Jumat, 17 Februari 2023

Enam Aspek Penitng yang Perlu Parent Perhatikan Ketika Berbicara Tentang Vaksin Kepada Anak

Adam&Hawa

Pemberian vaksin maupun imunisasi bisa menjadi sesuatu yang menakutkan bagi anak-anak. Jika mereka masih bayi, mungkin ketidakinginan mereka bisa diatasi dengan sedikit ‘paksaan’ dari orang tua. Namun kondisinya tentu berbeda bagi anak-anak yang sebelumnya sudah merasakan ‘sakitnya’ disuntik –misalnya anak yang mendapatkan vaksin di bangku sekolah dasar, mereka telah mampu mendeklarasikan rasa takut mereka terhadap vaksin selanjutnya dengan cara merajuk, menolak secara gambalang atau bahkan mungkin dengan cara enggan untuk datang ke sekolah.

Apa sih yang bisa dilakukan orang tua untuk meminimalisir segala macam drama yang biasa terjadi selama masa vaksinasi maupun imunisasi?

Kimberly Giuliano MD, seorang dokter anak memberikan kutipan

Sangat penting bagi anak-anak untuk memahami bahwa apa yang orang tua lakukan untuk mereka –memberi vaksin misalnya adalah semata untuk membantu mereka tetap sehat dan aman”

Nah dari penjelasan singkat di atas kita garis bawahi kata kuncinya Parent, yaitu anak-anak harus tahu dan paham bagaimana vaksin dan imunisasi memberikan mereka perlindungan. Masih di kutip dari penjelasan dokter Kimberly Giuliano, MD, menjelaskan tentang vaksin dapat dimulai dari beberapa aspek dibawah ini:

Vaksin membantu mereka tetap aman

“Baik itu vaksin COVID atau vaksin lainnya, sangat penting bagi anak-anak untuk memahami mengapa kita memberi mereka vaksin,” kata Dr. Giuliano. “Kita tidak memberi mereka vaksin untuk ‘menjahati’ mereka, namun untuk mencegah penyakit.”

Parent harus memberikan penjelasan kepada anak bahwa mendapatkan vaksinasi adalah cara terbaik bagi mereka untuk dapat kembali ke aktivitas dan pengalaman yang paling akan mereka rindukan ketika mereka tidak melakukannya karena sakit, seperti, sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, perkemahan musim panas, dan liburan. Itu juga satu-satunya cara untuk melindungi orang lain.

https://unsplash.com/photos/0BxCCsjyUxU

“Memvaksinasi semua orang di sekitar mereka benar-benar membantu mencegah dan mengurangi risiko penyebarannya satu sama lain,” kata Dr. Giuliano.

Menyanggah rumor yang ada

Ada banyak berita dan rumor seputar vaksin yang beredar di luar sana. Baik orang tua maupun anak-anak terkadang ‘termakan’ dengan berita tersebut tanpa benar-benar tahu yang sebenarnya.

“Tanyakan kepada anak apa yang mereka dengar tentang vaksin sehingga sebagai orang tua, kita mengetahui dan mengerti asal rumor tersebut,” kata Dr. Giuliuno. “Mungkin mereka 100% setuju dengan penjelasan kita, dan percakapan ini akan berlangsung sangat cepat dan mudah, atau mungkin mereka memiliki beberapa pertanyaan dan kekhawatiran.”

Memberi mereka kesempatan untuk mengungkapkan pertanyaan dan kekhawatiran tersebut memungkinkan Parent untuk mengatasinya secara langsung. Setelah anak mengungkapkan apa pendapat mereka tentang vaksin, peran Parent setelah mendengarkan mereka adalah memberikan penjelasan yang sebenar-benarnya, memberikan fakta-fakta terkait vaksin dengan cara yang sederhana, sehingga dengan jawaban tersebut dapat meyakinkan anak bahwa Parent membuat keputusan ini demi kesehatan dan keselamatan mereka.

Bicara tentang efek samping

Jika seseorang dalam keluarga Parent mengalami efek samping negatif dari vaksin, seperti misalnya vaksin COVID-19 atau jika anak mengenal orang lain yang mengalaminya, mereka mungkin takut mengalami pengalaman serupa.

Banyak orang tidak mengalami efek samping dari vaksin, tetapi beberapa mengalaminya; untungnya, efek samping tersebut biasanya ringan dan berumur pendek. Berikut ini beberapa gejala umumnya:

  • Nyeri lengan.
  • Kelelahan.
  • Nyeri otot.
  • Sakit kepala.
  • Demam dan/menggigil.

Jelaskan kepada anak bahwa potensi efek samping apa pun, meskipun tidak diinginkan, lebih baik daripada terjangkit penyakit yang sebenarnya.

“Saya sering menggunakan penjelasan untuk vaksin apa pun bahwa penyakitnya jauh lebih buruk daripada suntikan yang sebenarnya atau efek samping yang mungkin timbul dari vaksin tersebut,” kata Dr. Giuliano.

Anak mungkin dengan polosnya akan bertanya tentang apa pengaruh vaksin terhadap tubuh mereka. Jika seperti itu, Parent bisa membantu dengan memberi penjelasan kira-kira seperti di bawah ini:

“Bunda jelaskan pelan-pelan ya, Dek. Jadi saat tubuh kita sedang sakit, tubuh kita akan ‘melawan’ kuman dan setelahnya kita akan merasa lebih baik lagi. Nah, saat tubuh kita ‘melawan’ kuman yang masuk tadi, tubuh akan mulai mengingat seperti apa rupa si kuman yang menyerang ini. Jadi kalau kuman ini masuk lagi ke tubuh kita, tubuh kita akan langsung kenal sama kumannya dan akan membuangnya keluar dari tubuh. Tetapi adek tahu tidak kalau ada beberapa kuman yang sangat jahat dan tentunya kita tidak mau kan sakit karenanya.”

 

“Vaksin yang ada di dalam tubuh adek akan mengajarkan tubuh kita seperti apa kuman yang benar-benar jahat ini. Kemudian, jika suatu hari, Qodarullah kuman itu masuk ke dalam tubuh adek, tubuh adek sudah kenal sekali dengan kuman jahatnya dan dengan cepat melawannya.”

Menceritakan kembali tentang ‘keamanan’ vaksin

Remaja yang lebih tua mungkin memiliki pertanyaan tentang tingkat ‘keamanan’ vaksin itu sendiri. Orang tua dan wali adalah orang dewasa yang paling dipercaya remaja, oleh karenanya manfaatkan peran Parent sebagai orang tua untuk membantu menghilangkan kekhawatiran anak dengan meyakinkan mereka bahwa vaksin itu aman.

Jelaskan bahwa vaksin tidak serta merta diberikan kepada mereka. Jelaskan bahwa sebuah vaksin harus menjalani pengujian yang signifikan sebelum disetujui dan disebarkan kepada masyarakat, termasuk dengan kelompok usia mereka.

Parent bisa memberi contoh dengan vaksin covid yang mungkin sampai hari ini masih akrab di telinga anak-anak. Setelah pengujian dan analisis yang ketat, ketiga vaksin yang disetujui oleh FDA telah terbukti aman dan efektif. Misalnya saja vaksin COVID 19 jenis Pfizer. Sebelum tersedia untuk umum, vaksin Pfizer telah diuji secara menyeluruh secara khusus untuk mengetahui keamanan dan keefektifannya pada anak usia 12-15 tahun.

“Anak-anak saat ini menerima vaksin yang sama persis dengan orang dewasa, tanpa perbedaan dosis atau kandungan,” Dr. Giuliano menjelaskan. “Tidak ada risiko tambahan, dan anak-anak mentolerir vaksin Pfizer sangat mirip dengan orang dewasa dalam hal efektivitas dan keamanan.”

Persiapkan mereka untuk hari pemberian vaksin

“Cara terbaik mempersiapkan anak untuk vaksin adalah memberi tahu mereka apa yang akan terjadi,” kata Dr. Giuliano.

Bicarakan apa yang akan terjadi pada hari ketika anak-anak akan menerima vaksin pertama mereka, termasuk di mana mereka akan mendapatkannya, bagaimana segala sesuatunya akan bekerja dan berapa lama waktu yang dibutuhkan.

Dan meskipun Parent mungkin tergoda untuk memberi anak pereda nyeri sebelum menerima vaksin, Dr. Giuliano menyarankan untuk tidak melakukannya, karena obat tersebut menurunkan respons antibodi tubuh.

“Agar vaksin menjadi paling manjur, sebaiknya kita tidak mengganggu apa yang dilakukan tubuh kita,” katanya.

Setelah mendapatkan penjelasan yang panjang dari Parent anak-anak mungkin akan masih merasa gugup dan takut, apalagi jika itu merupakan pemberian vaksin pertama mereka. Parent boleh memberikan afirmasi seperti dibawah ini:

“Bunda paham kok kalau adek gugup tentang suntikan dan itu sangat normal. Bunda juga dulunya takut sebelum di vaksin. Bunda juga sebenarnya tidak suka dengan rasa suntikannya. Tapi beruntungnya, sakitnya juga cepat hilang kok, dek. Jadi waktu itu, bunda coba bernapas perlahan. Saat itu bunda juga coba untuk ingat dengan momen-momen menyenangkan, jadinya rasa suntikannya bisa berkurang. Tidak apa-apa ya dek. Adek pasti bisa. Bunda akan menemani adek selama vaksin nanti, jadi jangan khawatir lagi, ya!”

https://unsplash.com/photos/TDoPeUSOD1c

Ceritakan pengalaman Parent!

Orang dewasa yang sudah divaksinasi dapat dijadikan sebagai ‘iklan berjalan’ untuk vaksin tersebut.

“Bagikan kisah vaksin Anda sendiri dengan mereka,” kata Dr. Giuliano. “Berbagi dengan mereka pentingnya vaksin: bagaimana vaksin itu aman, efektif, dan dapat membantu kita kembali ke apa yang kita dambakan dalam kehidupan normal.”

Referensi:

How to Talk to Your Kids About Getting Vaccinated. https://health.clevelandclinic.org/how-to-talk-to-your-kids-about-getting-vaccinated/. Diakses pada 17 Februari 2023

Florence, C. Blog PBs Kids – for Parents. https://www.pbs.org/parents/thrive/how-to-talk-to-your-child-about-vaccines. Diakses pada 17 Februari 2023.

Selasa, 14 Februari 2023

Wajib Coba! Empat Langkah Sederhana dan Efektif untuk Bantu Anak Membentuk Kebiasaan Baik Sejak Dini

Adam&Hawa

Assalamu’alaikum, Parent! 😊

Parent pasti pernah kan merasa frustrasi melihat kebiasaan-kebiasaan tidak baik yang dilakukan oleh anak-anak, seperti terlambat bangun di pagi hari, sedangkan mereka harus berangkat ke sekolah, bagaimana mereka tidak ingin memakan sayur dan lebih menyukai makanan instan atau siap saji. Hal ini karena anak-anak telah ‘mempelajari’ kebiasaan-kebiasaan tersebut. Berita baiknya, kebiasaan apa pun itu, kebiasaan dapat diganti dengan yang lebih baik.

Sebagai orang tua, peran Parent adalah membantu anak-anak membentuk kebiasaan baik yang memungkinkan mereka tumbuh menjadi orang dewasa yang percaya diri, produktif, dan sehat. Dengan membantu anak-anak membangun kebiasaan yang baik, Parent telah berkontribusi dalam mempersiapkan mereka untuk menuju kehidupan yang lebih baik di masa depan mereka nanti.

Orang tua memainkan peran besar dalam membantu anak-anak dalam membangun kebiasaan yang baik termasuk membangun kebiasaan yang mereka miliki sekarang (baik atau buruk). Parent sebagai orang tua membentuk rutinitas mereka saat ini dan memberi contoh tentang kebiasaan yang Parent lakukan sendiri setiap hari. Melalui peran dan tanggung jawab ini Parent memiliki kesempatan yang sempurna untuk membantu anak-anak dalam membentuk dan membangun kebiasaan yang baik.

Bagaimana membantu anak-anak membangun kebiasaan yang baik

ΓΌ   Bersabar dalam prosesnya

Ini adalah tantangan yang paling besar karena kebiasaan tidak terbentuk dalam semalam. Untuk membentuk satu kebiasaan positif dibutuhkan waktu dan kesabaran. Jika anak-anak merasa bahwa Parent menjadi frustrasi dengan mereka ketika mereka tidak segera membentuk kebiasaan positif yang baru, akibatnya mereka mungkin akan menolak untuk belajar menerapkan kebiasaan tersebut. Oleh karenanya pendekatan yang Parent perlu adalah kesabaran dan pengertian. Ada baiknya jika Parent mengikuti ‘kecepatan’ anak dalam belajar. Ketika Parent tidak memperlihatkan tanda-tanda bahwa Parent stress dan lelah mengajari mereka kebiasaan baik tersebut hal tersebut juga dapat membuat anak lebih rileks dalam prosesnya dan semakin mudah bagi mereka untuk mengadopsi kebiasaan baru.

ΓΌ   Jadilah panutan yang baik

Anak-anak cenderung meniru kebiasaan dari orang-orang terdekat, terutama orang tua. Oleh karenanya, sebelum mulai mengajarkan mereka untuk mengembangkan kebiasaan sehat. Nah hal ini sudah jauh kita pelajari dalam islam ya Parent kalau Ibu merupakan sekolah pertama untuk anak-anaknya. Parent sebaiknya sudah lebih dulu melakukan kebiasaan baik tersebut sejak lama jika ingin anak menirunya. Jika anak melihat Parent sedang membaca, kemungkinan besar mereka juga tertarik dan ingin membaca. Jika mereka melihat Parent menikmati sayuran di piring, kemungkinan besar mereka juga akan makan sayuran dengan lebih antusias. Namun, kebalikannya juga berlaku. Jika Parent tidak pernah menyikat gigi sebelum tidur atau mencuci tangan sebelum makan, maka kecil kemungkinan anak juga akan melakukannya. Intinya adalah untuk memulai kebiasaan baik adalah dengan mencontohkan perilaku itu dalam kehidupan orang tua. Hanya dengan melihat orang tua mereka melakukannya mungkin sudah cukup untuk membuat anak-anak tertarik untuk mencobanya sendiri.

ΓΌ   Buat jadwal dan rutinitas

Salah satu cara terbaik untuk menambahkan kebiasaan baru ke dalam kehidupan anak adalah dengan ‘memboncengnya’ dari kebiasaan yang sudah ada. Ini juga dikenal sebagai ‘penumpukan kebiasaan’.

Misalnya, jika anak sudah mengembangkan kebiasaan bangun pagi saat hari sekolah, ini adalah kesempatan sempurna untuk menambahkan kebiasaan lain yang perlu mereka kembangkan. Misalnya Parent bisa membuat mereka belajar melaksanakan ibadah shalat subuh di rumah. Dengan begitu, mereka akan mulai mengasosiasikan waktu bangun pagi sebelum dengan shalat subuh dan ini dapat membantu mereka mempelajari kebiasaan baru lebih cepat.

Parent juga dapat membantu mereka mengetahui apa yang diharapkan dari mereka melalui jadwal. Parent dapat membuat jadwal terkait dengan peristiwa alam yang terjadi pada waktu yang kira-kira sama seperti jadwal bangun tidur, waktu makan, dan tidur. Mengelompokkan kebiasaan kecil di sekitar waktu-waktu ini dapat membantu anak-anak mempelajari kebiasaan yang baik.

ΓΌ   Apresiasi selama mereka belajar

Pemberian apresiasi dapat membuat perbedaan besar dalam seberapa cepat anak membangun kebiasaan yang baik. Meskipun membesarkan anak-anak yang termotivasi secara intrinsic untuk membangun kebiasaan baik adalah sesuatu yang bagus, masih ada kalanya hadiah berguna untuk membantu memantapkan perilaku menjadi kebiasaan.

Jika Parent bersemangat dan memuji mereka saat mereka melakukan perilaku tersebut, Parent mencoba untuk mengajari mereka bahwa mereka lebih mungkin untuk mencoba dan mengulangi perilaku tersebut. Dan seperti yang kita ketahui, perilaku berulang berubah menjadi kebiasaan.

Namun sebisa mungkin Parent mencoba untuk memberi apresiasi tidak dalam bentuk mainan atau hal-hal yang bersifat material. Jika anak melihat makanan sebagai hadiah, ini bisa memberi mereka semacam ‘lampu hijau’ untuk kebiasaan memberi penghargaan kepada diri sendiri melalui makanan tidak sehat di masa depan. Sebaliknya, pilihlah hadiah seperti pelukan, aktivitas menyenangkan yang bisa dilakukan bersama, dan, pujian yang tulus. 

Kebiasaan baik yang bisa Parent mulai bangun bersama anak-anak

Ada banyak kebiasaan baik yang orang tua agar anak-anak bisa kembangkan di kemudian hari, tetapi yang perlu diingat adalah membuatnya sederhana dan tetap berpegang pada dasar-dasarnya saat mereka masih muda. Berikut adalah beberapa contoh kebiasaan hebat yang dapat Parent bangun bersama anak-anak.

Pentingnya menjaga kebersihan secara umum seperti, mencuci muka, mencuci tangan, menggosok gigi, dan menyisir rambut adalah kegiatan sederhana yang mulai dapat ajarkan kepada anak saat mereka masih kecil yang akan membuat mereka sehat dan bahagia. Bagian terbaiknya adalah, sebagian besar kebiasaan ini dapat digabungkan menjadi rangkaian kebiasaan yang akan membuatnya lebih mudah diingat dan dipatuhi oleh anak.

Makan sehat-dengan mencontohkan pola makan sehat untuk anak, Parent dapat membantu mereka mengembangkan kebiasaan makan sehat yang berkelanjutan. Orang tua bertanggung jawab atas makanan di rumah oleh karenanya Parent perlu memanfaatkan momentum ini sejak mereka masih kecil. Caranya adalah biasakan memperlihatkan kebiasaan makan sehat di hadapan anak dan jika sudah saatnya mereka sudah bisa mengonsumsinya langsung, latih indera perasa mereka untuk mengonsumsi sayuran dan buah. Ini bertujuan untuk membuat mereka familiar dengan rasa dan tekstur dari makanan ini sejak dini.

Aktivitas fisik adalah aktivitas yang kebanyakan anak-anak tidak membutuhkan dorongan untuk melakukannya. Namun, Parent dapat mendorong kebiasaan ini dengan ikut bersenang-senang, membatasi waktu penggunaan gawai, dan memperkenalkan mereka ke berbagai olahraga dan aktivitas luar ruangan. 

Kebiasaan adalah tindakan dan perilaku yang akan dilakukan secara otomatis sekali ketika kebiasaan dan akan sangat sulit untuk diubah setelah kebiasaan tersebut telah terbentuk. Banyak ahli yang berpendapat bahwa anak akan membangun kebiasaan ketika mereka berumur 9 tahun. Pendapat yang paling terkenal tentang kebiasaan adalah waktu yang dibutuhkan untuk membentuk kebiasaan baik adalah sekitar 21 hari dan untuk mengubah satu kebiasaan buruk membutuhkan waktu sekitar 18-254 hari.

Kalau dari uraian di atas, menurut AdamHawa sih yang merupakan koentji utama adalah kesabaran. Apalagi yang menjadi objek kita adalah anak-anak, iya kan Parent.  

Sampai jumpa di artikel selanjutnya 😊

Wassalam!

Referensi:

Dixon, B. (11 Februari 2021. How to Help Kids Build Good Habits. Blog A Healthy Slice of Life. https://www.ahealthysliceoflife.com/how-to-help-kids-build-good-habits/

Habit building for children. https://numberworksnwords.com/global/blog/habit-building-for-children/#.Y-tMzXZBy5c. Diakses pada 14 Februari 2023.

Selasa, 07 Februari 2023

Bagaimana Membicarakan Penyakit Serius dengan Anak

Adam&Hawa

Assalamu’alaikum, Parent!😊

Sakit adalah satu fenomena yang sepertinya dialami hampir semua manusia. Dan tergantung dari tingkat keseriusan penyakit yang diidap, kondisi sakit bisa menjadi satu pengalaman yang menakutkan. Bagaimana menjelaskan keadaan seseorang yang sedang sakit kepada anak? Hal ini bisa menjadi tantangan tersendiri karena tidak seperti orang dewasa, ada banyak hal yang belum mampu dipahami oleh anak-anak. Kondisinya mungkin akan menjadi lebih kompleks jika yang sedang sakit adalah orang-orang terdekat mereka, seperti ibu, ayah, saudara atau kakek dan nenek mereka.

https://unsplash.com/photos/6pcGTJDuf6M

Melindungi anak dari berita buruk seperti kondisi anggota keluarga yang sedang sakit adalah hal wajar, tapi sayangnya hal ini bukanlah ide yang bagus, jelas Claire McCarthy, MD. –seorang dokter anak di Boston Children’s Hospital. Dokter Claire menjelaskan lebih lanjut bahwa anak-anak dapat memahami sesuatu lebih dari apa yang disadari orang - dan kadang-kadang dapat membayangkan hal-hal menjadi lebih buruk daripada yang sebenarnya. Penting untuk membantu anak-anak mendapatkan pemahaman dan keterampilan atau keahlian yang mereka butuhkan untuk meringankan penyakit orang yang dicintai, serta untuk menghadapi masa-masa sulit yang tak terhindarkan di masa depan mereka.

Berbicara dengan seorang anak tentang penyakit serius: langkah pertama

Tentunya kondisi setiap anak dan setiap situasi berbeda. Namun berikut ini adalah beberapa hal yang dapat dicoba saat Parent memikirkan tentang apa yang harus dikatakan — dan bagaimana mengatakan kondisi kesehatan seseorang kepada anak.

Pikirkan tentang tahap perkembangan anak. Ini adalah petimbangan yang sangat penting. Anak-anak yang lebih kecil tidak akan mampu memahami atau menangani terlalu banyak hal, sedangkan seorang anak remaja dapat memahami lebih banyak dan ingin serta perlu mengetahui lebih banyak. Walaupun begitu, anak-anak yang lebih kecil bisa sangat ‘konkret’, dan mungkin khawatir tidak hanya bahwa mereka dapat tertular penyakit, tetapi juga karena merasa orang tersebut menjadi sakit karena kesalahan mereka. Anak yang lebih besar dapat memahami dengan lebih baik keadaan dan kerumitan yang terjadi di sekeliling mereka dan akan memiliki kekhawatiran yang berbeda pula. Jika Parent tidak yakin dengan pasti pada spektrum perkembangan mana anak Parent berada sebaiknya bicarakan dengan dokter anak.

Diskusikan terlebih dahulu dengan pasangan. Kedua orang tua harus setuju tentang apa yang akan dikatakan dan bagaimana akan mengatakannya. Penting juga bagi Parent untuk berpikir bersama tentang konteks kehidupan anak, dan bagaimana berita terkait penyakit tersebut — akan memengaruhi mereka, sehingga Parent dapat bersiap untuk kejadian tak terduga yang dapat terjadi selanjutnya.

Temukan waktu saat Parent bisa duduk lama dan memberikan perhatian penuh pada anakParent mungkin tidak membutuhkan waktu lama, tetapi lebih baik memilikinya daripada tidak. Pada saat yang sama, ketahuilah bahwa ini merupakan percakapan pertama dari banyak percakapan; Parent tidak perlu menyampaikan semua informasi sekaligus. Sampaikan informasi secara perlahan, mungkin satu atau dua, lalu di waktu percakapan selanjutnya Parent boleh membicarakan informasi selanjutnya.

Buat menjadi lebih sederhana dan lugas. Karena, bahkan anak-anak yang lebih besar pun bisa kewalahan dengan banyak informasi yang terlalu detail. Untuk anak yang lebih kecil, buatlah informasinya sesederhana mungkin, seperti, "Ayah sedang sakit jadi untuk sementara waktu Ayah akan dirawat di rumah sakit. Adek bantu do’akan ya sementara dokter disana bekerja untuk membantu Ayah untuk sehat kembali." Sedangkan untuk anak yang lebih besar, informasi yang disampaikan mungkin dapat berupa, "Kak, sekarang, Ayah sedang menderita kanker. Kankernya ditemukan di paru-paru. Ayah di rumah sakit untuk pemeriksaan sementara dokter mencari cara terbaik untuk mengobati kankernya. Do’akan Ayah, ya Kak, semoga cepat sembuh" Gunakan istilah sederhana dan kalimat sederhana.

Jujur. Namun tidak berarti Parent perlu menceritakan setiap informasi yang memperlihatkan bahwa orang yang sedang sakit tersebut sangat menderita. Karena nyatanya hal ini jarang membantu. Tetapi Parent tetap harus mengatakan bahwa itu adalah penyakit yang serius. Beri tahu mereka apa yang mungkin terjadi selanjutnya, seperti jika orang tersebut mungkin kehilangan rambutnya akibat kemoterapi.

Jangan sembunyikan perasaan ParentJika Parent sedih atau khawatir, maka diungkapkan saja, ya Parent. Dengan demikian anak-anak juga tahu bahwa tidak apa-apa bagi mereka untuk merasa seperti itu. Saat Parent melewati situasi tersebut, Parent perlu menemukan cara yang sehat untuk mengatasi kesedihan dan kekhawatiran, karena anak akan turut memperhatikan. Jika memang diperlukan, Parent boleh membuat janji dengan seorang ahli kesehatan mental untuk membantu Parent dan anak.

Bicara tentang para ‘penolong’. Parent bisa mencoba bercerita kepada anak tentang peran-peran ‘penolong’ dalam kehidupan nyata seperti seperti petugas pemadam kebakaran yang siap membantu bahkan dalam situasi yang menakutkan. Dari sana, kaitkanlah tentang dokter dan perawat serta orang lain yang ada di rumah sakit yang akan membantu orang-orang yang sedang sakit untuk bisa segera sembuh.

Berbicara tentang penyakit serius: jawab pertanyaan dan beri ruang untuk perasaan

Bicara tentang bagaimana kondisi ‘sakit’ akan mempengaruhi kehidupan sehari-hari mereka. Anak-anak dari segala usia tentu akan mengkhawatirkan hal ini. Namun, Parent bisa memberikan pemahaman bahwa Parent juga sedang memikirkan hal tersebut dan merencanakannya. Parent dapat melakukan brainstorming bersama tentang cara mengelola perubahan yang diperlukan. Yakinkan anak bahwa mereka yang sakit akan dirawat dengan baik.

Buat anak untuk mengajukan pertanyaan apa pun yang mereka miliki. Jawablah pertanyaan-pertanyaan itu dengan jujur.

Bersiaplah untuk reaksi apa pun. Anak-anak mungkin kesal - tetapi mereka juga mungkin marah, atau tidak bereaksi sama sekali. Reaksi dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti perubahan perilaku atau anak mulai bertingkah di sekolah. Selain itu, anak-anak mungkin memerlukan waktu untuk menyerap informasi, sehingga reaksi mereka mungkin tertunda — atau bervariasi dari hari ke hari. Oleh karenanya, bangun kebiasaan rutin untuk melakukan lebih banyak percakapan, berikan informasi tambahan, melihat bagaimana keadaan anak, dan melihat apakah mereka punya pertanyaan baru yang ingin ditanyakan.

Meminta bantuan. Ketika Parent menemukan sesuatu yang tidak biasa, Parent jangan langsung bertindak ya dan segera bicarakan dengan para profesional seperti dokter anak. Jika perlu, Parent boleh meminta untuk dibuatkan rujukan ke ahli kesehatan mental. Parent juga bisa mendapatkan support dari kumonitas setempat, seperti misalnya, kelompok pengajian atau komunitas lainnya.

Ada pepatah yang mengatakan bahwa dibutuhkan seluruh anggota desa untuk membesarkan seorang anak, dan ini terutama terjadi ketika seseorang yang disayang oleh seorang anak sedang sakit. Tetap semangat ya Parent –terutama bagi Parent dan keluarga yang saat ini sedang berjuang melawan satu penyakit. Sebagai manusia kita ikhtiarkan yang terbaik dan serahkan hal-hal yang berada di luar kendali kita kepada Allah SWT.

Sampai jumpa di artikel selanjutnya 😊

Wassalam!

Referensi:

McCarthy C, MD. (14 Januari 2020). How to Talk to Children About the Serious Illness of a Loved One. Blog Harvard Health. https://www.health.harvard.edu/blog/how-to-talk-to-children-about-the-serious-illness-of-a-loved-one-2019120218468.

 

 

Jumat, 03 Februari 2023

Parent Harus Tahu! Begini Caranya Membangun Kemandirian Pada Anak

Adam&Hawa

Assalamu’alaikum, Parent!

Hari ini AdamHawa akan membahas tentang sifat kemandirian pada anak. Apakah sifat kemandirian penting diajarkan sejak dini? Bagaimana cara menumbuhkan kemandirian pada anak-anak? Langsung disimak saja ya Parent!

Kemandirian adalah salah satu sifat yang dibawa anak-anak sejak lahir. Hal ini dapat Parent buktikan ketika melihat bayi yang mencoba menyuapi dirinya sendiri. bersikeras melepas popoknya sendiri, atau saat menginjak usia balita mereka terkadang berinisiatif untuk berpakaian sendiri atau menyalakan keran di wastafel.

Mengembangkan kemandirian adalah kesempatan yang tidak boleh Parent lewatkan untuk membangun rasa percaya diri dan self-esteem atau rasa menghargai diri sendiri pada anak— dan memberikan respon terbaik ketika dihadapkan pada situasi yang tidak menyenangkan dan juga melatih ketekunan!

Walaupun begitu, wajar kok Parent kalau sebagai orang tua, Parent akan sulit untuk tidak khawatir atau mengeluh ketika anak-anak yang sedang aktif-aktifnya berlomba-lomba untuk menaiki tangga, memanjat, dan kemudian mencoba menuangkan segelas susu untuk diri mereka sendiri. Membiarkan anak-anak melakukan tugas sering kali berarti bahwa tugas tersebut akan memakan waktu dua kali lebih lama — dan menjadi tiga kali lebih berantakan 😊. Selain itu mungkin Parent juga akan merasa sedih dan sulit ketika melihat anak dengan giat mencoba, gagal, lalu merasa frustrasi atau kecewa.

Berikut ini beberapa cara sederhana yang bisa Parent coba untuk mengasah kemandirian pada anak.

Tetapkan rutinitas yang dapat diprediksi

Ini mungkin tampak mengejutkan, tetapi menetapkan rutinitas yang konsisten penting untuk memelihara kemandirian. Sama seperti orang dewasa, ketika anak-anak dapat mengantisipasi hari mereka, mereka lebih siap untuk mengambil tanggung jawab. Jangan bingung dengan jadwal (walaupun keduanya mungkin tumpang tindih), rutinitas adalah rangkaian aktivitas apa pun yang terjadi sepanjang hari. Bahkan aktivitas sederhana seperti menyikat gigi merupakan sebuah rutinitas, karena memiliki beberapa langkah yang selalu dalam urutan yang sama: menyalakan air, membilas sikat gigi, memakai pasta gigi, menyikat, membilas, mengeringkan tangan dan mulut. Demikian pula, ketika anak-anak kembali ke rumah setelah bermain di luar –mereka akan melakukan beberapa aktivitas seperti belajar meletakkan alas kaki dengan rapi, mengucap salam sebelum masuk rumah hingga mencuci tangan.


Saat anak-anak mengalami satu rutinitas berulang kali, mereka belajar untuk mengantisipasi apa yang akan terjadi selanjutnya, dan mereka mulai memikul lebih banyak tanggung jawab dengan lebih sedikit bantuan. Jika Parent membiarkan anak-anak melakukan beberapa pekerjaan persiapan, seperti mengoleskan pasta gigi ke sikat giginya, atau menemukan mainan yang dimainkannya kemarin, mereka akan melakukan dan mengulangi langkah-angkah tersebut dengan frekuensi yang lebih sering tanpa melibatkan orang lain. Selanjutnya, Parent diharapkan menyampaikan kepada mereka bahwa Parent percaya pada kemampuan mereka untuk melakukan langkah-langkah ini tanpa campur tangan Parent maupun orang dewasa lainnya dan meyakinkan mereka bahwa Parent akan selalu ada ketika mereka kesulitan atau membutuhkan bantuan.

Biarkan anak memilih

Cara lain untuk mendukung kemandirian anak adalah dengan memberi mereka pilihan. Libatkan anak-anak dalam memutuskan apa yang akan dikenakan, apa yang akan dimainkan atau siapa yang akan dihubungi. Namun ini tidak harus berarti mereka memiliki kehendak yang bebas ya Parent. Sediakan dua atau tiga pilihan, lalu puji kemampuan hebat mereka atas piliha yang telah mereka! Memberikan pilihan sangat berharga ketika anak-anak –khususnya anak prasekolah ketika Parent bersikeras melakukan sesuatu dengan cara mereka. Misalnya, ketika mereka mungkin berinisiatif untuk menyeberang jalan sendiri –yang jika dilihat dari kondisi jalan raya yang ramai merupakan sesuatu yang berbahaya. Dengan menawarkan pilihan – seperti memegang tangan atau digendong – anak-anak dapat merasa diberdayakan dan dipercaya atas keamanan mereka meskipun secara tidak langsung Parent menjaganya tetap aman.

Biarkan anak membantu

Anak-anak memiliki sifat yang suka membantu! Selain membangun kemandirian, ini adalah celah yang Parent dapat manfaatkan untuk menenangkan mereka ketika mereka sedang tantrum atau sebagai bentuk pengalihan perilaku dengan memberi mereka a sense of control atau pengendalian diri. Ketika Parent mengizinkan anak-anak untuk membantu, Parent telah memupuk kepercayaan diri mereka dan memberi mereka kesempatan untuk mempelajari sesuatu yang baru. Meskipun ini mungkin melibatkan penambahan satu atau dua langkah ekstra, ini juga merupakan cara yang bagus untuk melibatkan anak dalam rutinitas dan aktivitas sehari-hari.

Misalnya, saat membuat telur orak-arik, orang dewasa mungkin langsung menuangkan susu ke dalam mangkuk dan langsung membuang cangkangnya ke tempat sampah. Sebagai alternatif, pertimbangkan untuk menuangkan susu ke dalam cangkir atau kendi kecil dan mintalah anak untuk menuangkannya ke dalam mangkuk. Demikian juga, kumpulkan kulit telur dalam mangkuk kecil dan minta anak untuk membantu membuangnya ke tempat sampah.

Sekali lagi, Parent berkomunikasi dengan anak-anak bahwa Parent memercayai mereka untuk melakukan tugas-tugas tersebut dan momen-momen tersebut memberi kesempatan terbentuknya percakapan dua arah dengan anak untuk mencapai tujuan bersama. Anak-anak akan lebih cenderung bersemangat dan senang karena memakan makanan yang mereka bantu siapkan. 

Biarkan anak membantu pekerjaan rumah

Namun tentu saja, tugas rumah yang dimaksud disini akan berbeda dengan apa yang dikerjakan anak-anak yang sudah lebih dewasa, tetapi hal ini adalah batu loncatan penting untuk mempersiapkan aank-anak terhadap tugas yang lebih besar ketika mereka dewasa. Banyak penelitian yang mengemukakan manfaat pemberian pekerjaan rumah untuk anak-anak adalah sebagai cara membangun rasa tanggung jawab dan kemandirian, mengajarkan kerja sama tim, dan memelihara rasa empati.

Tugas-tugas sederhana seperti membereskan mainan yang sudah dipakai atau memasukkan pakaian yang sudah mereka pakai ke dalam keranjang pakaian kotor memungkinkan anak memiliki tanggung jawab yang wajar dan membantu menjaga rangkaian rutinitas sepanjang hari. Bahkan, tugas-tugas ini dapat dimasukkan ke dalam rutinitas harian Parent. Misalnya, bagian dari rutinitas waktu makan, anak-anak dapat menolong untuk membawa piring mereka sendiri ke wastafel.

Biarkan anak memecahkan masalah

Pastikan untuk mengizinkan anak untuk mencoba hal-hal yang sulit dan memecahkan masalah (kecil) sendiri. Sering kali, orang tua memproyeksikan stres atau frustrasi kita kepada anak-anak padahal sebenarnya mereka adalah pemecah masalah yang berbakat. Saat anak pertama kali belajar merangkak atau berjalan, kita harus membiarkan mereka jatuh. Demikian pula, ketika anak-anak belajar memakai sepatu, kita harus membiarkan mereka memakai sepatu yang salah. Tunggu sampai anak meminta bantuan atau berikan sedikit petunjuk untuk membawanya ke langkah berikutnya.

Memberi anak tugas-tugas yang sedikit menantang, tetapi masih dalam ranah apa yang dapat mereka lakukan dengan sedikit dukungan, membantu mereka belajar mengatasi frustrasi, memecahkan masalah, dan mengatasi situasi yang menantang. Parent boleh mengakui bahwa ada sesuatu yang sulit dan beri tahu mereka bahwa Parent bangga dengan memberikan pujian karena mencoba hal-hal baru atau sulit. Namun, pastikan untuk memuji usaha daripada hasil atau keterampilan: "Bunda bangga dengan adek karena bisa bertahan dengan itu bahkan ketika itu menjadi sulit," daripada mengatakan, "Kamu sangat pandai mengikat sepatumu!"

Mendorong anak melakukan aktivitas

Aktivitas yang dapat mencakup apa saja mulai dari mewarnai, membangun puzzles hingga kerajinan tangan, memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk memusatkan perhatian mereka pada aktivitas yang memerluka jangka waktu tertentu. Mengomentari dan memuji pekerjaan anak memberi mereka rasa pencapaian dan harga diri, dan memuji usaha anak berarti Parent sudah membantu perkembangan keberanian. Ketika Parent mendorong anak untuk terus mencoba merangkai manik-manik menjadi kalung, Parent secara tidak langsung menyampaikan kepada mereka bahwa Parent percaya pada kemampuan mereka untuk melakukan sesuatu, yang diterjemahkan menjadi kepercayaan diri dan, setelah dia berhasil, akan menjadi sebuah pencapaian dan kebanggaan.

Memilih permainan ‘bebas’

Bermain mandiri dan permainan yang tidak terstruktur sangat penting untuk menumbuhkan kreativitas, pemecahan masalah dan otonomi. Namun, sebagian besar anak prasekolah masih membutuhkan (dan menginginkan!) keterlibatan orang tua selama waktu bermain yang tidak terstruktur.

Tawarkan anak prasekolah berbagai bahan seni (krayon, spidol, kapur tulis, cat jari), bahan bangunan (balok mini, MagnaTiles, Lego) atau alat peraga permainan imajiner dan biarkan mereka membuat kerajinan atau permainan mereka sendiri! Parent juga bisa memasukkan bahan yang bukan mainan sama sekali. Bahan daur ulang dan daur ulang, seperti gulungan handuk kertas, tabung kopi, dan kotak sereal dapat digunakan berkali-kali. Gulungan handuk kertas bisa berupa teleskop, tabung, mobil, pesawat, tongkat ajaib. Kotak sereal bisa menjadi gudang untuk hewan, blok bangunan atau batu loncatan.

Amati anak dan perhatikan apa yang membuat mereka tertarik. Satu anak mungkin tertarik untuk menumpuk dan membangun, sementara yang lain ingin bermain rumah-rumahan. Gunakan pengamatan ini untuk memandu dan memperluas permainan mereka. Jika mereka tampak bingung, Parent dapat mencontohkan solusinya atau mengomentari tindakan mereka, lalu mendorong mereka untuk mencoba lagi sendiri.

Ketika Parent menonton, cobalah untuk tidak ikut campur ya 😊Parent mungkin mengomentari apa yang mereka lakukan dan memuji upaya mereka, tetapi jangan lakukan pekerjaan itu untuk mereka. Misalnya, jika mereka menumpuk kaleng, Parent bisa berkomentar, “Wah. Adek sedang membuat menara yang tinggi ya?”

Apa yang harus dikatakan saat mereka bekerja dan bermain

Selain memberikan kesempatan bagi anak untuk membangun kemandirian, penting bagi Parent untuk memberi tahu mereka bahwa Parent melihatnya — usaha mereka, kegigihan mereka, keberanian mereka, pertumbuhan mereka. Dengan menawarkan umpan balik verbal, Parent memberikan perhatian positif pada kualitas yang ingin Parent kembangkan pada anak dan membuat perilaku ini lebih mungkin terjadi lagi.

Apa yang kami sebut keterampilan “PRIDE” adalah strategi yang telah terbukti membantu meningkatkan perilaku positif pada anak kecil:

  • PRAISE: puji perilaku anak yang pantas. Ini membantu meningkatkan perilaku spesifik yang saat ini Parent kembangkan untuk mereka dan berkontribusi pada interaksi yang hangat dengan anak. Misalnya, "Bunda bangga dengan kakak karena tidak menyerah dengan teka-tekinya!"
  • REFLECT: mencerminkan ucapan yang sesuai. Ini membantu menunjukkan kepada anak bahwa Parent mendengarkan dan memahami mereka. Misalnya, anak berkata, “Bunda, kakak sedang membuat menara!” Parent kemudian bisa merespon dengan berkata, "Wah, iya benar, menaranya bagus ya, Kak!"
  • IMITATE (Imitasi) perilaku dan permainan yang sesuai. Ini memberikan perhatian positif (hadiah paling kuat) pada perilaku yang baik dan mendorong kerja sama. Misalnya, saat anak membangun menara, Parent juga mulai menumpuk balok.
  • DESCRIBE (Deskripsikan) perilaku anak yang sesuai. Ini memperkuat permainan positif anak dan menarik perhatian mereka ke sana. Parent mungkin berkata, "Bunda lihat, adek sedang menggambar Pelangi, ya!" atau, "Kami sedang membangun menara bersama."
  • Jadilah ENTHUSIASTIC (Antusias)! Hal ini membuat interaksi Parent terasa lebih hangat dan membuat anak menjadi tertarik. Misalnya, Parent dapat menggunakan suara yang lucu, melebih-lebihkan emosi saat berbicara, dan sering tersenyum.

Sampai jumpa di artikel selanjutnya 😊

Wassalam!

Referensi:

Levine A., Philips L. (8 Februari 2022). How to Build Independence in Preschoolers. Childmind.org. https://childmind.org/article/how-to-build-independence-in-preschoolers/#full_article.

 

 

 

Rabu, 01 Februari 2023

Yuk Parent Berkenalan dengan Tempramen Anak dan Bagaimana Menyikapinya dengan Bijak

Adam&Hawa

 Assalamu’alaikum, Parent! 😊

Jika mendengar kata tempramen, apa sih yang muncul pertama kali dalam benak Parent? Apakah tempramen merujuk pada karakter seseorang yang mudah tersulut emosi? Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, tempramen adalah sifat batin yang tetap mempengaruhi perbuatan, perasaan, dan pikiran. Sedangkan sinonim atau persamaan katanya adalah bawaan; hati; karakter; kepribadian, perangai; perilaku dan lain-lain. Apa pentingnya mengetahui tempramen pada anak? Yuk Parent langsung disimak ya pembahasannya.

Tempramen pada anak bisa diartikan sebagai cara mereka memberikan respon terhadap lingkungan sekitar. Ketika berbicara tentang tempramen pada anak-anak, Parent dapat menentukannya berdasarkan seberapa banyak dan sedikit mereka menunjukkan respon terhadap tiga acuan dibawah ini:

  • Reactivity (reaktivitas): ini adalah seberapa kuat reaksi anak-anak terhadap hal-hal seperti peristiwa yang menyenangkan atau ketika mereka tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan. Anak yang reaktif cenderung merasakan sesuatu dengan kuat.
  • Self-regulation (pengendalian diri): ini adalah seberapa banyak anak dapat mengontrol perilaku mereka, termasuk cara mereka menunjukkan perasaan mereka. Ini juga tentang seberapa banyak anak dapat mengontrol perhatian mereka dan seberapa gigih mereka terhadap sesuatu.
  • Sociability (kemampuan bersosialisasi): ini adalah seberapa nyaman anak-anak ketika mereka bertemu orang baru atau memiliki pengalaman baru.

Anak-anak terlahir dengan temperamennya masing-masing, dan Parent mungkin sudah bisa menggambarkan dan mengetahui temperamen anak-anak sejak mereka masih bayi. Misalnya, kakak Adam adalah anak yang mudah berteman’ atau 'Hawa menyukai rutinitas'.

Point pentingnya adalah, perbedaan temperamen menjelaskan mengapa anak-anak sangat berbeda satu sama lain bahkan walaupun mereka bersaudara. Misalnya, Parent mungkin akan menemukan bahwa tempramen si kakak lebih atau kurang reaktif, lebih atau kurang mengatur diri sendiri, dan lebih atau kurang mudah bergaul.

Menyesuaikan pola asuh Parent dengan temperamen anak

Faktanya, karena tempramen merupakan sifat yang dibawa anak sejak lahir, maka tempramen tidak bisa. Namun Parent jangan menjadikan ini sebagai alasan untuk berhenti dan tidak menyukai mereka ya. Setiap anak unik dengan karakter mereka masing-masing dan itu cukup.

Namun jangan khawatir kok Parent karena walaupun begitu Parent tetap dapat memupuk perkembangan anak dengan menyesuaikan pola asuh dengan temperamen anakParent dapat membantu anak untuk mengembangkan bagian positif dari temperamen yang mereka miliki. Parent juga dapat memahami situasi yang mungkin sulit bagi anak karena temperamen mereka, dan membantu mereka belajar bagaimana menangani situasi tersebut.

Berikut ini adalah beberapa ide untuk menyesuaikan pola asuh sesuai dengan tempramen anak.

Pola asuh untuk tempramen yang lebih reaktif dan kurang reakitf

Lebih reaktif

Jika Parent memiliki anak yang sangat reaktif, mereka mungkin akan sangat senang ketika sesuatu yang baik terjadi. Tetapi di lain sisi anak mungkin juga akan menjadi keras dan dramatis ketika mereka tidak senang tentang sesuatu, seperti tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan. Sehingga Parent harus bisa untuk membantu anak belajar bagaimana caranya merespon sesuatu dengan lebih tenang – misalnya, dengan santai dan menggunakan kata-kata ketika mereka marah –namun tentunya yang tidak sampai mengeluarkan kata-kata yang artinya tidak baik ya Parent.

Anak-anak reaktif seringkali juga sangat aktif secara fisik dan mungkin memerlukan banyak waktu di luar ruangan. Parent dapat membantu perkembangan anak dengan mendorong mereka untuk mencoba aktivitas olahraga baru, misalnya. Tetapi anak mungkin juga membutuhkan bantuan untuk menenangkan diri. Dalam hal ini Parent boleh mengenalkan rutinitas baru sebelum tidur yaitu semacam relaksasi –ajak anak berkomunikasi sebelum tidur.

Kurang reaktif

Anak yang kurang reaktif biasanya mudah bergaul, tetapi mungkin kurang asertif. Parent mungkin perlu membantu anak untuk belajar bagaimana membela dirinya sendiri. Misalnya, jika Parent memperhatikan situasi di mana anak bisa merespon dengan asertif, Parent bisa melatih mereka untuk menangani situasi tersebut secara berbeda.

Hal penting lainnya adalah memastikan anak-anak yang kurang reaktif agar tidak ketinggalan dalam menyampaikan pendapat mereka di rumah keluarga. Misalnya, ketika Parent menentukan untuk perfi berlibur ke suatu tempat, ajak mereka berbicara –apakah mereka menyukai tempatnya atau ada hal-hal yang ingin mereka lakukan selain berlibur.

Anak-anak yang kurang reaktif mungkin juga akan kurang aktif secara fisik. Anak yang kurang aktif akan lebih bahagia dengan banyak kesempatan untuk menggunakan keterampilan motorik halusnya, seperti mengerjakan kerajinan tangan atau menggambar. Tapi Parent tetap harus mendorong mereka untuk melakukan aktivitas fisik. Jika mereka nyaman melakukan kerajinan, cobalah ajak mereka untuk jalan-jalan ke taman untuk mengumpulkan dedaunan untuk kolase, misalnya.

Pola asuh untuk tempramen anak yang memiliki pengendalian diri yang besar dan tidak

Pandai mengendalikan diri

Anak-anak yang merasa lebih mudah mengendalikan diri sendiri pandai untuk tetap tenang ketika mereka merasakan emosi seperti frustrasi atau kegembiraan. Mereka bisa lebih cepat tenang setelah sesuatu yang menyenangkan atau menjengkelkan, dan mereka kurang impulsif.

Seorang anak yang memiliki pengendalian diri yang baik mungkin juga lebih mampu mengatur perhatiannya. Misalnya, mereka mungkin akan terus melakukan sesuatu sampai benar. Mereka mungkin juga pandai mengatasi kemunduran dan mampu menyelesaikan tugas-tugas seperti pekerjaan rumah tanpa harus diawasi. Tetapi mereka mungkin tipe yang sedikit perfeksionis, jadi hal yang harus Parent lakukan adalah pastikan mereka tahu bahwa membuat kesalahan itu tidak apa-apa.

Kurang mampu mengendalikan diri

Jika anak kesulitan mengendalikan perhatiannya, mereka akan membutuhkan banyak dorongan untuk terus mengerjakan tugas terutama yang sulit. Anak-anak ini mungkin dapat beralih dengan mudah dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya. Walaupun begitu mereka juga bisa sangat kreatif. Untuk membantu anak agar merek bisa memiliki fokus, Parent dapat mencoba memberi hadiah kepada mereka atau membuat hal-hal menyenangkan dengan menggunakan permainan dan aktivitas yang membutuhkan kreatifitas.

Mengasuh anak dengan temperamen yang kurang mampu berteman

Lebih mudah berteman

Jika anak sangat mudah untuk bersosialisasi dengan orang lain, mereka akan suka berada di sekitar orang lain, bermain bersama, dan melakukan aktivitas kelompok. Tetapi hal yang harus Parent ingat adalah tidak mengatur waktu bermain dan aktivitas kelompok untuk anak sepanjang waktu untuk, karena penting juga bagi anak untuk belajar melakukan hal-hal sendiri.

Anak-anak dengan temperamen yang lebih ramah juga biasanya sangat mudah beradaptasi dan dapat mengatasi perubahan rutinitas dengan cukup mudah. Sangat bagus jika Parent dapat memberikan banyak pengalaman baru kepada anak yang dapat beradaptasi, tetapi pastikan anak masih mendapatkan waktu berdua dengan Parent ya.

Cenderung tertutup

Jika anak tidak terlalu suka bersosialisasi atau cenderung tertutup, mereka mungkin cukup pandai bermain sendiri dan mungkin tidak memerlukan banyak bantuan untuk menemukan sesuatu untuk dilakukan. Tetapi Parent perlu membantu anak bagaimana caranya mendapatkan teman baru. Jika anak tidak nyaman dalam kelompok atau pesta, misalnya, sebagai langkah awal Parent dapat mencoba mengajak satu atau dua teman untuk bermain di rumah atau di taman Parent.

Anak yang kurang bersosialisasi biasanya juga tidak terlalu mudah beradaptasi, mereka akan menyukai rutinitas yang teratur, dan mungkin tidak dapat mengatasi perubahan dengan baik. Ini dapat memudahkan Parent untuk merencanakan rutinitas anak, tetapi anak Parent harus membantu mereka untuk menghadapi perubahan atau transisi sebuah keadaan.

Sangatlah mungkin jika temperamen anak berbeda dengan orang tua mereka. Beberapa orang tua merasa lebih mudah untuk memahami dan mengasuh anak yang temperamennya mirip dengan mereka. Misalnya, jika Parent menyukai sesuatu yang pasti dan keteraturan, Parent akan lebih mudah merawat bayi yang membutuhkan tidur yang teratur. Tetapi jika Parent suka melakukan hal-hal tanpa terlalu terikat dengan waktu, Parent perlu beberapa saat untuk membiasakan diri dengan rutinitas yang disukai anak.

Bagaimana temperamen bisa berubah

Parent mungkin melihat beberapa perubahan pada temperamen anak saat mereka menjadi lebih dewasa. Ini terjadi karena pengalaman anak memengaruhi cara mereka berperilaku dalam situasi yang berbeda.

Misalnya, seorang anak yang dulunya sangat mudah terganggu di sekolah mungkin menjadi orang dewasa yang dapat berkonsentrasi dengan baik dalam rapat bisnis. Hal ini mungkin karena mereka telah mengembangkan dan memiliki motivasi yang kuat seirung mereka dewasa, atau karena mereka telah mempelajari strategi untuk bagaimana harus bersikap terhadap gangguan.

Bagaimana pun tempramen yang dimiliki anak, pastikan Parent terus membersamai mereka ya dan sekali pun jangan menyalahkan atau membandingkan mereka baik dengan saudara maupun sebaya mereka. Berikan dukungan dan bantu mereka untuk mengembangkan hal-hal yang menjadi kelebihan mereka.

Sampai jumpa di artikel selanjutnya 😊

Wassalam!

Referensi:

Temperament: what it is and why it matters. Raisingchildren.net.au, https://raisingchildren.net.au/newborns/behaviour/understanding-behaviour/temperament. Diakses pada 1 Februari 2023

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Kbbi.we.id, https://kbbi.web.id/temperamen. Diakses pada 1 Februari 2023