Rabu, 18 Januari 2023

Ini 4 Alasan Mengapa Anak Tidak Menyukai Matematika. Parent Wajib Tahu!

 Assalamu’alaikum, Parent! ๐Ÿ˜Š

Parent pasti sudah akrab dengan satu pelajaran ini. Yup it is math! –matematika. Di antara begitu beragamnya ilmu pengetahuan, matematika terkenal di kalangan anak-anak –bahkan orang dewasa sekalipun, sebagai subjek yang sulit untuk dipelajari. Dan, hari ini, kita akan bahas penyebab-penyebab mengapa anak tidak menyukai pelajaran matematika lengkap dengan tipsnya.

Matematika sebagai salah satu bidang ilmu sangat penting untuk perkembangan dan kemajuan peradaban umat manusia. Secara umu, matematika memainkan peranan penting agar orang-orang mampu memahami teori maupun prinsip dari bidang ilmu yang lebih spesifik dan bersifat praktikal seperti ilmu alam, teknik, studi sosial hingga musik dan seni. Manfaat bagi manusia itu sendiri ketika mereka mempelajari matematika adalah dapat meningkatkan kemampuan berpikir analitis dan penalaran yang baik. Berpikir analitis mengacu pada kemampuan untuk berpikir kritis tentang berbagai fenomena dunia di sekitar kita. Sedangkan penalaran adalah kemampuan kita untuk berpikir secara logis tentang suatu situasi. Di sekolah montessori secara umum maupun di Sekolah Montessori Islam Adam Hawa, matematika adalah salah satu dari lima area penting yang diajarkan.

Lantas dengan segudang manfaat yang dibawanya, tidak membuat matematika menjadi mata pelajaran favorit anak-anak. Mungkin ada, namun bisa dipastikan jumlahnya tidak akan sebanyak anak-anak yang menyukai pelajaran menggambar atau mewarnai.

Selain alasan karena ‘matematika itu sulit’ apa saja alasan yang menyebabkan begitu banyak anak-anak tidak menyukai matematika? Apa yang Parent dapat lakukan untuk membuat anak-anak bisa merasakan betapa menyenangkan dan ‘memuaskannya’ ketika mereka berhasil menyelesaikan soal matematika? Berikut ini AdamHawa akan coba paparkan alasan yang bisa saja menjadi penyebab anak-anak enggan menyukai matematika. Disimak ya Parent ๐Ÿ˜Š

Alasan 1: cara terbatas untuk mendapatkan nilai

Beberapa mata pelajaran seperti bahasa Inggris atau seni, nilai dapat berasal dari beberapa aspek penilaian seperti kreativitas, ejaan, tata bahasa, gaya, tanda baca, komposisi warna yang digunakan dan banyak lagi. Namun pada matematika, anak-anak akan menjumpai bahwa hanya ada sedikit peluang untuk mendapatkan nilai karena jawaban yang dihasilkan adalah jawaban pasti yang artinya hanya dua; jawaban benar atau salah.

Hal yang bisa Parent lakukan adalah membantu anak fokus untuk memahami materi. Point pentingnya adalah bagaimana Parent membantu anak untuk belajar melihat jawaban –baik itu jawaban yang benar atau salah sebagai sesuatu yang positif. Walaupun pelajaran seperti bahasa dan seni memiliki banyak aspek sebagai sumber nilai, di satu sisi hal ini malah bisa menjadi celah bagi anak-anak untuk kehilangan point dalam tugas mereka. Dalam matematika, jika Parent berupaya agar anak dapat memahami materi matematika yang akan diujikan –maka tidak seperti dua pelajaran lain yang telah disebutkan, anak-anak bisa dengan mudah mendapatkan nilai yang sempurna.

Alasan 2: pelajaran yang membosankan

Beberapa anak-anak tidak menyukai matematika karena menurut mereka matematika itu membosankan. Mereka tidak tertarik dengan angka dan rumus sebagaimana mereka tertarik dengan sejarah, sains, bahasa, atau mata pelajaran lain yang lebih mudah dikaitkan dengan kehidupan nyata dan pribadi mereka. Mereka melihat matematika sebagai sesuatu yang abstrak dan tidak relevan yang sulit dipahami.

Hal yang Parent bisa lakukan adalah sekreatif mungkin menghubungkan matematika ke skenario kehidupan nyata. Tunjukkan kepada anak bagaimana matematika berhubungan dengan hal-hal yang terjadi di dunia nyata untuk memicu minatnya pada mata pelajaran tersebut. Jika Parent memiliki kerabat atau teman yang bidang pekerjaannya erat dengan hitung-hitungan, ada baiknya Parent berinisiatif untuk mengajak anak untuk bertemu dan berbicara tentang pekerjaan mereka. Selain itu, Parent juga dapat menunjukkan bagaimana matematika berperan dalam kehidupan sehari-hari melalui contoh-contoh sederhana seperti saat mengajak mereka belanja bulanan di pasar, tunjukkan bagaimana matematika berperan dalam mengetahui jumlah belanjaan atau hal sederhana lainnya seperti memberi tahu tentang waktu.

Alasan 3: membutuhkan banyak hafalan

Banyak anak-anak yang berjuang untuk memahami matematika dengan menghafal semua teori, rumus dan persamaan yang ada. Namun pada kenyataannya, menghafal hanyalah salah satu bagian dari belajar matematika.

Tips untuk membantu anak keluar dari kesulitan ini adalah ajarkan mereka untuk berfokus pada pemecahan masalah. Alih-alih hanya menghafal, anak-anak seharusnya berkonsentrasi untuk memahami bagaimana dan mengapa suatu rumus dapat bekerja pada satu soal dan rumus lainnya tidak. Anak-anak yang mengandalkan hafalan saat belajar matematika tidak mampu menerapkan pengetahuannya dan cenderung berkecil hati atau tidak percaya diri saat diminta untuk berpikir out of the box atau berpikir kreatif.

Di waktu luang anak-anak, Parent bisa nih menawarkan permainan asah otak berbasis angka yang berfokus untuk membangun keterampilan memecahkan masalah daripada menghafal. Ini bisa menjadi cara yang menyenangkan untuk membuat anak-anak lebih bersemangat untuk memahami matematika.

Alasan 4: dibutuhkan banyak ‘kesalahan’

Untuk belajar dan memahami, matematika cenderung mensyaratkan banyak ‘kesalahan’ bagi yang mempelajarinya untuk bisa ‘berjumpa’ dengan jawaban yang benar. Siswa harus mengulangi jenis pertanyaan yang sama berulang kali sampai mereka mendapatkan jawaban yang benar—dan hal ini terkadang membuat anak lelah, frustrasi. Bukan hanya orang dewasa ya Parent tapi anak pun, ketika mereka mendapat jawaban yang salah secara berulang dapat berujung pada menurunnya kepercayaan diri, yang membuat mereka lebih memilih untuk menghindari subjek tersebut.

Cara membantu anak adalah dengan menunjukkan bahwa membuat kesalahan adalah bagian dari pembelajaran. Sejak dini, Parent perlu mengajari anak bagaimana pentingnya agar mereka tidak menghindari tugas yang menantang dan membutuhkan kerja keras. Bantu anak untuk memahami bahwa semakin sulit mendapatkan jawaban yang benar, semakin memuaskan saat dia akhirnya menyelesaikannya. Jika anak mulai putus asa saat belajar matematika, ingatkan dia bahwa membuat kesalahan hanyalah bagian dari proses belajar. Pelajaran berharga ini berlaku baik di dalam kelas maupun dalam kehidupan secara keseluruhan.

Matematika selalu menjadi mata pelajaran yang menakutkan di kalangan anak-anak. Namun diingat kembali ya Parent, bahwa matematika punya begitu banyak manfaat yang sangat penting –walaupun pada akhirnya anak tidak memilih jalan karir mereka di bidang matematika. Bukan hanya pada pelajaran matematika namun nilai ‘kesalahan adalah bagian dari proses belajar’ berlaku untuk pelajaran apapun.

Sampai jumpa di artikel selanjutnya ๐Ÿ˜Š

Wassalam!


Adam&Hawa

Author & Editor

0 comments:

Posting Komentar