Jumat, 13 Januari 2023

Anak dan Gula 101: Bahaya yang Mengintai Di balik Manisnya Gula (Bagian 3)

Assalamu’alaikum Parent๐Ÿ˜Š

Hari ini AdamHawa akan membahas lagi bagian selanjutnya dari pembahasan kita mengenai ‘hubungan’ spesial antara anak dan gula. Dibagian ketiga ini, AdamHawa akan fokus untuk membahas dampak apa saja yang akan terjadi jika anak mengonsumsi gula di luar ambang batas yang telah dianjurkan. Disimak ya, Parent!

Pada pembahasan terakhir, kita sudah membahas mengapa anak-anak –jika dibandingkan dengan kelompuk umur lainnya, memiliki ketertarikan yang besar terhadap gula. Dari sana kita pahami bahwa alasannya bisa dilihat dari reaksi kimia yang terjadi di dalam otak manusia secara umum dan juga berdasarkan kebutuhan tubuh anak-anak akan energi.

Photo by Rod Long on Unsplash

Sebagai orang tua, memberikan panganan manis kepada anak adalah alternatif yang paling sering dilakukan sebagai bentuk apresiasi atau penghargaan kepada anak apabila mereka berhasil melakukan sesuatu. Meskipun, tentu saja anak akan dengan senang hati menikmatinya, namun hal yang Parent perlu perhatikan disini adalah bagaimana membatasi konsumsi gula agar tidak melewati ambang batas sesuai anjuran Kementrian Kesehatan Indonesia. Karena dibalik rasanya yang ‘menyenangkan’ konsumsi gula berlebih dapat berujung pada beberapa masalah kesehatan.

Membangun hubungan yang sehat dengan gula termasuk didalamnya adalah dengan memisahkan ‘perasaan’ dan pengaruh lingkungan dalam memutuskan jenis panganan yang ingin dikonsumsi. Berikut ini beberapa hal yang Parent perlu perhatikan dalam membantu anak ‘meredam’ keinginan terhadap panganan manis, menikmati makanan dengan nutrisi seimbang namun tetap bisa menikmati gula sebagai selingan.

Menghindari masalah kesehatan di masa depan

Walaupun mengonsumsi gula dalam jumlah yang banyak sepertinya tidak memberi masalah kesehatan dalam jangka waktu pendek, namun membangun kebiasaan makan sehat sejak kecil sangatlah penting. Asupan gula yang tinggi meningkatkan resiko obesitas, penyakit jantung dan kanker, terutama seiring bertambahnya usia. Sedangkan beberapa jenis penyakit seperti nyeri sendi, dan asam urat dapat timbul sebagai akibat lebih lanjut dari obesitas.

Membentuk kebiasaan makan bergizi sejak dini akan membimbing dan membuat anak terbiasa dengan gaya hidup sehat di masa depan. Di usia mereka yang sekarang, Parent mungkin harus melakukan usaha ekstra untuk membiasakan mereka mengonsumsi makanan bergizi, namun ketika mereka dewasa, mereka akan menganggap mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang sebagai suatu kebiasaan yang secara ‘otomatis’ akan  mereka lakukan. Saat ini, hal yang Parent perlu lakukan adalah, alih-alih fokus terhadap dampak negatif dari gula, berfokuslah ke manfaat makanan bergizi, untuk membangun pola dan sikap positif tentang pola makan yang baik dan seimbang.

Memastikan nutrisi yang cukup

Alih-alih mengisi sistem pencernaan anak dengan energi ‘kosong’ dari gula, berikan makanan dengan nutrisi seimbang untuk membantu mereka tumbuh dan berkembang. Orang dewasa disarankan untuk membatasi konsumsi gula dibawah 10% dalam jumlah kalori yang dibutuhkan setiap hari (lebih kurang sekitar 12 sendok teh atau 48 gram). Sedangkan untuk kasus anak-anak adalah sebanyak 25 gram atau 6 sendok teh per hari.

Panganan manis tidak hanya menggantikan makanan dengan zat gizi penting seperti, protein, buah-buahan, sayuran, susu, dan biji-bijian tetapi juga ‘menghabiskan’ vitamin dari tubuh selama proses pencernaan, seperti vitamin B yang berperan dalam proses metabolisme (penguraian) glukosa (gula).

Anak-anak yang sedang tumbuh membutuhkan protein untuk perkembangan otot dan lemak baik untuk mendukung otak dan sistem saraf mereka. Seorang anak yang minum soda atau jus kemasan daripada susu biasa kehilangan kalsium untuk pertumbuhan gigi dan tulang yang kuat. Melatih indera pengecap anak-anak terhadap rasa makanan alami tanpa gula tambahan membuat mereka memiliki kebiasaan makan yang lebih sehat dan sebagai langkah dini untuk mencegah munculnya penyakit kronis di masa dewasa.

Melindungi kesehatan gigi

Selain sebagai langkah untuk mencegah penyakit diabetes dan penyakit jantung –sebagai akibat jangka panjang mengonsumsi gula berlebih, menghindari gula tambahan dapat membuat anak-anak tidak perlu menjalani perawatan gigi yang menyakitkan dan mahal. Karena faktanya, kerusakan gigi diperparah dengan konsumsi makanan dan minuman manis secara ‘teratur’. Jika tidak diobati dengan benar, masalah gigi dapat menyebabkan infeksi serius (bahkan jika itu hanya gigi susu).

Bersamaan dengan menghindari cemilan dan minuman manis, mengajari anak-anak untuk rutin menyikat gigi pada usia muda, membantu menghilangkan sisa-sisa gula penyebab plak dan membantu menjaga gigi agar tetap kuat dan sehat. Tips sederhana yang bisa Parent coba untuk mengajarkan anak-anak membangun kebiasaan menyikat gigi dapat dimulai dengan menggosok gigi tanpa menggunakan pasta gigi. Perlahan beri penjelasan yang mudah dipahami oleh anak-anak tentang pentingnya menyikat gigi.

Ketahui kandungan gula ‘tersembunyi’ pada makanan

Makanan dengan target pasar anak-anak seringkali mengandung gula yang tinggi. Beberapa makanan yang sudah sangat jelas mengandung kadar gula tinggi adalah, soda, permen, sereal manis dan jus kemasan. Selain itu, Parent juga perlu tahu ya, kalau gula juga terdapat pada makanan yang diklaim sebagai ‘makanan sehat’ dan ‘bergizi’ seperti, snak granola, yoghurt berperisa, sereal ‘sehat’, saus pasta, saus tomat, hingga saus apel.

Keterampilan yang sangat perlu Parent pelajari adalah jeli membaca label makanan agar Parent dapat mengenali kandungan gula tambahan sebelum membeli. Kebiasaan sederhana seperti mengganti menu seperti saus apel alami tanpa pemanis dibandingkan yang berperisa dan buah ‘utuh’ dibandingkan jus buah kemasan atau sirup dapat membantu Parent mengurangi asupan gula tambahan yang dikonsumsi anak-anak.

Periksa daftar komposisi makanan untuk beberapa istilah seperti jus tebu, sirup jagung, dextrose (dekstrosa), brown rice syrup, raw sugar, dan crystal solids yang merupakan nama lain dari gula. Membangun kebiasaan minum air mineral dan susu tanpa perisa merupkan langkah yang sangat baik untuk mengurangi asupan gula.

Mendorong gaya hidup sehat dan seimbang

Ketika anak-anak berada pada lingkungan yang menerapkan kebiasaan makan sehat, sebagian besar dari mereka akan mengikuti atau mengatur aktivitas makan berdasarkan ‘sinyal lapar’ internal mereka. Untuk mengatasi hal ini, alih-alih memberi atau menawarkan panganan manis sebagai hadiah (atau menahannya sebagai bentuk hukuman), Parent sebaiknya mendorong anak-anak untuk memperhatikan bagaimana ‘perasaan tubuh’ anak-anak dan mulai membangun ‘hubungan yang baik’ dengan makanan. Ajarkan mereka tentang bagaimana membangun beberapa sikap positif terkait dengan makanan, seperti ‘makan perlahan’, ‘berhenti sebelum kenyang’, dan tidak memberi penilaian tentang makanan, bahwa ini makanan yang ‘baik’ atau ‘buruk’.

Beberapa perilaku lain yang bisa Parent coba praktikkan di rumah adalah dengan duduk makan bersama keluarga dan membiarkan anak-anak untuk membantu Ibu di dapur. Sebaiknya, Parent harus mulai mencoba berhenti menjadikan makanan sebagai hadiah atau hukuman. Jika Parent tetap ingin menjadikan makanan sebagai bentuk apresiasi, buatkan makanan dengan kandungan gizi seimbang ya Parent. Hadiah non-makanan melainkan berupa barang seperti stiker –yang biasanya disukai anak-anak atau jika disaat yang bersamaan anak-anak sedang membangun menabung untuk membeli barang impian mereka, Parent boleh memberikan reward ke dalam celengan mereka ๐Ÿ˜Š. Tapi tentunya pemberian apresiasi yang terbaik adalah dengan mengekspresikan secara langsung rasa sayang melalui tindakan, seperti pelukan.

Langkah selanjutnya yang Parent bisa coba adalah dengan tidak menyetok cemilan manis di rumah. Anak-anak akan cenderung memilih-milih makanan, namun jika semua pilihannya hanyalah makanan sehat, maka Parent tidak perlu khawatir. Jelaskan kepada anak-anak bahwa beberapa makanan adalah makanan sehari-hari, sementara yang lain adalah makanan yang hanya sesekali boleh di konsumsi. Hal ini selain menghindari pemberian ‘penghakiman’ moral kepada makanan, namun Parent tetap bisa menyampaikan bahwa panganan manis hanya boleh dikonsumsi sesekali. Ketika anak-anak mengonsumsi makanan manis di luar rumah, sebut saja ketika mereka menghadiri acara ulang tahun atau menikmati snak sore di rumah kakek neneknya, Parent tidak usah terlalu mempermasalahkan hal ini. Move on dan fokus membangun kebiasaan makan yang baik di rumah.

 

Oke, segitu dulu ya Parent. Alhamdulillah cukup panjang juga ya pembahasan kita. Hmm, apakah masih akan berlanjut ke bagian empat? Jawabannya, stay tune terus saja ya di blog AdamHawa ๐Ÿ˜Š

Sampai jumpa dan,

Wassalam!

Adam&Hawa

Author & Editor

0 comments:

Posting Komentar