year school bagi anak-anak yang baru hendak memulai perjalanan sekolahnya, keduanya merupakan momentum bagi anak untuk belajar menentukan tujuan atau target yang ingin mereka capai selama masa tersebut. Menetapkan tujuan tidak hanya membantu anak-anak mendapatkan pengalaman terbaik dalam masa sekolah tetapi sebagai kesempatan untuk belajar mengasah keahlian yang berkaitan dengan mencapai tujuan dan target.

Photo by Deleece Cook on Unsplash

Kalau di Indonesia, kita familiar dengan budaya dan kebiasaan ‘mempersiapkan’ (membeli) benda-benda untuk dipakai anak sebelum masuk sekolah, seperti, sepstu, tas dan perlengkapan lainnya. Hal ini tidak salah dilakukan, namun Parent juga harus membantu anak –lebih tepatnya menanyai mereka tentang kehidupan bersekolah seperti apa yang mereka inginkan dan apa yang hendak mereka capai dalam tahun ajaran baru. Tugas Parent selanjutnya adalah membantu mengubah ‘resolusi’ anak menjadi aksi nyata yang akan membawa mereka pada tujuan yang hendak mereka raih.

Mengapa perlu menentukan tujuan?

Anak-anak mungkin terinspirasi untuk menyelesaikan satu bagian buku untuk dibaca sendiri, mengikat tali sepatu secara mandiri, menulis kalimat pertama mereka atau menguasai kemampuan matematika dasar. Atau, mereka mungkin berharap untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, mendapatkan teman baru atau percaya diri ketika berbicara di depan kelas, datang ke sekolah tepat waktu, mendapatkan ranking yang tinggi di kelas, tepat waktu menyelesaikan pekerjaan rumah dan sederet target-target baik lainnya.

Hal yang Parent bisa lakukan adalah –terlepas dari apapun tujuan dan target sekolah yang anak miliki, memberi jeda untuk merencanakan langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut sebelum anak masuk sekolah. Hal ini dapat membantu anak-anak untuk memiliki ‘awal’ dan persiapan yang lebih matang, membantu terbentuknya pola pikir yang positif dan yang terpenting adalah agar mereka siap untuk mencapai target mereka sendiri.

Belajar menentukan tujuan dan target (dan brusaha mencapainya) mampu menumbuhkan sikap kemandirian dan memahami bahwa mereka memiliki kendali penuh atas apapun yang hendak mereka capai, tetapi Parent tetap mengarahkan yang sesuai dengan fitrah mereka. Ketika anak memutuskan hal apa yang hendak ingin mereka raih, mereka akan termotivasi untuk menyelesaikan hal tersebut karena alasan ‘kepuasan’ sendiri dan ajang untuk belajar hal baru, bukan karena ingin mendapatkan pengakuan dari orang lain atau hanya termotivasi karena adanya hadiah.

Alasan penitng lainnya mengapa anak perlu menentukan tujuan dan target dalam perjalanan sekolah mereka adalah dapat membantu anak menjadi sosok yang ‘punya visi dan misi’ sejak usia dini, pembelajar yang bertanggung jawab, mampu memotivasi orang lain dan membantu anak untuk terlibat lebih jauh lagi dengan perjalanan akademik mereka selanjutnya. Lebih lanjut, target dan tujuan membuat mereka mampu lebih sadar dan sepenuhnya hadir dengan kehidupan mereka saat ini dan bersemangat menantikan hari-hari selanjutnya. Momen mereka menentukan tujuan dan target adalah suatu momen yang juga sangat bermanfaat bagi Parent untuk memperkuat ikatan orangtua terhadap anak.

Mendefinisikan ‘tujuan’

Pertama, pastikan anak memahami apa yang dimaksud dengan ‘menentukan tujuan’. Menentukan tujuan akan terlihat susah saat anak-anak tidak mengetahui makna dari kata tersebut. Parent bisa mencobanya dengan menjelaskan konsep dari tujuan itu sendiri; tujuan adalah sesuatu yang ingin diraih oleh seseorang. Tujuan akan tercapai ketika seseorang membuat rencana dan melakukan setiap langkah-langkah yang telah direncakan. Analogi yang bisa digunakan adalah melaui olahraga, seperti permainan sepakbola. Anak mungkin paham bahwa dalam permainan sepakbola, ‘goal’ adalah ketika pemain memasukkan bola ke dalam net. Jelaskan kepada anak, bahwa ketika pemain sepakbola memasukkan gol ke dalam net adalah hasil dari kerja keras yang mereka lakukan. Untuk mencetak gol, diperlukan percobaan dan berbagai teknik untuk mencetak satu gol. Melalui penjelasan ini, anak akan belajar memahami tentang ‘proses’ yang harus mereka lewati dan rencana yang harus mereka lakukan untuk membuat sebuah tujuan atau ‘gol’ dapat terwujud.

Jangan hanya memberi arahan, tapi dengarkan

Ketika Parent menginginkan anak untuk belajar menetapkan tujuan mereka, pastikan mereka berperan penuh terhadap prosesnya. Pastikan bahwa Parent mendengarkan dengan seksama apa yang hendak mereka raih. Di dalam prosesnya, Parent boleh memvalidasi atau mengajukan pertanyaan tentang apakah tujuan tersebut tidak melanggar apapun yang merupakan fitrah mereka sebagai anak-anak.

Jika Parent takut, anak-anak mungkin menetapkan ‘target’ yang terlalu berat atau memiliki kecenderungan terhadap hal-hal negatif, Parent bisa memberikan contoh langsung dari tujuan yang Parent miliki sendiri. Namun, sekali lagi, berikan mereka ruang untuk mempertimbangkan semuanya. Parent bisa memberi arahan seperti memberitahu aspek kelebihan anak yang bisa mereka tingkatkan namun jangan mengambil alih sepenuhnya.

Bagi anak-anak yang baru saja memasuki usia taman kanak-kanank atau sekolah dasar, mereka mungkin belum memiliki pemahaman yang baik terkait tujuan dan segala prosesnya. Dalam hal ini, Parent boleh mengambil porsi besar dalam membantu anak untuk mencari tahu jika mereka memiliki satu hal yang ingin dicapai selama masa sekolah. Dengan mengajukan pertanyaan, anak-anak akan terangsang tentang hal yang mungkin saja mereka tidak sadari, yang mereka memiliki potensi didalamnya dan ingin mereka kembangkan. Sesederhana mengetahui bahwa mereka tertarik untuk memiliki teman baru diluar lingkungan tempat tinggal mereka.

Anyway, saat ini Sekolah Montessori Islam Adam Hawa cabang Kabupaten Maros, sedang membuka pendaftaran untuk tahun ajaran baru! Parent bisa mengklik link ini jika Parent memiliki pertanyaan seputar proses pendaftaran dan hal lainnya.  

Oke Parent sekian dulu artikel kali ini. Nantikan bagian duanya hanya di blog AdamHawa, blog dimana Parent bisa mendapatkan berbagai tips dan trik seputar parenting dan dunia anak ๐Ÿ˜Š

Sampai jumpa di bagian dua!

Wassalam!